Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM DESEMBER 2020
12 Jan 2021 • Dibaca : 32 x ,

Peningkatan Hujan Terkonsentrasi di Barat Indonesia

Ringkasan

Pada bulan Januari, peningkatan hujan terjadi secara merata di sebagian besar wilayah selatan Indonesia, yaitu: Sumatera bagian selatan, Jawa, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi bagian selatan, Bali, Lombok, Nusa Tenggara dan sekitarnya. Peningkatan hujan tersebut dipengaruhi oleh penguatan angin monsun Asia karena pendinginan SPL di Laut Tiongkok Selatan (LTS), pembentukan angin utaraan di sekitar Selat Karimata (CENS), vorteks Borneo, dan vorteks lainnya di Belahan Bumi Selatan (BBS) di Samudra Hindia dan dekat Australia. Kondisi ini menyebabkan pembelokan angin monsun utaraan menjadi baratan terjadi sangat kuat sehingga distribusi uap air terjadi secara masif dari barat ke timur dalam waktu yang relatif singkat ke seluruh wilayah di selatan ekuator.

Prediksi hujan dan angin bulan Februari 2021 menunjukkan hujan masih terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia dengan intensitas sedang hingga tinggi, dengan kecenderungan terjadi pengurangan hujan pada 10-28 Februari 2021. Pada bulan Maret 2021, peningkatan hujan akan terjadi kembali di sebagian besar wilayah Indonesia, khususnya Pulau Jawa.

Catatan penting selama bulan Januari yaitu bencana terkait hidrometeorologi yang terjadi secara beruntun, berupa: banjir di Sulawesi Tenggara, banjir di Kalimantan Selatan, kecelakaan pesawat Sriwijaya Air di Kepulauan Seribu yang memiliki keterkaitan dengan anomali cuaca, banjir di Sumedang, banjir di pesisir utara Jawa bagian tengah (Pekalongan, Kudus, Jepara), pesisir selatan Jawa Timur (Jember, Banyuwangi), Lombok, Nusa Tenggara.

Variabilitas Bulanan Kondisi Atmosfer dan Laut

Pada bulan Desember 2020 dan Januari 2021, hujan maksimum terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia terutama di bagian selatan Indonesia. Peningkatan hujan selama bulan Desember dan Januari terjadi baik di daratan maupun lautan di selatan Indonesia terutama di bagian barat (Jawa dan selatan Sumatra), jika dibandingkan dengan klimatologisnya (Gambar 1). Pada bulan Januari terdapat peningkatan yang lebih merata di daratan dan lautan barat Indonesia (Laut Jawa, Selat Karimata, Selat Sunda, LTS).      

Gambar 1. Hujan bulanan berdasarkan data GsMAP pada bulan Desember (kiri-atas), Januari (kiri-tengah) dan klimatologisnya masing-masing (kanan-atas dan tengah) serta total kandungan uap air selama bulan Januari 2021.

Peningkatan hujan pada bulan Januari di barat-selatan Indonesia ini terjadi karena penguatan angin baratan yang berasal dari Samudra Hindia, sebagai akibat dari maraknya kejadian vorteks di selatan Samudra Hindia selama bulan Januari. Selain itu, angin timuran juga mengalami penguatan di bagian timur Indonesia (Samudra Pasifik utara Papua) sehingga mengakibatkan konvergensi skala luas terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia (Gambar 2-kanan, atas).

Dalam hal ini, peningkatan hujan di barat Indonesia dikonfirmasi oleh aktivitas awan yang tinggi (Gambar 2-tengah). Sementara itu, aktivitas pembentukan awan juga terjadi di bagian timur (perairan Maluku dan sekitarnya serta Papua) karena intrusi kelembapan dari Samudra Pasifik bagian utara yang ditunjukkan oleh penguatan angin timuran dan penghangatan suhu permukan laut (SPL) di perairan timur Indonesia (Gambar 3-kanan, bawah).

Gambar 2. Sama seperti Gambar 1, tetapi untuk angin ketinggian 850 mb (kiri-atas), SPL (kiri-tengah), OLR (kiri-bawah) dan anomalinya masing-masing (kanan).

Variabilitas Dasarian Kondisi Atmosfer dan Laut

Untuk mengetahui perubahan dalam skala 10-harian selama Januari 2021, selanjutnya dilakukan analisis terhadap data dasarian berbagai parameter atmosfer dan laut. Selama bulan Desember 2020, wilayah konvergensi terpusat di selatan Indonesia, dengan maksimum hujan terjadi di Laut Jawa untuk dasarian I dan II bulan Desember 2020 (Gambar 3-kiri, atas dan tengah). Perubahan pola spasial hujan di selatan tersebut tampak pada dasarian III dengan pengurangan hujan di Laut Jawa terjadi secara maksimal. Demikian juga pengurangan hujan juga terjadi bagian timur Indonesia, dibandingkan dasarian I dan II (Gambar 3-kiri, bawah).

Untuk bulan Januari 2021 (Gambar 3-kanan), peningkatan hujan terjadi secara signifikan dari periode awal hingga akhir Januari 2021 di selatan Indonesia. Hal ini terlihat dari wilayah konvergensi antar-Tropis (I) yang membentang dari barat (Samudra Hindia) ke timur (perairan timur Papua) di selatan Indonesia. Peningkatan maksimum hujan di selatan Indonesia terjadi pada periode dasarian III bulan Januari 2021 (Gambar 3-kanan, bawah). Hasil pengamatan ini mengonfirmasi hasil prediksi model CCAM yang telah dirilis oleh PSTA pada Oktober 2020, yang menunjukkan bahwa hujan maksimum di selatan (Jawa dan sekitarnya) terjadi pada dasarian III Januari 2021 (gambar tidak ditampilkan).

Gambar 3. Hujan dasarian pada bulan Desember 2020 (kiri) dan Januari 2021 (kanan).

Peningkatan maksimum hujan yang terjadi pada dasarian III Januari 2021 ini terjadi karena terdapat pembentukan vorteks di selatan Samudra Hindia yang memperkuat angin monsun Asia di selatan Indonesia (Gambar 4-kiri, bawah). Awal pertumbuhan vorteks tersebut sudah dapat diidentifikasi sejak dasarian II Januari 2021 (Gambar 4-kiri, tengah). Keberadaan vorteks ini tak hanya memperkuat angin monsun baratan di bagian barat Indonesia, namun juga terjadi hingga bagian timur Indonesia (Gambar 4-kiri, bawah) karena pembentukan vorteks lain atau depresi tropis di Australia.

Kondisi ini ditunjukkan oleh pertumbuhan aktivitas awan konvektif yang terjadi secara signifikan dan masif merata ke seluruh wilayah Indonesia pada dasarian III (Gambar 4-kanan, bawah). Peningkatan aktivitas awan di Indonesia ini terjadi secara gradual dari dasarian II dengan penguatan pertumbuhan awan terjadi di bagian barat dan timur, selanjutnya di bagian tengah (Gambar 4-kanan, tengah), lalu terjadi secara merata di seluruh wilayah Indonesia (Gambar 4-kanan, bawah).

Gambar 4. Angin (kiri) dan OLR (kanan) dasarian selama bulan Januari 2021.

Analisis Indeks Global (Monsun, ENSO, IODM, MJO, CCEW)

Selama bulan Januari 2021, angin monsun Asia menunjukkan kondisi normal yang terlihat sebagai angin baratan di sebagian besar wilayah Indonesia (60-120oBT). Meskipun demikian, pada pertengahan Januari tampak terjadi anomali angin baratan hingga mencapai kecepatan antara 8-12 m/det di barat Indonesia. Penguatan monsun Asia di barat Indonesia tersebut terjadi karena dinamika pembentukan vorteks di Samudra Hindia.

Sementara itu, pengamatan terhadap aktivitas gelombang Madden Julian Oscillation (MJO) menunjukkan bahwa MJO aktif di Samudra Hindia selama periode 5-16 Januari 2021. Setelah itu MJO telah bergeser ke Samudra Pasifik, sehingga dalam hal ini tidak ada kontribusi MJO dalam meningkatkan aktivitas konvektif di wilayah Indonesia selama dasarian III Januari 2021.

Gambar 5. Area indeks Dipole Mode, ENSO, SCS Angin (atas) dan deret waktu ketiga indeks tersebut (bawah) dari 1 Desember 2020 - 31 Januari 2021.

Untuk indeks ENSO dan IODM, Gambar 5 menunjukkan selama bulan Januari 2021 telah berlangsung La-Niña kategori moderat hingga kuat (-0,8 hingga -1,2oC). Sementara itu, IODM berada dalam kondisi netral bahkan cenderung berada pada menuju positif pada pertengahan hingga akhir Januari. Peningkatan IODM yang cenderung menuju fase positif ini telah melemahkan indeks La-Niña sehingga mengalami penurunan dari pertengahan hingga akhir Januari (-0,8oC).

Di sisi lain, telah terjadi pendinginan SPL di Laut Tiongkok Selatan (LTS) yang disebut juga dengan Cold Tongue (SCS-CT) sejak pertengahan Januari. Penguataan sinyal SCS-CT ini mencapai maksimum sejak 20-31 Januri (-0,6 sampai -0,8oC). Kondisi ini menimbulkan pusat tekanan tinggi di LTS sehingga dapat membangkitkan angin utaraan lokal (CENS) yang berasosiasi dengan penguatan aktivitas konvektif dan peningkatan hujan selama periode dasarian Januari. Hal ini dikonfirmasi dengan penguatan indeks CENS yang terjadi selama periode tersebut (Gambar tidak ditampilan). Selain pengaruh pendinginan SCS-CT yang berpengaruh terhadap pergerakan konvektif secara meridional dari LTS menuju Jawa, peningkatan hujan di Kalimantan dan Jawa juga dipengaruhi oleh aktivitas gelombang Kelvin yang terjadi pada 21-26 Januari 2021 (Gambar 6)

Gambar 6. Hovmöller diagram kandungan uap air dari 23 Oktober 2020 sampai 31 Januari 2021

Prediksi Hujan dan Angin

Peningkatan hujan selama periode dasarian III bulan Januari 2021 yang disebabkan oleh sinyal penguatan indeks CENS telah terprediksi sebelumnya oleh model CCAM pada bulan September 2020. Prediksi hujan dan angin bulanan secara umum menunjukkan bahwa pada bulan Februari akan terjadi penurunan hujan namun pada bulan Maret peningkatan hujan akan terjadi kembali di sebagian besar wilayah Indonesia (Gambar 7).

Dalam prediksi dasarian tampak bahwa peningkatan hujan pada dasarian III Januari berasosiasi dengan pembentukan wilayah konvergensi yang luas dan memanjang dari barat ke timur karena terdapat pembentukan vorteks di Belahan Bumi Selatan dekat Australia (Gambar 8). Dinamika vorteks yang terjadi di BBS serta vorteks Borneo  selama Januari dapat diprediksi dengan baik oleh model CCAM.

Gambar 7. Prediksi hujan dan angin berdasarkan model CCAM dengan kondisi inisial bulan Desember 2021.

Prediksi Awal Musim Hujan

Probabilitas musim hujan di wilayah Indonesia diprediksi masih akan berlangsung sampai bulan April 2021. Kawasan di Nusa Tenggara kemungkinan mengalami peralihan ke musim kemarau pada bulan Mei 2021 dan Jawa dan sebagian Sumatra pada bulan Juni 2021.

Dalam hal ini, hujan di atas 5 mm/hari merupakan ekuivalen dari akumulasi curah hujan dasarian 50 mm, yang merupakan indikasi musim hujan masih berlangsung. Sedangkan curah hujan di atas 10 mm/hari merupakan indikasi hujan deras. Model System 5 dari ECMWF menggunakan ensemble 51 anggota dengan resolusi 1 derajat, baik secara meridional maupun zonal.

Gambar 8. Prediksi hujan dan angin dasarian berdasarkan model CCAM dengan kondisi inisial September 2020.

Gambar 9. Probabilitas curah hujan di atas 5 mm/hari dari bulan Januari sampai dengan Juni 2021 dari model prediksi System 5 ECMWF.

Potensi Kejadian Ekstrem

Potensi kejadian ekstrem dianalisis dari dua parameter yaitu peluang terjadinya hujan deras dan angin kencang. Hujan deras deras (lebih dari 10 mm/hari) diprediksi terjadi (lebih dari 90% kemungkinannya) di Jawa Tengah, sebagian Jawa Barat, dan bagian timur Jawa Timur pada bulan Januari hingga Maret 2021 (Gambar 10). Di wilayah pegunungan Papua, sebagian Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara, hujan deras juga diprediksi dapat terjadi hingga Mei 2021.

Selain hujan deras, parameter lain yang dapat menimbulkan kejadian ekstrem adalah angin kencang. Dalam hal ini, kecepatan angin di atas 10.8 m/detik (22 knot) dalam skala Beaufort dikategorikan sebagai strong breeze. Angin dengan kecepatan lebih dari 22 knot dapat menyebabkan ketinggian gelombang laut antara 3 - 4 m dan cabang-cabang pohon yang besar mulai bergoyang.

Gambar 11 menunjukkan bahwa pada bulan Januari sampai Maret 2021, probabilitas angin kencang ini terjadi sangat mungkin terjadi (> 90%) di atas LTS dan Laut Jawa. Para pegiat pelayaran (nelayan dan transportasi laut lainnya) yang melalui Laut Jawa diharapkan dapat mewaspadai kecepatan angin ini dan kemungkinan terjadinya gelombang tinggi.

Gambar 10. Probabilitas curah hujan di atas 10 mm/day dari bulan Januari sampai dengan bulan Juni 2021 dari model prediksi System 5 ECMWF.

Gambar 11. Probabilitas laju angin permukaan (10 m di atas permukaan) yang lebih dari 10.8 m/detik (22 knot) dari bulan Januari sampai dengan bulan Juni 2021 dari model prediksi System 5 ECMWF.

Kesimpulan

Variabilitas iklim Desember 2020-Januari 2021 menunjukkan peningkatan hujan terjadi secara merata di seluruh wilayah Indonesia, dengan puncak terjadi pada dasarian III Januari 2021. Peningkatan hujan ini terjadi karena pembentukan vorteks di Samudra Hindia yang memperkuat angin monsun baratan dan keberadaan vorteks di bagian timur dekat Australia telah membangkitkan wilayah konvergensi di selatan Indonesia yang membentang dari barat ke timur. Pendinginan SPL di LTS yang dikenal dengan sebutan Cold Tongue (SCS-CT) juga telah membangkitkan daerah tekanan tinggi di LTS yang memicu penguatan angin utaraan atau disebut CENS yang juga berperan memperkuat angin monsun yang menuju wilayah Jawa dan sekitarnya. Selain itu, aktivitas gelombang Kelvin yang bersamaan dengan vorteks Borneo terjadi pada pertengahan Januari 2021 dan telah memicu hujan ekstrem (>200 mm/hari) di Kalimantan Selatan sehingga menimbulkan banjir yang parah dan luas di wilayah tersebut.

Prediksi hujan dan angin pada Februari-April 2021 menunjukkan terjadi penurunan hujan selama bulan Februari, namun peningkatan hujan yang cenderung terkonsentrasi di darat akan terjadi selama bulan Maret 2021 di sebagian besar wilayah Indonesia. Musim hujan diprediksi akan berkepanjangan hingga bulan April 2021. Potensi kejadian ekstrem berupa hujan deras diprediksi terjadi di sebagian besar Jawa hingga Maret 2021 dan untuk Papua dan Sulawesi dapat terjadi hingga Mei 2021. Sementara itu, kejadian ekstrem yang dipicu oleh angin kencang diprediksi berlangsung hingga bulan Maret 2021 di kawasan LTS dan Laut Jawa.

Penulis: Erma Yulihastin, Suaydhi, Rahaden B. Hatmaja, Gammamerdianti, Eka Putri Wulandari, Noersomadi, Haries Satyawardhana, Iis Sofiati, Lely Qodrita Avia.

Pengarah dan Penanggungjawab: Didi Satiadi dan Lilik Slamet.

Editor, Layout, dan Humas untuk Medsos: Christine Munthe, Muhtar Gunawan.








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL