Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM OKTOBER 2020
10 Nov 2020 • Dibaca : 338 x ,

Kondisi Atmosfer Pada Bulan September-Oktober 2020

Analisis bulanan kondisi atmosfer

Suhu permukaan laut (SPL) di wilayah Indonesia pada Oktober 2020 mengalami peningkatan hampir di seluruh wilayah kecuali perairan Sumatera Utara yang mengalami penurunan SPL. Hal ini merupakan implikasi dari wilayah Laut Tiongkok Selatan yang juga mengalami penurunan SPL pada Oktober 2020 dibanding September 2020.  Sebaliknya, SPL di wilayah Samudra Pasifik mengalami peningkatan hingga 310C.  Monsoon Australia masih cukup aktif pada Bulan September 2020 namun sudah mengalami pelemahan karena peningkatan intensitas monsoon Asia. Pembentukan awan konvektif meningkat di wilayah Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Laut Tiongkok Selatan. Sedangkan, wilayah Selatan Indonesia tetap memiliki tingkat konvergensi rendah, ditandai dengan area yang bernilai OLR tinggi (Gambar 1).

Gambar 1. Kondisi angin di level 850 mb, SPL dan OLR bulan September dan Oktober 2020 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Peningkatan area konvergensi di Laut Tiongok Selatan berdampak pada perluasan area hujan di sebagian wilayah Indonesia dibanding Bulan September 2020. Peningkatan curah hujan terjadi di Laut Jawa, Pulau Jawa, dan Sulawesi.  Peningkatan curah hujan signifikan terjadi di Laut Tiongkok Selatan dan berdampak pada perubahan curah hujan di Indonesia menjadi lebih merata dibanding bulan September 2020. Sebagian besar wilayah Indonesia memiliki total curah hujan 250-500 mm pada bulan ini kecuali Kepulauan Nusa Tenggara dengan curah hujan lebih rendah kurang dari 50 mm/bulan serta pesisir Sumatra Barat dengan curah hujan lebih dari 750 mm/bulan (Gambar 2).

Gambar 2. Akumulasi curah hujan (mm) di wilayah Indonesia pada bulan September dan Oktober 2020berdasarkan data GSMaP.

Data CPC hingga Oktober 2020 menunjukkan kecenderungan kondisi ENSO negatif yang berlangsung sejak Bulan Juni 2020, nilai anomali SST di wilayah Nino 3.4 kurang dari -0.4 selama 3 bulan terakhir menunjukkan indikasi kondisi La Nina Kuat. Kondisi ini diprediksi berlangsung hingga Februari 2021 dengan probabilitas lebih dari 90% dan berangsur menuju netral pada Maret hingga Juli 2021.

Selain itu, menurut data index Indian Ocean Dipole (IOD) dari BOM Australia, kondisi IOD rata-rata pada bulan Agustus 2020 menunjukkan kondisi netral namun memiliki tren naik dan diprediksi nilai IOD positif pada Maret 2021.

Analisis per dasarian (10 harian) bulan Oktober 2020

Pada September 2020, aktivitas MJO dimulai pada fase 5 di dasarian I dan II, serta fase 5, 6, dan 7 pada dasarian III. Pada dasarian I, MJO bergerak dari intensitas lemah dan menguat hingga pertengahan dasarian II. Intensitas MJO tetap kuat hingga awal dasarian III di atas Benua Maritim Indonesia, dan melemah saat memasuki fase 6 dan 7 pada akhir Oktober 2020.

Selama Bulan Oktober 2020 curah hujan merata di sebagian besar wilayah Indonesia. Terdapat curah hujan yang sangat tinggi di wilayah Laut Tiongkok Selatan terutama pada dasarian II. Hal ini disebabkan aktifnya beberapa monsoon di wilayah tersebut dan berakibat pada pergeseran area korvengensi ditandai dengan pergeseran wilayah dengan nilai OLR rendah. Bergesernya area korvengensi berpengaruh terhadap perubahan curah hujan di Indonesia. Pada dasarian I, curah hujan tinggi di wilayah Pulau Sumatra dan Pesisir Barat Sumatra. Pada dasarian II terjadi penurunan curah hujan yang cukup signifikan di Pesisir Barat Sumatra, namun sebaliknya curah hujan di wilayah Kalimantan dan Papua meningkat dibanding dasarian I. Beberapa wilayah mengalami peningkatan curah hujan pada dasarian III diantaranya, Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Papua seiring dengan pengurangan intensitas konvergensi di Laut Tiongkok Selatan (Gambar 3).

Gambar 3. Kondisi CH (GSMaP) dan OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dasarian bulan Oktober 2020.

Prediksi Curah Hujan untuk Beberapa Bulan Mendatang di Indonesia

Menurut hasil prediksi curah hujan untuk bulan November 2020 – Maret 2021 menggunakan data luaranConformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition 1 November 2020, dan menggunakan data prediksi SPL POAMA m24b_e02 20 September 2020 pada Gambar 4.

Monsun Asia yang muncul pada Bulan Oktober 2020 (pada laporan variabilitas iklim sebelumnya: Oktober 2020), mulai berangsur-angsur aktif pada November 2020. Hal ini menyebabkan daerah Indonesia bagian selatan mengalami musim hujan yang ditandai dengan curah hujan tinggi di beberapa daerah tersebut. Curah hujan yang tinggi di daerah Indonesia bagian selatan diprediksi terjadi hingga Desember 2020, mengalami puncak curah hujan pada Januari 2021 dan berangsur-angsur menurun pada Februari 2021.

Hasil prediksi menunjukkan peralihan angin, dari monsoon Asia ke monsoon Australia terlihat pada Bulan Maret 2021, meskipun di Indonesia bagian selatan masih terdapat curah hujan yang relative tinggi.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) 1 November 2020 dan SPL prediksi dari POAMA (m24b_e02) yang dikeluarkan pada tanggal 20 September 2020.

Tim Variabilitas Iklim 2020 – PSTA LAPAN:

(Haries Satyawardhana, Eka Putri Wulandari, Gammamerdianti)








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL