Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Kebakaran Hutan dan Dampaknya di Sumatera Selatan (part 2)
Penulis Berita : • Fotografer : • 12 Nov 2020 • Dibaca : 1164 x ,

PSTA-LAPAN melakukan penelitian lingkungan atmosfer khususnya kualitas udara dan pengembangan Sistem Informasi Komposisi Atmosfer Indonesia (SRIKANDI) berbasis web dari model atmosfer dan data satelit, sehingga membutuhkan data in situ dalam skala temporal yang tinggi untuk akurasi kinerja SRIKANDI. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Kepala PSTA-LAPAN, Didi Satiadi melalui paparan virtual pada FGD bertajuk “Kebakaran Hutan dan Dampaknya di Sumatera Selatan (part 2)" Rabu, (11/11).

Oleh karena itu perlu kerjasama antara PSTA dan Provinsi Sumatera Selatan dalam melengkapi data tersebut, menurut Didi, untuk kepentingan bersama dalam meminimalisasi dampak kebakaran hutan.

Setiap elemen bangsa, tambah Didi, perlu memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian hutan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Oleh karena itu, kata Didi, masyarakat dan pemerintah harus menjalin kerjasama yang baik, jelasnya. "Terciptanya kestabilan hutan mempunyai fungsi terhadap ekonomi, ekologis, dan estetika", Ungkap Doktor lulusan S3 Physics-Universitas Of Wales Aberystwyth, United Kingdom tersebut.

FGD SATELIT#10 atau Focus Group Discussion Sains Atmosfer seputar Teknologi, Lingkungan, dan Iklim Terkini Seri 10 merupakan rangkaian kegiatan webinar berseri yang diselenggarakan oleh PSTA-LAPAN, Rabu, (11/11). Deputi Bidang Sains Antariksa dan Atmosfer LAPAN, Ir. Halimurrahman, MT. hadir membuka acara tersebut.

Melalui media virtual zoom meeting dan tayang di kanal youtube PSTA-LAPAN, FGD tersebut menghadirkan para pembicara ahli seperti Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Provinsi Sumatera Selatan, Ansori yang memaparkan tentang Kebakaran Hutan dan Dampaknya di Sumatera Selatan.

Keberhasilan dalam rangka pengendalian kebakaran hutan dan lahan sangat tergantung dari komitmen dan peran serta para pihak terkait, jelas Ansori, menurut alumni lulusan Ilmu Kesejahteraan Sosial STISIPOL Candradimuka Palembang ini, pengendalian kebakaran hutan dan lahan adalah tanggungjawab semua pihak baik Pemerintah, Masyarakat, maupun Swasta. Dengan terkendalinya kebakaran hutan dan lahan, kata Ansori, maka permasalahan asap yang selalu terjadi pada musim kemarau akan dapat teratasi, tutur Ansori.

Peneliti PSTA-LAPAN, Ninong Komala memaparkan tentang Pengaruh Kebakaran Hutan terhadap Komposisi Atmosfer Sumatera Selatan. Dijelaskan oleh Ninong, bahwa time series parameter atmosfer Sumatera Selatan 2003-2020 mempunyai variasi tahunan, menurut profesor riset LAPAN Bidang Lingkungan Atmosfer dan Aplikasinya ini, pada 2006 dan 2015 konsentrasi ozon, CO, dan CH4 mempunyai perubahan/kenaikan konsentrasi pada saat peristiwa kebakaran hutan. "CO di Sumatera Selatan pada 2015 lebih tinggi dibanding 2006", tegasnya. Diduga kebakaran hutan 2015 lebih besar dibanding 2006 dan uap air 2015 lebih rendah dari 2006, pungkas Ninong.

Peneliti PSTA-LAPAN, Sumaryati memaparkan tentang Penyebaran Asap Pada Saat Kebakaran Hutan di Sumatera Selatan. Kualitas (polusi) udara ambien, kata Sumaryati, selain ditentukan oleh besarnya emisi juga ditentukan bagaimana kondisi cuaca (meteorologi). Lebih lanjut Sumaryati menjelaskan bahwa pengelolaan kualitas udara di Indonesia, ungkap lulusan Teknik Lingkungan ITB tersebut, masih fokus pada jumlah emisi dan belum memanfaatkan karakter cuaca yang dapat dimanfaatkan untuk pengelolaan udara seperti tata ruang, tinggi cerobong dan waktu pelepasan polutan (industri) jika memungkinkan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan, Listiadin Martin memaparkan tentang Konsep dan Strategi Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan Kabupaten OKI. Kemajuan teknologi melalui monitoring satelit, prakiraan cuaca BMKG, dan pemantauan kekeringan gambut serta upaya-upaya mitigasi dari berbagai lembaga termasuk aplikasi satelit, jelas Lustiadin, sangat membantu dalam upaya mitigasi dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Kedepan, harap Listiadin, sangat perlu ditingkatkan dan disederhanakan (teknologi) serta publikasi lebih luas agar dapat diakses masyarakat.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, Ferry Yanuar menyampaikan bahasan tentang Dampak Buruk Kabut Asap Terhadap Kesehatan Masyarakat di Provinsi Sumatera Selatan. Dijelaskan oleh lulusan kesmas FKM UI tersebut bahwa penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) merupakan penyakit infeksi akut yang selali ada sepanjang tahun, baik musim hujan maupun musim kemarau. Kata Ferry, bisa terjadi peningkatan ISPA bila ada pencemaran udara seperti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. "Dampak kabut asap terhadap kesehatan tergntung dari Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU)", ungkap Ferry. Perlu ditingkatkan upaya promosi dan edukasi kepada masyarakat untuk bisa mengurangi kejadian kebakaran hutan dan lahan, pungkas Ferry.

 

Humas : emge








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL