Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


SADEWA Untuk Mitigasi Bencana Hidrometeorologi
Penulis Berita : • Fotografer : • 06 Nov 2020 • Dibaca : 80 x ,

Wilayah indonesia sebagai benua maritim dengan ribuan pulau merupakan wilayah yang unik dan kompleks dilihat dari sudut pandang sains dan atmosfer. Berada di wilayah khatulistiwa serta dikelilingi lautan mendorong terjadinya proses aliran udara ke atas yang menyebabkan konvektif dan hujan. Sehingga banyak hujan yang turun termasuk di wilayah yang curam yang rawan menyebabkan longsor dan banjir untuk daerah yang lebih datar. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Kepala Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer LAPAN, Didi Satiadi, melalui paparan virtual pada Knowledge sharing DSS Untuk Mitigasi Bencana Hidrometeorologi Kamis (5/11).

 

Wilayah Indonesia merupakan penghasil awan dan hujan terbesar di dunia, menurut Didi, curah hujan di Indonesia memiliki karakteristik kekritisan yang diatur sendiri. Sehingga, menyebabkan hampir 80% hujan yang diturunkan dalam 20% kejadian. Tegasnya, kita perlu waspada terhadap kejadian-kejadian ekstrim yang dapat menimbulkan bencana hidrometeorologis yang frekuensinya lebih sering daripada bencana geologis.

 

LAPAN dalam hal ini PSTA, tambah Didi, berkontribusi melalui pemantauan dan prediksi kondisi atmosfer yang berpotensi menimbulkan bencana. Sebagai lembaga litbang, imbuhnya lagi, PSTA-LAPAN mendukung upaya pemerintah melalui kementerian/lembaga terkait melalui kegiatan penelitian dan pengembangan yang disebut Decission Support System (DSS) atau sistem pendukung keputusan.

 

Setiap kementerian/lembaga mempunyai kewajiban terhadap keselamatan masyarakat, tutur Didi, dengan memberikan peringatan dini dan juga penanggulangan terhadap bencana hidrometeorogis. Berkenaan dengan bencana, ada beberapa hal yang dapat dilakukan, terang Didi, menghindari bencana, kemudian mitigasi atau pengurangan dampak dari bencana, pengendalian dampak, dan memindahkan resiko bencana ke tempat lainnya. 

 

PSTA-LAPAN, kata Didi, memberi dukungan kepada kementerian dan lembaga operasional terkait untuk mendukung kinerja pembangunan diberbagai sektor misalnya pertanian, energi, transportasi, lingkungan, kesehatan termasuk kebencanaan.

 

Sattelite-based Disaster Early Warning System atau biasa disebut SADEWA, Ungkap Doktor lulusan S3 Physics-Universitas Of Wales Aberystwyth, United Kingdom, merupakan produk litbang PSTA-LAPAN dalam bentuk DSS terutama untuk mendukung pengelolaan resiko bencana hidrometeorologi tentunya oleh otoritas terkait. SADEWA, terang Didi, berfungsi memantau secara realtime dan memprediksi kejadian hujan ekstrim yang berpotensi menimbulkan bencana banjir dan longsor diseluruh wilayah Indonesia dengan resolusi spasial sekitar 5 km hingga 3 hari kedepan, pungkas Didi.

 

Knowledge sharing DSS SADEWA Untuk Mitigasi Bencana Hidrometeorologi merupakan rangkaian kegiatan Focus Group Discussion Sains Atmosfer seputar Teknologi, Lingkungan, dan Iklim Terkini Seri 9 (SATELIT#9). Kegiatan kali ini terselenggara atas kerjasama Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer dengan Balai Pengamatan Antariksa dan Atmosfer Pontianak. Dilaksanakan secara virtual dan pertemuan tatap muka metode class room di BPAA Pontianak. Kegiatan diikuti 10 peserta dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Singkawang. Deputi Bidang Sains Antariksa dan Atmosfer-LAPAN,  Halimurrahman, hadir membuka acara tersebut.

 

Kebutuhan manajemen kebencanaan, terang  Halimurrahman, salah satunya adalah bagaimana mendapatkan peringatan dari data dan informasi yang dapat dipercaya sebelum kejadian ekstrim terjadi. Peringatan dini kebencanaan, kata Halimurrahman, penting untuk mendukung manajemen kebencanaan di BPBD. "SADEWA merupakan produk litbang yang dapat membantu pengambilan keputusan kebencanaan para pengguna", tutup Halimurrahman.

 

Humas : emge








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL