Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM SEPTEMBER 2020
16 Oct 2020 • Dibaca : 506 x ,

Kondisi Atmosfer Pada Bulan Agustus-September 2020

Analisis bulanan kondisi atmosfer

Suhu permukaan laut (SPL) di wilayah Indonesia pada September 2020 mengalami peningkatan di wilayah selatan Indonesia dan penurunan di wilayah Utara Indonesia dibanding SPL Bulan Agustus 2020. Hal ini akibat dari pergerakan semu matahari yang saat ini berada di belahan bumi utara. Monsoon Australia masih cukup aktif pada Bulan September 2020 namun sudah mengalami pelemahan di wilayah Utara, terlihat dari arah dan kecepatan angin yang mengalami pembelokan dan penurunan kecepatan di Laut Tiongkok Selatan. Hal ini berakibat pada pergeseran area konvergensi ke arah selatan sehingga pembentukan awan konvektif meningkat di wilayah Sumatra bagian Utara, Kalimantan, dan Papua (Gambar 1). Perluasan wilayah dengan tingkat konvergensi rendah terjadi di wilayah Selatan Indonesia, ditandai dengan meningkatnya luas area bernilai OLR tinggi.

Gambar 1. Kondisi angin di level 850 mb, SPL dan OLR bulan Agustus dan September 2020 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Pergeseran area konvergensi memasuki wilayah Indonesia bagian Utara berdampak pada peningkatan curah hujan di Sebagian wilayah Indonesia dibanding Bulan Agustus 2020. Peningkatan curah hujan signifikan terjadi di pesisir barat pantai Sumatra, Kalimantan Barat, dan Papua. Sedangkan wilayah selatan Indonesia yaitu Pulau Jawa, Bali, dan Kepulauan Nusa Tenggara masih mengalami musim kemarau ditandai dengan curah hujan yang sangat renda (Gambar 2).

Gambar 2. Akumulasi curah hujan (mm) di wilayah Indonesia pada bulan Agustus dan September 2020berdasarkan data GSMaP.

Data CPC hingga September 2020 menunjukkan kecenderungan kondisi ENSO negatif dan diprediksi berangsur menurun hingga kondisi ENSO netral  pada April 2021 dengan probabilitas lebih dari 40%. Selain itu, menurut data index Indian Ocean Dipole (IOD) dari BOM Australia, kondisi IOD rata-rata pada bulan Agustus 2020 menunjukkan kondisi netral. Kondisi IOD diprediksi berada dalam kondisi netral hingga Februari2021.

Analisis per dasarian (10 harian) bulan September 2020

Pada September 2020, aktivitas MJO dimulai pada fase 3 dan 4 di dasarian I, fase 4 pada dasarian II, serta fase 5 pada dasarian III. Selama Bulan September 2020, MJO berada di atas Benua Maritim Indonesia. Pada dasarian I, MJO dengan intensitas lemah dan menguat pada pertengahan dasarian II. Intensitas MJO melemah memasuki awal dasarian III dan kembali menguat di akhir dasarian III saat berada pada fase 5. Pada dasarian I curah hujan merata hampir di sebagian besar wilayah Indonesia dan masih terdapat curah hujan yang cukup tinggi di beberapa wilayah Indonesia seperti pesisir barat Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Namun di wilayah Selatan Indonesia yaitu Pulau Jawa, Bali, dan Kepulauan Nusa Tenggara masih mengalami musim kemarau dengan curah hujan yang cukup rendah.  Pembentukan awan konvektif mengalami peningkatan dan pergeseran ke arah utara pada dasarian II, serta berpengaruh signifikan terhadap peningkatan curah hujan di wilayah tersebut dan penurunan curah hujan di wilayah Indonesia. Hal ini disebabkan oleh peningkatan intensitas MJO pada pertengahan dasarian II September 2020 di wilayah Indonesia. Pembentukan awan konvektif pada dasarian III September 2020 mengalami penurunan yang signifikan di Sebagian besar wilayah Indonesia dan berpengaruh pada penurunan curah hujan, (Gambar 3).

Gambar 3. Kondisi CH (GSMaP) dan OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dasarian bulan September 2020.

Prediksi Curah Hujan untuk Beberapa Bulan Mendatang di Indonesia

Menurut hasil prediksi curah hujan untuk bulan Oktober 2020 – April 2021 menggunakan data luaran Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition 1 Oktober 2020, dan menggunakan data prediksi SPL POAMA m24b_e02 20 September 2020 pada Gambar 4.

Pada Oktober 2020, sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan, di mana terdapat peningkatan curah hampir di seluruh wilayah. Monsoon Asia sudah mulai aktif memasuki kawasan Indonesia bagian barat pada Bulan Oktober, hal ini menyebabkan banyaknya konvergensi angin di sekitar ekuator bagian selatan yang mengakibatkan banyaknya awan-awan konvektif yang terbentuk sehingga terdapat peningkatan curah hujan. Puncak musim hujan di kawasan Indonesia bagian selatan diprediksi terjadi pada Bulan Desember 2020 dan Januari 2021. Hal ini sesuai dengan prediksi IRI yang menyebutkan akan terjadinya La Nina pada saat musim hujan 2020/2021 ini.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) 1 Oktober 2020 dan SPL prediksi dari POAMA (m24b_e02) yang dikeluarkan pada tanggal 20 September 2020.








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL