Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM AGUSTUS 2020
14 Sep 2020 • Dibaca : 417 x ,

Kondisi Atmosfer Pada Bulan Juli-Agustus 2020

Analisis bulanan kondisi atmosfer

Suhu permukaan laut (SPL) di wilayah Indonesia pada Agustus 2020 terlihat mengalami penurunan di sebagian besar wilayah perairan Indonesia dibanding SPL Bulan Juli 2020. Penurunan SPL di wilayah Indonesia akibat dari pergerakan semu matahari yang saat ini berada di belahan bumi utara. Eksistensimonsoon Australia pada Bulan Agustus 2020 ini berakibat pada pergeseran area konvergensi ke arah utara Indonesia. Pembentukan awan konvektif hanya terjadi di wilayah Sumatra bagian Utara dengan intensitas rendah (Gambar 1). Penurunan awan konvektif di sebagian wilayah Indonesia ditandai dengan berkurangnya luas area bernilai OLR rendah dan meningkatnya area bernilai OLR tinggi. Penambahan luas wilayah dengan OLR tinggi terlihat di wilayah selatan Indonesia, tepatnya di sekitar wilayah Pulau Jawa, Sulawesi danKepulauan Nusa Tenggara.

Gambar 1. Kondisi angin di level 850 mb, SPL dan OLR bulan Juli dan Agustus 2020 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Pergeseran area konvergensi ke arah utara Indonesia berdampak pada pengurangan curah hujan di wilayah Indonesia dibanding Bulan Juli 2020. Walaupun demikian, selama bulan Agustus 2020 masih terdapat curah hujan yang merata di sebagian besar wilayah Indonesia, hanya wilayah selatan yaitu Pulau Jawa Bagian Timur dan Kepulauan Nusa Tenggara yang memiliki curah hujan sangat rendah. Curah hujan masih cukup tinggi di wilayah Papua pada bulan ini (Gambar 2).

Gambar 2. Akumulasi curah hujan (mm) di wilayah Indonesia pada bulan Juli dan Agustus 2020 berdasarkan data GSMaP.

Data CPC hingga Agustus 2020 menunjukkan kecenderungan kondisi ENSO netral dan diprediksi berangsur menurun hingga kondisi ENSO negatif yang diperkirakan akan berlangsung hingga Januari 2021 dengan probabilitas lebih dari 50%. Selain itu, menurut data index Indian Ocean Dipole (IOD) dari BOM Australia, kondisi IOD rata-rata pada bulan Agustus 2020 menunjukkan kondisi negatif. Kondisi IOD diprediksi berada dalam kondisi netral hingga Januari 2021.

Analisis per dasarian (10 harian) bulan Agustus 2020

Pada Juli 2020, aktivitas MJO berlangsung dimulai pada fase 4 dan 5 di dasarian I, fase 6,7, dan 8 pada dasarian II, serta fase 1, 2, dan 3 pada dasarian III. Selama dasarian I, MJO berada di atas Benua Maritim Indonesia dengan intensitas kuat. Selanjutnya, pada awal dasarian II, MJO di atas Samudra Pasifik Barat dengan intensitas lemah dan menguat pada akhir dasarian II di atas Benua Afrika. Intensitas MJO semakin meningkat pada awal dasarian III kemudian sedikit menurun pada akhir dasarian III di atas Samudera Hindia.

Pada dasarian I curah hujan merata hampir di seluruh wilayah Indonesia dan masih terdapat curah hujan yang cukup tinggi di beberapa wilayah Indonesia.  Pembentukan awan konvektif mengalami penurunan pada dasarian II, tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap curah hujan di Indonesia yang terlihat masih cukup merata di Sebagian besar wilayah Indonesia. Adanya peningkatan curah hujan di Selatan Indonesia yaitu Pulau Jawa, Bali, dan Sumatra pada dasarian II Agustus ini diperkirakan karena aktifitas MJO yang cukup kuat di atas Indonesia pada akhir dasarian I hingga awal dasarian II. Pembentukan awan konvektif pada dasarian III Agustus mengalami penurunan yang signifikan dan berpengaruh pada penurunan curah hujan di Sebagian besar wilayah Indonesia (Gambar 3).

Gambar 3. Kondisi CH (GSMaP) dan OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dasarian bulan Agustus 2020.

Prediksi Curah Hujan untuk Beberapa Bulan Mendatang di Indonesia

Menurut hasil prediksi curah hujan untuk bulan September 2020 – April 2021 menggunakan data luaranConformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition 1 September 2020, dan menggunakan data prediksi SPL POAMA m24b_e02 30 Agustus 2020 pada Gambar 4. Pada September 2020, musim hujan diprediksi akan terjadi di kawasan sebelah utara ekuator, seperti di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Kepulauan Maluku. Namun di wilayah Selatan Indonesia yaitu wilayah Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara diprediksi terdapat hujan dengan intensitas rendah. Hal ini mulai disebabkan adanya peralihan monsoon, dari Monsun Australia menjadi Monsun Asia, meskipun belum sepenuhnya aktif dan intensif. Pada Bulan Oktober, terlihat bahwa monsoon Asia sudah mulai aktif memasuki kawasan Indonesia bagian barat, hal ini menyebabkan banyaknya konvergensi angin di sekitar ekuator bagian selatan. Puncak musim hujan di kawasan Indonesia bagian selatan diprediksi terjadi pada Bulan Desember 2020 dan Januari 2021. Hal ini sesuai dengan prediksi IRI yang menyebutkan akan terjadinya La Nina pada saat musim hujan 2020/2021 ini.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) 1 September 2020 dan SPL prediksi dari POAMA (m24b_e02) yang dikeluarkan pada tanggal 30 Agustus 2020.








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL