Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Perayaan Cinta Atmosfer dan Lingkungan 2020
Penulis Berita : • Fotografer : • 19 Oct 2020 • Dibaca : 204 x ,

Bandung (17/10)-Puncak Perayaan Cinta Atmosfer dan Lingkungan 2020 atau Paracita Atmaloka 2020 yang diselenggarakan PSTA-LAPAN berlangsung meriah melalui media virtual zoom meeting dan live streaming di channel youtube PSTA LAPAN.

Para peserta sangat antusias mengikuti webinar tersebut. Selain pemaparan dari para pembicara yang sangat menarik dan ahli dibidangnya, acara tersebut dimeriahkan dengan pengumuman pemenang lomba kegiatan Paracita Atmaloka 2020 dan kuis webinar.

Kepala PSTA-LAPAN, Dr. Didi Satiadi menyampaikan sambutan sebelum acara pembukaan oleh Kepala LAPAN. dalam sambutannya, Didi Satiadi menjelaskan tujuan dari kegiatan Paracita Atmaloka 2020 "Paracita Atmaloka merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sebagai bagian dari kegiatan diseminasi dalam rangka untuk meningkatkan kesadaran pada generasi muda sebagai generasi penerus bangsa untuk melestarikan lingkungan hidup secara berkesinambungan. Kegiatan Paracita Atmaloka tahun ini mengambil tema Peran Pemuda dalam Menjaga Lingkungan Atmosfer pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah:

-Meningkatkan sensitivitas para pemuda dalam mengenali masalah lingkungan

-Mengembangkan pengetahuan dan rasa hormat terhadap lingkungan

-Mengasah kemampuan peserta untuk bersikap kritis terhadap kondisi lingkungan saat ini

-Beradaptasi dengan kebiasaan baru selama Pandemi Covid-19 dan tetap berkontribusi terhadap lingkungan". Jelas Didi Satiadi.

Kegiatan Paracita Atmaloka tahun ini terdiri dari 5 kegiatan yang diharapkan dapat merangsang kreativitas generasi muda untuk berperan serta dalam menjaga atmosfer dan lingkungan, yaitu Lomba Poster, Lomba Foto, Lomba Reportase Cuaca, Lomba membuat Masker, dan Webinar.

Selanjutnya, Didi Satiadi menyampaikan pula bahwa kegiatan lomba telah dilaksanakan sejak 18 Agustus 2020 hingga 10 Oktober 2020 mulai dari pendaftaran, pembuatan, dan pengiriman karya hingga penjurian yang hasilnya akan disampaikan pada acara puncak Paracita Atmaloka hari ini (17/10/2020). "Dari hasil-hasil karya yang kami terima, kami merasa sangat bangga bahwa kesadaran pemuda sebagai generasi penerus yang diwakili oleh para peserta lomba untuk melestarikan lingkungan secara berkesinambungan sudah sedemikian tingginya yang merupakan harapan tentunya bagi masa depan yang lebih baik untuk planet bumi dan juga bangsa Indonesia

Kami mengucapkan banyak terimakasih kepada seluruh peserta dan tamu undangan yang telah berpartisipasi dalam kegiatan Paracita Atmaloka ini serta para panitia dan seluruh pihak yang telah mendukung."

Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin hadir membuka acara Paracita Atmaloka 2020. Disampaikan bahwa menjaga atmosfer dan lingkungan adalah tanggungjawab bersama. "Ada 2 ciri dari cinta lingkungan dan atmosfer. Pertama, kita harus memahami karakteristiknya, hingga dengan karakteristik tersebut kita memahami bagaimana berbuat yang terbaik bagi atmosfer dan lingkungan. Dan kedua, kalau kita sudah tahu yang terkait dengan karakteristiknya tentu juga kita harus menjaganya. Hal terpenting yang harus kita pahami, terkait dengan atmosfer dan lingkungan termasuk terutama dengan dampak negatifnya kita menyebut bahwa itu adalah bencana, tetapi sesungguhnya itu adalah cara alam mengambil kesetimbangan baru". Jelas Thomas Djamaluddin.

Selanjutnya Kepala LAPAN menjelaskan pula kepada seluruh peserta bahwa bencana hidrometeorologi yang terjadi tidak terlepas dari campur tangan manusia. "Terkait dengan kesetimbangan energi di alam ini, memang itu fenomena alam, tetapi ada faktor antropogenik atau faktor manusia yang mengubah perilaku terkait dengan cuaca dan iklim tersebut. Kondisi lingkungan yang rusak sudah kita rasakan, banjir bukan hanya karena curah hujan yang tunggi tetapi karena daya dukung lingkungan yang rusak, sampah-sampah menyumbat saluran air yang menyebabkan lingkungan disekitar kita mengalami genangan. Dalam kondisi yang lebih parah lagi sampah-sampah mengendap menyumbat sungai dan saluran air menyebbkan banjir yang lebih besar lagi. Apalagi kalau perbukutan, gunung-gunung dirambah sehingga menjadi gundul, maka pada saat hujan, air tidak ada lagi penahannya langsung mengalir membawa yang dilewatinya itu banjirnya bukan sekedar air tetapi membawa material yang terjadi adalah banjir bandang. Kejadian seperti itu akan sering terjadi ketika manusia merusak alam, alam melakukan kesetimbangan dengan caranya sendiri. Resapan air sudah tidak adalagi, ketika kemarau terjadi kekeringan. Kualitas airpun menjadi tercemar dengan sampah atau limbah. Dan itu akam merusak kualitas hidup kita. Pencemaran udara sudah tidak terkendali, tentu pernafasan kita akan terganggu karena kualitas udara yang tercemar. Papar Thomas Djamaluddin.

Diakhir sambutannya Kepala LAPAN menegaskan bahwa Paracita Atmaloka yang setiap tahun dilakukan adalah menjadi cara LAPAN untuk mensosialisasikan agar lebih memahami karakteristik atmosfer dan lingkungan dan tentu setiap orang harus berupaya untuk menjaganya terutama para pemuda. "Peran pemuda yang menjadi topik pada tahun ini, ini menjadi hal yang sangat penting. Pemuda adalah generasi masa mendatang yang menentukan arah pembangunan dan juga cara kita memperbaiki kualitas hidup kita. Paracita Atmaloka tahun ini dalam kondisi pandemi, dalam kondisi kita mungkin banyak belajar di rumah lebih banyak bekerja di rumah dan lebih banyak beraktivitas di rumah untuk menghindari paparan dari wabah Covid-19 dan kita manfaatkan teknologi. Mudah-mudahan acara yang dilakukan virtual ini memberikan manfaat bagi kita semua, menambah ilmu, menambah wawasan dan menambah tekad kita bersama untuk menjaga atmosfer dan lingkungan kita".

Kemeriahan Paracita Atmaloka 2020 semakin terasa saat dihadirkan para narasumber dari Invited Speaker Putri Indonesia Lingkungan 2018, Vania Fitryanti Herlambang, sebagai Duta Tujuan Pembangunan Nasional-Sustainable Development Goals (SDGs), dan speaker Peneliti di PSTA LAPAN, Dra. Sumaryati, MT,  yang menyampaikan topik tentang Penyebaran Covid-19 sebagai Bioaerosol, dan Dr. Noersomadi dengan topik paparan tentang Perubahan Iklim Global.

Vania Fitryanti Herlambang menyampaikan penjelasan tentang SDGs kepada para peserta dan bagaimana peran pelajar untuk terlibat dalam praktik keseharian terkait Tujuan Pembangunan Nasional.

"Secara harfiah sustainability berarti keberlanjutan. Definisi Sustainability is to make the world a better place for everyone now without destroying the possibilities for the next generation. Jadi pemaknaanya, apa yang kita lakukan sekarang adalah hal-hal yang kita usahkan untuk mendapatkan penghidupan yang baik pada masa kini tanpa mengorbankan masa depan cucu kita di masa depan. Dalam kita beraktifikas kita bisa mengkategorikannya menjadi 3 pilar yaitu lingkungan (Environment), Ekonomi (Economic) dan sosial (Social). Jelas Putri Indonesia Lingkungan 2018.

Lebih lanjut Vania menekankan bagaimana peran dari para pelajar untuk hal tersebut. "Apa peran kita sebagai pelajar adalah Be thoughtful – Contohnya bagi kalian yang menyukai berbelanja fashion baju atau tas, be thoughtful lagi untuk memikirkan produksinya seperti limbah yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik yang memproduksi produk tersebut. Kemudian Implement Knowledge – untuk mengimplementasikan bidang keilmuan untuk memperbaiki lingkungan. Dan terakhir, Influence Other – sebenarnya semua orang adalah influencer, bisa saja kita meng-influence untuk adik, kakak, saudara, teman-teman dan sekitarnya". Jelas Vania.

Peneliti PSTA-LAPAN, Dra. Sumaryari, MT menjelaskan  bahwa daya tahan Covid-19 di udara hanya sekitar 3 jam, sehingga tidak akan terjadi long-range transport seperti kabut asap, tetapi akan tersebar jika hanya dibawa oleh manusia. Untuk itu, Sumaryati mengajak kepada para peserta yang hadir untuk selalu melaksanakan protokol kesehatan. "Lindungi saluran pernafasan kita dari Covid-19 dengan menggunakan masker. Faceshield hanya melindungi paparan pada wajah kita, tetapi sebenarnya masih terdapat potensi penyebaran aerosol pada bagian bawah dan atas maupun celah dari faceshield tersebut".

Peneliti PSTA-LAPAN, Dr. Noersomadi, M.Si. memberikan edukasi kepada para peserta tentang Dinamika Cuaca dan Iklim Global. Dijelaskan bahwa unsur utama cuaca dan iklim yaitu temperature, kelembapan, tekanan udara, angin, curah hujan dan radiasi matahari. Temperatur dapat diukur dengan thermometer. Kelembapan merupakan perbandingan udara kering dan udara basah. Tekanan udara diukur oleh barometer. Angin diukur oleh anemometer. Curah hujan diukur oleh rain gauge. Radiasi matahari oleh pyranometer. Pada penyimpangan iklim global, ada yang disebut El-nino dan La-nina. Di Samudra pasifik temperature permukaan laut saat kondisi El-nino terlihat hangat tetapi saat La-nina tampak dingin.

Menjelang penutupan kegiatan, dipandu oleh pembawa acara, Christine Cecylia Munthe, S.Kom. dan Ketua panitia Paracita Atmaloka 2020, Elfira Saufina, S.Si. diumumkan juara lomba pada kegiatan Paracita Atmaloka 2020

Lomba Poster (48 karya)

  • Juara 1 : 70,71 Safira Fildzah K, SMA Avicenna Jagakarsa, DKI Jakarta
  • Juara 2 : 69,71 Nuni Novianti, SMA N Parigi, Jawa Barat
  • Juara 3 : 69,50 Larasati, SMAKIT Daarul Abror, Jawa Barat

Lomba Foto (140 karya)

  • Juara 1 : 66,10 Neng Kinkin Tiratifani
  • Juara 2 : 63,10 Tri Jaya Putra
  • Juara 3 : 61,10 Hendy Wicaksono

Lomba Reportase Cuaca (28 karya)

  • Juara 1 : 72,87 Joyceline Kezia Munthe, SMA N 1 Doloksanggul, Sumatera Utara
  • Juara 2 : 72,67 Aura Nisa Sashi Kirana, SMAT Krida Nusantara Bandung
  • Juara 3 : 72,22 Indah Machmudah Chumaidi, SMA Muhammadiyah 10 Surabaya

Lomba membuat Masker (11 karya)

  • Juara 1 : 78,98 Ni Komang Trya Purnama
  • Juara 2 : 69,02 Shafira Fildzah Kirana
  • Juara 3 : 67,77 Michelle Lie Suwandhi
 
   


Acara penutupan dilaksakan oleh Deputi Bidang Sains Antariksa dan Atmosfer LAPAN, Ir. Halimurrahman, MT, "Selamat kepada para pemenang lomba, LAPAN bangga atas segala raihan prestasi dan kreatifitasnya dan yang belum terpilih, terbuka pada kesempatan Paracita Atmaloka pada tahun-tahun yang akan datang, terus semangat. Indonesia sebagai suatu negara besar tentu melestarikan lingkungan serta kebersihan secara berkelanjutan menjadi tanggungjawab kita semua. Jagalah keasrian bumi untuk kita semua dan generasi masa yang akan datang. Harta paling berharga adalah ketika kita dapat menjaga keasrian alam. Semoga kegiatan Paracita Atmaloka memberikan manfaat bagi kita semua."

 

 

 

 

 

 
   

 

Humas:emge








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL