Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


SNSA 2020: SINERGI NASIONAL DALAM SAINS DAN TEKNOLOGI ATMOSFER SERTA APLIKASINYA UNTUK MENDUKUNG PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
Penulis Berita : • Fotografer : • 16 Jul 2020 • Dibaca : 175 x ,

Rabu, 15 Juli 2020 Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) - LAPAN menggelar Seminar Nasional Sains Atmosfer (SNSA) 2020 bertema Sinergi Nasional dalam Sains dan Teknologi Atmosfer serta Aplikasinya untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan.

Kegiatan yang dilaksanakan secara virtual ini, dihadiri oleh kurang lebih 500 peserta zoom meeting dengan 51 peserta sebagai pemakah yang berasal dari Kementerian, Lembaga dan Perguruan Tinggi seperti: KLHK, BMKG, LAPAN, ITB, UNDIP, IPB, UNHAS, ITERA, dan ITN Malang. Pelaksanaan seminar terbagi dalam 5 room zoom meeting dan live stream pada saluran youtube PSTA LAPAN.

SNSA tahun 2020 yang diselenggarakan oleh PSTA-LAPAN didukung oleh Himpunan Peneliti Indonesia (Himpenindo), Pusat Unggulan Iptek (PUI), dan Asosiasi Ahli Atmosfer Indonesia menghadirkan topik yang meliputi:

  1. Dinamika, Fisika, dan Kimia Atmosfer,
  2. Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan,
  3. Kebencanaan Hidrometeorologi,
  4. Atmosfer Maritim,
  5. Basis Data dan Teknologi Pengamatan Atmosfer, dan
  6. Lingkungan Atmosfer.

Sambutan penyelenggara SNSA 2020 dilaksanakan oleh Kepala PSTA-LAPAN, DR. Didi Satiadi. Pada sambutannya, disampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh peserta yang hadir mengikuti virtual meeting SNSA 2020.

Kepala PSTA-LAPAN menekankan pentingnya riset dan inovasi di bidang sains dan teknologi atmosfer.

Kepala PSTA-LAPAN, Dr. Didi Satiadi SNSA (15/7)

“Atmosfer merupakan salah satu lapisan tipis gas yang menyelimuti planet bumi yang keberadaannya penting untuk kehidupan bumi. Kondisi atmosfer memberikan pengaruh yang luas terhadap berbagai kegiatan seperti sektor pembangunan, pertanian, energi, transfortasi, lingkungan hidup, kesehatan, kebencanaan, dan sebagainya. Karena hal tersebut, riset dan inovasi di bidang sains dan teknologi atmosfer adalah kebutuhan dalam rangka mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Indonesia merupakan benua maritim khatulistiwa yang dikenal dengan wilayah dinamika atmosfer yang paling kompleks di dunia. Hal ini karena wilayah ini menerima energi radiasi yang sangat besar serta mengandung uap air sehingga bersifat turbulensi, disipasi, proses non-adiabatik dan proses non-liniear sehingga wilayah ini lebih sulit diprediksi dibandingkan dengan wilayah di lintang tinggi. Dinamika atmosfer diwilayah ini juga sangat unik karena diatur oleh kesetimbangan antara gaya grafitasi dan buyansi sehingga banyak didominasi oleh proses konvektif dan gelombang atmosfer yang saling berinteraksi” terang Didi Satiadi.

Dalam kesempatan tersebut hadir Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, M.Sc. yang membuka acara SNSA 2020.

Kepala LAPAN, Prof. DR. Thomas Djamaluddin. SNSA (15/7)

Kepala LAPAN menyampaikan bahwa “Pemodelan untuk membuat prakiraan aktivitas cuaca dan iklim di wilayah Indonesia saat ini menjadi suatu tantangan yang sangat besar bagi para peneliti atmosfer dan ini membuka peluang untuk sinergi secara nasional dan internasional. Dinamika atmosfer yang sangat kompleks yang terkait dengan berbagai parameter atmosfer, berbagai proses fisis terkait dengan distribusi panas dan berbagai parameter yang lain menjadikan wilayah Indonesia menjadi wilayah yang sangat menarik untuk diteliti. Hal ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk bisa membuat model-model yang bisa digunakan untuk membuat prakiraan”.

 

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, S.E., M.U.P., Ph.D. SNSA (15/7)

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, S.E., M.U.P., Ph.D., menjadi pembicara kunci pada kegiatan SNSA 2020. Dengan paparan tentang Sinergi Riset dan Inovasi Nasional untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan. Menristek/Ka.BRIN mengatakan masih ada potensi SDA di udara atau angkasa yang belum secara optimal dieksplorasi demi meningkatkan kesejahteraan bangsa. “Kalau bicara pemanfaatan sumber daya alam, biasanya kita hanya terpaku apa yang ada di permukaan bumi dan mulai masuk ke permukaan laut. Tapi tentunya kita tahu di udara sampai antariksa, sebenarnya itu adalah bagian sumber daya alam kita yang seharusnya dapat dimanfaatkan secara optimal. Tentunya tidak hanya bagi kesejahteraan masyarakat tapi juga dapat menjadi tulang punggung daya saing perekonomian,” jelas Menristek/Ka.BRIN.

Selanjutnya, para invited speakers pada SNSA 2020 menyampaikan masing-masing paparannya. Pertama, Sekretaris Utama LAPAN, Prof. Dr. Ir. Erna Sari Adiningsih, M.Si. memaparkan tentang Sinergi Layanan LAPAN Berbasis Teknologi Sains dan Penerbangan dan Antariksa untuk Pembangunan Nasional. Kedua, Kepala BMKG, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D. memaparkan tentang Sinergi Penelitian dan Pengembangan dalam Mendukung Penyediaan Informasi Cuaca dan Iklim yang Akurat di Indonesia. Ketiga, Direktur Pendidikan Tinggi, Iptek dan Kebudayaan BAPPENAS, Dr. Hadiat, MA. memaparkan tentang Sinergi dan Prioritas Riset Nasional terkait Atmosfer di dalam Rencana Pembangunan Nasional 2020-2024. keempat, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Dr. Raditya Jati, S.Si., M.Si. memaparkan tentang Sinergi Riset Atmosfer untuk Mendukung Penanggulangan Bencana Hidrometeorologis di Indonesia. Dan kelima, Ketua Asosiasi Ahli Atmosfer Indonesia (A3I), Dr. Widada Sulistya. DEA. memaparkan tentang Asosiasi Ahli Atmosfer Indonesia (A3I) dalam Membangun Sinergi Nasional dalam Sains dan Teknologi Atmosfer.

SNSA merupakan seminar tahunan yang diselenggarakan oleh PSTA-LAPAN dalam lingkup nasional. SNSA menjadi wahana pertemuan para peneliti, perekayasa, dan pengambil kebijakan untuk membahas perkembangan-perkembangan nasional yang terjadi, yang terkait dengan sains dan teknologi serta aplikasinya dalam berbagai sektor.

Tujuan SNSA 2020 adalah mempublikasikan hasil penelitian sains dan teknologi pengamatan atmosfer serta aplikasinya dan membangun jejaring untuk mencapai sinergi nasional dalam sains dan inovasi teknologi atmosfer serta aplikasinya untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

Permasalahan besar yang terus muncul yang dihadapi pembangunan nasional saat ini adalah bencana dan perubahan iklim. Pada Sustainable Development Goals (SDGs), mengambil tindakan dan langkah untuk mengatasi perubahan iklim (urutan ke-11 dalam SDGs) perlu ditindaklanjuti dalam tindakan nyata, melalui mitigasi dan perubahan iklim yang harus didukung oleh sains dan teknologi yang memadai, termasuk sains dan teknologi atmosfer.

Perkembangan sains atmosfer dapat diaplikasikan dan memberikan manfaat yang optimal jika didukung oleh perkembangan teknologi yang handal. Sebaliknya, teknologi juga membutuhkan sains untuk dapat berkembang.

Peserta SNSA 2020 melalui virtual meeting (15/7)

 

Untuk dapat mengatasi permasalahan-permasalahan nasional, diperlukan sinergisme antara teknologi serta kinerja yang sinergis antar instansi sehingga dapat mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan.

Humas : emge photo : gelar








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL