Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Prof. Dr. Ninong Komala, M.Sc.: Lapisan Ozon Indonesia, Aman
Penulis Berita : • Fotografer : • 25 Jun 2020 • Dibaca : 54 x ,

Prof. Dr. Ninong Komala, M.Sc. (PSTA-LAPAN) bersama Dr. Rhorom Priyatikanto, M.Si. (Pussainsa-LAPAN) hadir menjadi Narasumber pada Physics Webinar Series: Dinamika Lapisan Ozon di Masa Pandemi Covid-19 dan Fenomena Antariksa Benda Jatuh yang diselenggarakan Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) pada Kamis, 25 Juni 2020 melalui virtual meeting.

Dalam paparannya Ninong menjelaskan bahwa hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan lapisan ozon di Indonesia dalam posisi aman.

Kegiatan penelitian yang dilakukan untuk lapisan ozon telah dilakukan melalui beberepa kegiatan yaitu penelitian permukaan ozon dengan Dasibi ozon monitor di wilayah Bandung dan Watukosek sejak tahun 1997, dan Pontianak serta Biak tahun 2005. Penelitian ozon vertikal menggunakan ballon dengan payload ozonosonde dilakukan mulai tahun 1992 yang bekerjasama dengan NASDA, Tokyo University. Pada tahun 1998 telah dilaksanakan juga kerjasama dengan NASA yang merupakan bagian dari proyek Southern Hemisphere Additional Ozonesondes (SHADOZ).

Selain itu kegiatan penelitian ozon dilaksanakan juga melalui penelitian komposisi atmosfer dengan menggunakan pesawat terbang (1998-2000) melalui Biomass Burning and Lighting Experiment. Penelitian ozon dan uap air tahun 2005-2015 dilaksanakan Sounding of Ozone and Water in Equatorial Refion (SOWER) kerjasama dengan Hokkaido University. Untuk penelitian komposisi atmosfer berbasis data satelit telah dilaksanakan dari tahun 2004 hingga saat ini.

Peneliti Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, Prof.Dr. Ninong Komala, M.Sc (25/6)

 Peserta Physics Webinar Series (25/6)

Pengukuran ozon memanfaatkan data satelit memiliki cakupan luas dan lengkap dengan resolusi rendah 0.250 x 0.250 dan diperlukan validasi dengan data insitu. Satelit yang mempelajari atmosfer Indonesia adalah Satelit AURA dengan pengukuran menggunakan Ozone Monitoring Instrumen (OMI).

Bahan Perusak Ozon (BPO) seperti CFC dan senyawa lainnya (karbon tetraklorida dan fluorida) yang dihasilkan dari proses industri tertentu yang mengemisikan zat perusak ke atmosfer dapat menipiskan ozon.

Perilaku ramah ozon seperti penggunaan produk lemari pendingin, AC, dan lain-lain yang berlogo bebas CFC penting dilakukan disamping perlunya penyebarluasan informasi yang ditujukan untuk melindungi umat manusia dari meningkatnya sinar ultraviolet sebagai akibat dari menipisnya lapisan ozon.

Posisi Indonesia di Ekuator dengan radiasi ultra violet (UV) yang melimpah, memerlukan penelitian ozon yang dilakukan secara terus menerus, serius dan akurat. Di masa mendatang diharapkan tersedianya sistem informasi online lapisan ozon Indonesia dengan prediksi jangka panjang sehingga bisa dimanfaatkan oleh semua pihak dan bisa memberikan rekomendasi kepada pemerintah. Selain itu, penguasaan teknologi pengukuran insitu, data satelit, kombinasi (satelit dan insitu) dan aplikasinya menjadi bagian kompetensi yang sangat penting dalam hal penelitian lapisan ozon.

Dalam akhir paparannya, Ninong berharap peran serta pemerintah dalam mengambil kebijakan mempertimbangkan isu penipisan lapisan ozon dan batas aman lapisan ozon.

(Humas: emge, Photo: Gelar)








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL