Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


LAPAN: Virus Corona Bisa Jadi Bioaerosol yang Melayang di Atmosfer, Membesar dan Menyebar Lebih Jauh
19 May 2020 • Dibaca : 18 x ,

Virus corona jenis baru SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 berpotensi menjadi bioaerosol di atmosfer sehingga penularannya dapat menjangkau jarak lebih jauh dari 2 meter.

Bioaerosol adalah mikroorganisme udara yang merupakan materi partikular bakteri yang berasal dari hewan atau tanaman, baik yang bersifat patogenik maupun non patogenik di atmosfer sehingga penularannya dapat menjangkau jarak lebih jauh dari 2 meter.

Hal ini berdasarkan hasil studi yang menemukan bahwa virus ini terdeposisi di dalam partikel aerosol yang melayang-layang di udara.

Meskipun demikian, jangkauan penyebarannya tidak akan terjadi dalam jarak yang sangat jauh seperti puluhan kilometer. Hal ini karena, siklus hidup virus sebagai bioaerosol hanya sekitar tiga jam.

Demikian diungkapkan, Peneliti Lingkungan Atmosfer pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di acara webinar Evaluasi PSBB dan Indirect Impact COVID-19 yang diadakan oleh LAPAN bekerja sama dengan MAPIN Jawa Barat secara online melalui ZOOM dan YouTube, Senin 18 Mei 2020 dalam keterangan resmi yang disiarkan pada Selasa 19 Mei 2020.

Selain itu, Sumaryati menambahkan, sifat aerosol yang higrokopis atau dapat menyerap air dapat membuat ukuran virus membesar karena kelembapan di atmosfer yang tinggi.

"Pada malam hari, saat lapisan atmosfer dalam keadaan stabil, aerosol yang berada di dekat permukaan akan cepat mengendap di atas permukaan tanah yang tidak jauh dari sumbernya," ujar dia.

Sementara itu pada siang hari, papar Sumaryati, karena atmosfer cenderung tidak stabil, aerosol cenderung menyebar secara vertikal ke atas dan sulit mengendap.

“Jika ada angin maka dapat tersebar jauh dari sumbernya,” ucap Sumaryati.

Di sisi lain, Sumaryati menjelaskan, jumlah kasus kejadian yang tinggi di sebagian negara lintang menengah tinggi dan di negara lintang rendah dekat ekuator menunjukkan bahwa kasus COVID-19 memiliki tingkat keacakan yang tinggi serta tidak ada keterkaitan antara lintang geografis dan sebaran COVID-19.

Meskipun demikian, studi di Brazil menunjukkan temperatur yang tinggi dapat mematikan virus dengan ambang batas sekitar 25 derajat celcius.

Hasil kajian literatur mengenai bioaerosol COVID-19 tersebut merekomendasikan bahwa pemutusan mata rantai penyebaran tidak cukup dilakukan dengan menjaga jarak sosial (Physical Distancing) sejauh 2 meter, namun diperlukan upaya untuk mengisolasi sumber dan menggunakan alat perlindungan diri berupa masker dan face shield.

“Oleh karena itu, kebijakan karantina wilayah dan PSBB harus terus dilakukan dengan mendasarkan kebijakan pada data sebaran harian COVID-19 yang valid,” tuturnya.

Sumber berita: Pikiran Rakyat.

Sumber gambar cover: Kim, et al., 2018.








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL