Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Sedikit Analisis Terkait Penyebaran Debu Vulkanik Gunung Merapi (13 Februari 2020)
19 Feb 2020 • Dibaca : 1991 x ,

Tadi pagi sekitar pukul 05:00 WIB di hari ke 13 pada bulan ke dua di tahun 2020 ini, Gunung Merapi di Yogyakarta kembali mengeluarkan isi perutnya (erupsi). Gunung yang termasuk dalam salah satu jajaran gunung api aktif di Indonesia meletus untuk kali pertamanya di tahun 2020. Menurut Pos Pengamatan Gunung Api yang terdapat di sekitar gunung menyatakan bahwa erupsi (letusan) terjadi pada pukul 05.16 WIB dan seismograph mencatat getaran yang dihasilkan memiliki simpangan maksimum (amplitude) sebesar 75 mm dengan perioda 150 detik. Letusan kali ini sampai mencapai 2000 m (2 km). Berdasarkan capaian letusan yang mencapai 2000 m, diperkirakan puncak materi yang dilontarkan ke atmosfer mencapai boundary layer.

Peneliti PSTA, Sumaryati mencoba menganalisis prediksi persebaran abu vulkanik gunung Merapi dengan menggunakan model Hysplit yang dilakukan pada jam 02:26 UTC (09:26 WIB), empat jam setelah kejadian. Beberapa hasil analisis seperti disajikan pada Gambar-Gambar berikut.

Gambar 1. Penyebaran abu vulkanik erupsi gunung Merapi (13 Februari 2020)

Berdasarkan Gambar 1 dapat diketahui, gunung Merapi sebagai pusat atau sumber emisi (dilambangkan pada Gambar 1 oleh bintang) menyebarkan abu vulkaniknya untuk kolom udara 100 m dan 2000 m ke arah Selatan. Artinya penyebaran abu vulkanik ke Pantai Selatan Jawa (Lautan Hindia). Berbeda dengan abu vulkanik yang terdapat pada kolom 1000 m, yang penyebaran abu vulkaniknya ke arah Tenggara. Sumaryati juga membuat prediksi sebaran untuk 6 jam sampai 12 jam setelah letusan yang disajikan pada Gambar 2.

6 jam setelah letusan

12 jam setelah letusan

Gambar 2. Prediksi kondisi penyebaran abu vulkanik gunung Merapi dengan program VAFTAD dari permukaan sampai 20.000 kaki (sekitar 6,6 km)

Menurut Gambar 2, penyebaran abu vulkanik dari 6 jam sampai 12 jam ke depan (dari erupsi) juga menunjukkan penyebaran abu vulkanik yang menuju ke arah Selatan (pada Gambar 2 disajikan pada noktah yang berwarna pink). Pada setiap erupsi gunung api maka yang menjadi masalah penting dan berdampak adalah sektor penerbangan. Hasil analisis berdasarkan prediksi trayektori model Hysplit pada program VAFTAD (Volcanic ash forecast transport and dispersion) yang biasa digunakan untuk membantu keselamatan penerbangan menunjukkan bahwa hanya sedikit abu vulkanik yang terbawa angin. Running dengan program pilihan Volcano Ash yang merupakan program umum untuk sebaran abu vulkanik menunjukkan bahwa abu vulkanik hannya tersebar di dekat sumber saja.

Gambar 3. Prediksi kondisi penyebaran abu vulkanik gunung Merapi dengan program Volcano Ash dari permukaan sampai 20.000 kaki (sekitar 6,6 km)

Jadi letusan gunung Merapi dengan ketinggian kolom abu vulkanik setinggi 2000 m ini, abu vulkaniknya hanya menyebar di dekat gunung api saja. Tidak berpotensi membahayakan penerbangan. Prediksi sebaran ini akan lebih bermanfaat, jika dapat dilakukan segera setelah terjadi letusan.

(S dan LSS/Diseminasi PSTA)

Sumber Gambar Cover: CNN Indonesia.








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL