Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM JULI 2019
09 Aug 2019 • Dibaca : 111 x ,

Kondisi Atmosfer Pada Bulan Juni-Juli 2019

Analisis bulanan kondisi atmosfer

Suhu permukaan perairan di seluruh wilayah Indonesia secara umum cenderung mengalami penurunan pada bulan Juli 2019 jika dibandingkan dengan Juni 2019 (Gambar 1).  Suhu perairan terendah terlihat di pesisir selatan Pulau Jawa yaitu kurang dari 24 °C. Pergerakan angin dari benua australia menuju benua Asia atau angin timuran pada bulan ini terlihat sangat intens dibandingkan dengan Juni 2019. Kecepatan angin di wilayah Indonesia mengalami peningkatan dibanding Juni 2019 tapi masih relatif rendah, kecuali Perairan Selatan Pulau Papua yang terlihat mengalami penurunan kecepatan angin hingga kurang dari 9 m/s.

Kondisi keawanan di wilayah Indonesia pada Juli 2019 secara umum mengalami sedikit penurunan jika dibandingkan dengan Juni 2019. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan nilai OLR pada Juni 2019 hampir di seluruh wilayah Indonesia (Gambar 1).  Wilayah Selatan Indonesia (Pulau Jawan Bali, dan Nusa Tenggara) memiliki kondisi keawanan yang paling rendah dibanding wilayah Indonesia lainnya. Pembentukan awan konvektif yang ditunjukkan oleh nilai OLR rendah (sekitar 200-210 W/m2) sedikit terlihat Pulau Sumatra bagian Utara.

Gambar 1. Kondisi angin di level 850 mb, SST dan OLR bulan Juni dan Juli 2019 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Pergerakan angin monsoon Timur yang semakin intens menyebabkan penurunan pembentukan awan konvektif di wilayah Indonesia sehingga curah hujan Bulan Juli 2019 pun mengalami penurunan untuk sebagian wilayah Indonesia jika dibandingkan dengan Juni 2019, terutama di Indonesia bagian selatan (Gambar 2). Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara memiliki curah hujan terendah dibanding wilayah  lainnya pada Juli 2019, dengan curah hujan kurang dari 50 mm.

Gambar 2. Akumulasi curah hujan (mm) di wilayah Indonesia pada bulan Juni dan Juli 2019  berdasarkan data GSMaP.

Data CPC hingga Juli 2019 masih menunjukkan kecenderungan kondisi ENSO positif yang berlangsung sejak musim September-Oktober-Nopember (SON) 2018. Kondisi ENSO positif selama Bulan Juli 2019 digambarkan oleh anomali SST Nino 3.4 yang mencapai nilai 0.52oC, lebih rendah dari bulan sebelumnya. Berdasarkan kondisi atmosfer dan lautan, IRI memprediksi kondisi ENSO untuk 8 bulan selanjutnya berada pada kategori netral dengan probabilitas tertinggi 62% pada musim Agustus-September-Oktober (ASO) 2019 dan berangsur turun hingga probabilitas netral sebesar 49% pada musim Februari-Maret-April (FMA) 2020.

Kondisi rata-rata Dipole Mode (IOD) di Samudra Hindia pada bulan Juli 2019 tergolong netral dengan nilai rata-rata 0.295. Berdasarkan Bureau of Meteorology (BOM) Australia Indeks IOD dinyatakan netral jika dalam rentang -0.4 oC hingga 0.4 oC. Nilai IOD tertinggi selama Bulan Juli 2019 terjadi pada minggu ketiga dengan nilai indeks IOD sekitar 0.47 oC, sedangkan kondisi IOD terendah terjadi pada minggu keempat dengan nilai indeks IOD sekitar 0.18. Prediksi kondisi IOD yang dikeluarkan BOM menyatakan indeks IOD pada bulan Agustus dan Seoptember 2019 mengalami peningkatan hingga dikategorikan sebagai IOD positif (nilai indeks IOD sekitar 1.2 oC). Indeks IOD diprediksi berangsur turun pada September 2019 hingga Februari 2020, tapi masih dalam kategori IOD positif.

Analisis per dasarian (10 harian) bulan Juli 2019

Awal bulan Juli 2019, MJO berada dalam fase 7 dan bergerak dar Pasifik Barat. Pada awal dasarian I Juni intensitas MJO lemah (nilai RMM 1 dan 2 diantara -1 hingga 1) dan menguat spada akhir dasarian I saat berada di atas Benua Afrika. MJO kembali melemah saat memasuki dasarian II hingga berada pada fase 3 di wilayah Samudra Hindia pada akhir dasarian III Juli 2019. Pergerakan MJO pada dasarian I Agustus diperkirakan masih berada pada fase 3 di wilayah Samudra Hindia dengan intensitas lemah pada awal bulan Agustus dan berangsur menguat hibffa akhir dasarian I Agustus 2019.

Gambar 3. Kondisi CH (GSMaP) dan OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dasarian bulan Juli 2019.

Distribusi curah hujan perdasarian selama Juli 2019 dapat dilihat pada Gambar 3. Dasarian I Juli 2019 terlihat curah hujan rendah hampir di seluruh wilayah Indonesia kecuali di perairan barat pulau Sumatra dan Pulau Papua yang masih memiliki curah hujan lebih daru 180 mm. Memasuki dasarian II, hampir seluruh wilayah Indonesia mengalami penurunan curah hujan terutama untuk Indonesia bagian Selatan. Peningkatan curah hujan yang cukup signifikan terlihat di Samudra Hindia hingga wilayah perairan Sumatera Utara. Penurunan curah hujan yang cukup drastis terjadi pada dasarian III Juli 2019, seluruh wilayah Indonesia memiliki curah hujan yang sangat rendah (kurang dari 50 mm) pada dasarian ini. Semakin intensnya angin monsoon timur yang membawa udara kering melewati wilayah Indonesia (pola pergerakan angin pada Gambar 3), tidak aktifnya MJO di wilayah Indonesia, dan kecenderungan ENSO positif (El Nino) selama Juni 2019 mempengaruhi kondisi curah hujan Juli 2019.

Prediksi Curah Hujan untuk Beberapa Bulan Mendatang di Indonesia

Prediksi curah hujan untuk bulan Agustus 2019 sampai dengan Maret 2020 menggunakan data hasil running Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition 1 Agustus 2019, dan menggunakan data prediksi SST POAMA m24b_e02 28 Juli 2019 ditunjukkan oleh Gambar 4.

Menurut prediksi hasil model CCAM untuk bulan Agustus 2019, sebagian besar daerah Indonesia bagian selatan mengalami puncak musim kemarau. Hal ini ditandai dengan tidak adanya hujan yang terjadi di daerah Pulau Jawa – Bali, Nusa Tenggara dan Timor Leste. Hal ini terkait dengan kuatnya monsoon Australia yang membawa pengaruh kering di daerah tersebut. Penguatan monsoon Australia ditandai dengan mulai menguatnya angin timuran di wilayah Indonesia bagian selatan.

Menurut hasil prediksi menggunakan CCAM, monsoon Australia aktif sampai dengan Bulan Oktober, di mana terjadi pelemahan monsoon Australia seiring dengan menguatnya monsoon Asia pada Bulan November 2019. Dengan menguatnya monsoon Asia yang diprediksi terjadi pada Bulan November 2019, peningkatan curah hujan akan terjadi di Indonesia bagian selatan. Hal ini merupakan indikasi dari masuknya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) 1 Juni 2019 dan SST prediksi dari POAMA (m24b_e02) yang dikeluarkan pada tanggal 29 Mei 2019.

Catatan: Terdapat kemungkinan perubahan dalam prediksi yang dihasilkan di bulan selanjutnya dikarenakan update kondisi inisial dan SST prediksi yang digunakan dalam model, dan mohon diperhatikan kemungkinan error yang tinggi untuk prediksi yang jauh dari initial condition, oleh karena itu prediksi akan selalu di-update setiap bulannya.

Tim Variabilitas Iklim 2019 – PSTA LAPAN;

Haries Satyawardhana, Eka Putri Wulandari, Gammamerdianti, Lely Qodrita Avia, Iis Sofiati, Suaydhi, Eddy Hermawan








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL