Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM JUNI 2019
12 Jul 2019 • Dibaca : 131 x ,

Kondisi Atmosfer Pada Bulan Mei-Juni 2019

Analisis bulanan kondisi atmosfer

Suhu permukaan perairan hampir seluruh wilayah Indonesia secara umum cenderung menurun pada bulan Juni 2019 jika dibandingkan dengan Juli 2019 (Gambar 1).  Suhu perairan terendah terlihat di pesisir selatan Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tengara yaitu sekitar 25 °C. Pergerakan angin dari benua australia menuju benua Asia atau angin timuran pada bulan ini terlihat sangat intens dibandingkan dengan Mei 2019. Kecepatan angin sedikit di wilayah Indonesia mengalami peningkatan dibanding Mei 2019 tapi masih relatif rendah, kecuali Perairan Selatan Pulau Papua yang terlihat memiliki kecepatan angin lebih tinggi mencapai 10 m/s.

Kondisi awan di wilayah Indonesia pada Juni 2019 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan Mei 2019. Hal ini terlihat dari adanya penurunan nilai OLR pada Juni 2019 hampir di seluruh wilayah Indonesia (Gambar 1).  Wilayah Selatan Indonesia (Pulau Jawan Bali, dan Nusa Tenggara) memiliki kondisi awan yang paling rendah dibanding wilayah Indonesia lainnya. Pembentukan awan konvektif yang ditunjukkan oleh nilai OLR rendah (dengan nilai OLR sekitar 190-200 W/m2) sedikit terlihat Pulau Sumatra bagian Utara.

Gambar 1. Kondisi angin di level 850 mb, SST dan OLR bulan Mei dan Juni 2019 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Pergerakan angin monsoon Timur yang semakin intens menyebabkan penurunan pembentukan awan konvektif di wilayah Indonesia sehingga curah hujan Bulan Juni 2019 pun mengalami penurunan yang signifikan untuk sebagian wilayah Indonesia jika dibandingkan dengan Mei 2019, terutama di Pulau Jawa (Gambar 2). Sebaliknya, peningkatan curah hujan terjadi wilayah Utara Indonesia seperti di perairan barat Sumatra, perairan Utara Kalimantan dan perairan Utara Papua.

Gambar 2. Akumulasi curah hujan (mm) di wilayah Indonesia pada bulan Mei dan Juni 2019  berdasarkan data GSMaP.

Data CPC hingga Juni 2019 masih menunjukkan kecenderungan kondisi ENSO positif yang berlangsung sejak beberapa musim September-Oktober-Nopember (SON) 2018. Kondisi ENSO positif selama Bulan Juni 2019 digambarkan oleh anomali SST Nino 3.4 yang mencapai nilai 0.66oC. Berdasarkan kondisi atmosfer dan lautan, IRI memprediksi kondisi ENSO Positif (El Nino) akan tetap berlangsung hingga musim Januari-Februari-Maret (JFM) 2020, dengan peluang terjadinya ENSO Positif yang terus menurun hingga 8 bulan mendatang. Peluang ENSO positif untuk prediksi satu bulan ke depan adalah 66% dan berangsur menurun hingga musim JFM menjadi 51%.

Kondisi rata-rata Dipole Mode (IOD) di Samudra Hindia pada bulan Juni 2019 tergolong netral tapi cenderung tinggi dengan nilai rata-rata 0.395. Berdasarkan Bureau of Meteorology (BOM) Australia Indeks IOD dinyatakan netral jika dalam rentang -0.4 oC hingga 0.4 oC. Nilai IOD tertinggi selama Bulan Juni 2019 terjadi pada minggu pertama dengan nilai indeks IOD sekitar 0.67 oC, sedangkan kondisi IOD terendah terjadi pada minggu keempat dengan nilai indeks IOD sekitar 0.21. Prediksi kondisi IOD yang dikeluarkan BOM menyatakan indeks IOD pada bulan Juli 2019 mengalami peningkatan dibanding kondisi Juni 2019. Indeks IOD diprediksi terus meningkat hingga Oktober 2019 mencapai nilai 1.1 oC dengan probabilitas lebih dai 92%, selanjutnya indeks IOD berangsur menurun hingga Januari 2020.

Analisis per dasarian (10 harian) bulan Juni 2019

Awal bulan Juni 2019, MJO berada dalam fase 2 dan bergerak dar Samudra Hindia. Pada awal dasarian I Juni intensitas MJO kuat (nilai RMM 1 dan 2 lebih dari 1), MJO melemah saat memasuki dasarian II Juni pada fase 4 saat berada di atas Indonesia, tapi terjadi sedikit lonjakan kondisi MJO pada pertengahan fase 4-5 (tanggal 14-18 Juni 2019) dan kembali melemah hingga akhir Juni 2019.

Gambar 3. Kondisi CH (GSMaP) dan OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dasarian bulan Juni 2019.

Distribusi curah hujan perdasarian selama Juni 2019 dapat dilihat. Dasarian I Mei 2019 terlihat curah hujan masih cukup tinggi di wilayah Indonesia Bagian utara dengan distribusi yang cukup merata. Sebaliknya, di wilayah Indonesia bagian Selatan (Pulau Jawan, Bali, Nusa Tenggara dan Pulau Sumatra bagian selatan) memiliki curah hujan yang cukup rendah. Selain karena aktifnya monsoon Australia hal ini diperkirakan terjadi karena tingginya nilai indeks IOD pada minggu pertama Juni 2019 sehingga menyebabkan maih tingginya curah hujan untuk wilayah utara Indonesia.

Terjadi penurunan curah hujan hampir di seluruh wilayah Indonesia pada dasarian II Juni 2019, kecuali di perairan Utara Papua yang menunjukkan adanya peningkatan curah hujan. Penurunan curah hujan yang cukup drastis terjadi pada dasarian III Juni 2019, seluruh wilayah Indonesia memiliki curah hujan yang sangat rendah (kurang dari 50 mm) pada dasarian ini. Semakin intensnya angin monsoon timur yang membawa udara kering melewati wilayah Indonesia (pola pergerakan angin pada Gambar 3), lemahnya MJO saat di wilayah Indonesia, dan kecenderungan ENSO positif (El Nino) selama Juni 2019 mempengaruhi kondisi curah hujan pada dasarian III Juni 2019.

Prediksi Curah Hujan untuk Beberapa Bulan Mendatang di Indonesia

Prediksi curah hujan untuk bulan Juli 2019 sampai dengan Februari 2020 menggunakan data hasil running Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition 1 Juli 2019, dan menggunakan data prediksi SST POAMA m24b_e02 30 Juni 2019 ditunjukkan oleh Gambar 4.

Menurut prediksi hasil model CCAM untuk bulan Juli 2019, daerah Indonesia bagian selatan, khususnya Pulau Jawa – Bali, Nusa Tenggara dan Timor Leste mengalami curah hujan rendah atau bahkan tidak terdapat hujan. Curah hujan yang rendah atau kondisi kering ini akan mengalami puncaknya pada Bulan Agustus 2019. Hal ini merupakan akibat dari aktifnya monsoon Australia dan diperparah oleh fenomena El Nino. Hasil prediksi menggambarkan munculnya pembalikan arah monsoon, dari Australia menjadi Asia pada bulan Oktober 2019 yang merupakan tanda berakhirnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.

Aktifnya monsoon Asia yang diprediksi muncl mulai Oktober akan membawa awan-awan konvektif yang akan berdampak pada terjadinya hujan. Namun, monitoring fenomena El Nino tetap harus dilakukan untuk menambah kewaspadaan akan bencana kekeringan, meskipun pada bulan Oktober sebagian besar wilayah Indonesia memasuki awal musim hujan.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) 1 Juli 2019 dan SST prediksi dari POAMA (m24b_e02) yang dikeluarkan pada tanggal 30 Juni 2019.

Catatan: Terdapat kemungkinan perubahan dalam prediksi yang dihasilkan di bulan selanjutnya dikarenakan update kondisi inisial dan SST prediksi yang digunakan dalam model, dan mohon diperhatikan kemungkinan error yang tinggi untuk prediksi yang jauh dari initial condition, oleh karena itu prediksi akan selalu di-update setiap bulannya.

Tim Variabilitas Iklim 2019 – PSTA LAPAN;

Haries Satyawardhana, Eka Putri Wulandari, Gammamerdianti, Lely Qodrita Avia, Iis Sofiati, Suaydhi, Eddy Hermawan








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL