Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM APRIL 2019
10 May 2019 • Dibaca : 151 x ,

Kondisi Atmosfer Pada Bulan Maret-April 2019

Analisis bulanan kondisi atmosfer

Suhu permukaan di seluruh perairan Indonesia secara umum cenderung meningkat pada bulan April 2019 jika dibandingkan dengan Maret 2019 (Gambar 1). Suhu perairan tertinggi terlihat di wilayah perairan utara Sumatra yaitu sekitar 30°C. Angin monsoon menunjukkan adanya peralihan dari monsoon asia atau angin baratan ke monsoon australia atau angin timuran pada April 2019, hal ini terlihat dari mulai adanya pergerakan angin dari Benua Australia yang mulai memasuki wilayah Indonesia tapi Angin dari Barat atau Benua Asia masih cukup intens bertiup. Terlihat kecepatan angin masih rendah di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Kondisi keawanan di wilayah Indonesia pada April 2019 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan Maret 2019. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan nilai OLR pada April 2019 hampir di seluruh wilayah Indonesia (Gambar 1).  Pembentukan awan konvektif yang ditunjukkan oleh nilai OLR rendah (dengan nilai OLR sekitar 190-200 W/m2) masih terlihat cukup intensif di sekitar ekuator terutama di atas pulau Papua dan Sumatra.

Gambar 1. Kondisi angin di level 850 mb, SST dan OLR bulan Maret dan April 2019 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Musim peralihan monsoon Timur ke Barat menyebabkan penurunan pembentukan awan konvektif di wilayah Indonesia sehingga curah hujan Bulan April 2019 di wilayah Indonesia pun mengalami penurunan jika dibandingkan dengan Maret 2019 (Gambar 2).

Gambar 2. Akumulasi curah hujan (mm) di wilayah Indonesia pada bulan Maret dan April 2019  berdasarkan data GSMaP.

Data CPC hingga April 2019 yang masih menunjukkan kecenderungan kondisi ENSO positif yang berlangsung sejak beberapa bulan lalu. Kondisi ENSO positif selama Bulan April 2019 digambarkan oleh anomali SST Nino 3.4 yang mencapai nilai 0.74oC. Berdasarkan kondisi atmosfer dan lautan, kondisi ENSO Positif (El Nino) diprediksi akan tetap berlangsung hingga musim Agustus-September-Oktober (ASO) oleh IRI.  Menurut IRI, peluang terjadinya ENSO Positif akan terus menurun hingga 8 bulan mendatang, yaitu musim November-Desember-Januari (NDJ) 2019.

Kondisi Dipole Mode (IOD) di Samudra Hindia pada bulan Maret 2019 tergolong netral dengan nilai rata-rata -0.08. Berdasarkan Bureau of Meteorologi (BOM) Australia Indeks IOD dinyatakan netral jika dalam rentang -0.4 hingga 0.4. Nilai IOD terendah selama Bulan April 2019 terjadi pada minggu kedua, dengan nilai indeks IOD sekitar -0.04. Prediksi kondisi IOD yang dikeluarkan BOM menyatakan indeks IOD pada bulan Mei 2019 mengalami peningkatan dibanding kondisi April 2019 tapi masih dalam kategori netral. Selanjutnya IOD diprediksi mengalami lonjakan dan berada pada kategori IOD positif pada Juni 2019 – Oktober 2019 dengan probabilitas lebih dari 87%.


Analisis per dasarian (10 harian) bulan April 2019

Awal bulan April 2019, MJO berada dalam fase awal dan bergerak dari Bumi bagian Barat. Pada dasarian I dan II Bulan April intensitas MJO sangat lemah, dan mulai menguat memasuki dasarian III saat pergerakan MJO berada di atas Samudra Hindia hingga akhir dasarian III April saat MJO di atas Indonesia. NOAA memprediksi bahwa intensitas MJO melemah kembali pada dasarian I Mei, dan perlahan menguat pada dasarian II Mei 2019.

Gambar 3. Kondisi CH (GSMaP) dan OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dasarian bulan April 2019.

Distribusi curah hujan bulan April 2019 untuk wilayah Indonesia pada dasarian III lebih merata dibandingkan dengan curah hujan pada dasarian I dan II (Gambar 3). Pada dasarian I terlihat bahwa di wilayah Papua memiliki curah hujan tinggi dan pembentukan awan konvektif yang juga sangat intensif. Pada dasarian II terjadi peningkatan pembentukan awan konvektif yang terlihat dari penurunan nilai OLR hampir di seluruh wilayah Indonesia, hal ini menyebabkan peningkatan curah hujan kecuali di Pulau Papua yang justru mengalami penurunan curah hujan karena penurunan pembentukan awan konvektif. Pada dasarian III terlihat curah hujan wilayah Indonesia yang lebih merata dibanding dasarian I dan II, juga adanya peningkatan curah hujan dan pembentukan awan konvektif di beberapa wilayah, selain itu terlihat adanya peningkatan curah hujan yang sangat drastis di samudra hindia barat. Hal ini diperkirakan karena pengaruh MJO yang cukup aktif saat berada di wilayah Samudra Hindia dan Indonesia pada dasarian III April 2019.


Prediksi Curah Hujan untuk Beberapa Bulan Mendatang di Indonesia

Prediksi curah hujan untuk bulan Mei 2019 sampai Desember 2019 menggunakan data hasil running Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition 1 Mei 2019, dan menggunakan data prediksi SST POAMA m24b_e02 29 April 2019 ditunjukkan oleh Gambar 4.

Menurut prediksi hasil model CCAM untuk bulan Mei 2019 menggambarkan curah hujan yang masih cukup tinggi di sekitar ekuator, sedangkan curah hujan untuk daerah Indonesia bagian selatan diprediksi sudah mulai menurun. Hal ini berkaitan dengan melemahnya monsoon Asia dan mulai masuknya monsoon Australia. Curah hujan yang masih tinggi terdapat di bagian ekuator, yang merupakan pertemuan antara monsoon Australia dan Asia, sehingga terdapat konvergensi massa udara di daerah tersebut. Terlihat penurunan curah hujan yang cukup signifikan di daerah Indonesia bagian selatan pada Bulan Juni 2019. Penurunan curah hujan ini merupakan indikasi masuknya daerah tersebut ke musim kemarau ditandai dengan mulai menguatnya angin timuran di kawasan Indonesia bagian selatan. Menguatnya angin timuran ini merupakan tanda dari menguatnya pengaruh monsoon Australia. Berdasarkan hasil running CCAM, monsoon Australia akan menguat dan aktif hingga Bulan Oktober 2019. Hasil prediksi CCAM untuk bulan November menggambarkan melemahnya monsoon Australia dan menguatnya monsoon Asia diiringi oleh peningkatan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) 1 Mei 2019 dan SST prediksi dari POAMA (m24b_e02) yang dikeluarkan pada tanggal 7 28 April 2019.


Catatan: Terdapat kemungkinan perubahan dalam prediksi yang dihasilkan di bulan selanjutnya dikarenakan update kondisi inisial dan SST prediksi yang digunakan dalam model, dan mohon diperhatikan kemungkinan error akan tinggi untuk prediksi yang jauh dari initial condition, oleh karena itu prediksi akan selalu di-update setiap bulannya.

Tim Variabilitas Iklim 2019 – PSTA LAPAN (Haries Satyawardhana, Eka Putri Wulandari, Gammamerdianti, Lely Qodrita Avia, Iis Sofiati, Suaydhi, Eddy Hermawan)








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL