Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Analisis Atmosfer Untuk Bencana Hidrometeorologis Di Sulawesi Selatan
11 Feb 2019 • Dibaca : 730 x ,

Penyusun:

Eddy Hermawan, Teguh Harjana, Ginaldi Ari,Ina Juaeni, Ibnu Fathrio, Lilik Slamet,Farid Lasmono, Haries Satyawardhana, Risyanto,Tiin Sinatra, Anis Purwaningsih, Shailla Rustiana

INFORMASI BENCANA

Bencana banjir dan longsor di Sulawesi selatan pada 21 dan 22 Januari 2019 menyebabkan banyak korban jiwa dan harta benda. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam https://www.bbc.com/indonesia (2019), hujan terjadi sejak tanggal 21 Januari 2019 dengan intensitas beragam, di Stasiun Klimatologi Kabupaten Maros tercatat curah hujan mencapai 133 mm, sementara di Stasiun Meteorologi Klas I Hasanuddin Makassar mencapai 197 mm. Informasi lain dari http://makassar.tribunnews.com (2019) menyebutkan hujan deras disertai angin kencang terjadi di Jalan Macanda, Kelurahan Mawang, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan, sekitar pukul 07:45 WITA pada Selasa, 22 Januari 2019 dan hujan kembali turun pada Rabu, 23 Januari 2019.

Hujan deras dengan intensitas lebat yang terjadi pada Senin malam hingga Selasa pagi (21-22 Januari 2019) lalu menyebabkan volume Bendungan Bili-bili di Kabupaten Gowa meningkat hingga ke level waspada. Kemudian pemerintah melakukan pembukaan pintu air bendungan Bilibili, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa (https://news.detik.com/, 2019). Akibatnya, terjadi luapan air di sungai Jeneberang yang merupakan sungai terpanjang di Sulawesi Selatan. Luapan tersebut menyebabkan banjir di wilayah Gowa, yang menyebar di 188 desa di 71 kecamatan yang tersebar di 13 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, yaitu Jeneponto, Maros, Gowa, Kota Makassar, Soppeng, Wajo, Barru, Pangkep, Sidrap, Bantaeng, Takalar, Selayar, dan Sinjai, hingga menimbulkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa.

BNPB menyebutkan dampak bencana banjir tersebut tercatat 68 orang meninggal dunia, 7 orang hilang, 47 orang luka-luka, dan 6757 orang mengungsi. Sementara kerusakan fisik yang terjadi, meliputi 5198 unit rumah terendam, 550 diantaranya rusak yang terdiri atas 33 unit hanyut, 459 rusak berat, 30 rusak sedang, 23 rusak ringan, dan 5 tertimbun, 16,2 kilometer jalan terdampak, 13326 hektare sawah terdampak, serta 34 jembatan, 2 pasar, 12 unit fasilitas peribadatan, 8 fasilitas pemerintah, dan 65 unit sekolah (https://news.detik.com, 2019). Dari 13 kabupaten/kota terdampak, Kabupaten Gowa, Kota Makassar, Janeponto, Marros, dan Wajo merupakan daerah terdampak yang paling parah.

Gambar 1 Banjir di kabupaten Gowa (www.republika.co.id)

Menanggapi informasi di atas, Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer/PSTA - LAPAN melakukan analisis atmosfer pada saat, sebelum dan ketika bencana banjir terjadi. Analisis cuaca lokal dari hasil pengamatan insitu dan pengamatan satelit, yang dikolaborasikan dengan kondisi iklim global dan hasil model prediksi cuaca dari SADEWA (www.lapan.go.id), dilakukan untuk mengetahui penyebab terjadinya bencana banjir tersebut. Hasil analisis ini diharapkan dapat dijadikan pembelajaran bagi masyarakat maupun stakeholder dalam menghadapi kondisi serupa.

ANALISIS ATMOSFER

Curah hujan AWS yang ditampilkan di SADEWA merupakan bentuk kolaborasi PSTA dengan BMKG. AWS milik BMKG (dalam website AWS rekayasa: http://202.90.199.132/aws.news, 2019) ini memberikan data akumulasi curah hujan per-jam (mm). Lokasi AWS yakni di Paotere merupakan AWS dengan jarak terdekat dengan Bendungan Bili-bili yang alirannya mengarah ke sungai Jeneberang (Gambar 2 a). Pada stasiun Paotere, curah hujan tinggi terjadi sejak 21 Januari 2019 pukul 16:00 UTC (23:00 WIB) dan menunjukkan peningkatan pada tanggal 22 Januari 2019 (Gambar 2 b). Data curah hujan di stasiun Paotere menunjukkan adanya konsistensi dengan informasi dari media massa.

Gambar 2 (a) Lokasi AWS Maritim Paotere (b) Curah hujan harian dari AWS Maritim Paotere tanggal 21-22 Januari 2019 (waktu dalam UTC)

Gambar 3 memperlihatkan adanya sel konveksi pada hari Senin siang yang menutupi atmosfer Sulawesi bagian barat daya, sempat melemah pada sore hari tetapi kemudian menguat lagi pada malam hari. Gambar 3 adalah hasil penelusuran data satelit Himawari-8 dengan menggunakan suhu kecerahan berdasarkan kanal infra merah (IR) 6,2 μm, 10,4 μm dan 12,4 μm. Jika suhu kecerahan pada kanal 6,2 lebih kecil dari suhu pada kanal 10,4 dan kanal 12,4 maka diidentifikasi/diduga ada awan yang sedang tumbuh yang puncaknya belum mencapai tropopause. Masih memanfaatkan data satelit Himawari-8, indeks konveksi yang ditentukan berdasarkan suhu puncak awan menunjukkan nilai signifikan. Nilai indeks konveksi mencapai maksimum pada tanggal 22 Januari pagi sampai siang hari (Gambar 4). Sel konveksi ini selain kuat juga berlangsung lama sehingga diduga kuat sel konveksi inilah yang menghasilkan awan dan hujan terus menerus di atas Sulawesi selatan. Hujan lebat di Pare-pare atau sebelah utara Bendungan Bili-bili terdeteksi oleh SADEWA, yang puncaknya terjadi pada malam hari pukul 21:00-24:00 WIB seperti diperlihatkan pada Gambar 5.

Gambar 3  Capture ‘Awan Tumbuh’ SADEWA 21 Januari 2019, berturut-turut dari kiri ke kanan pada pukul: 12:00, 14:00, 16:00, 18:00, 20:00, 22:00, 24:00 WIB, ikon merah menunjukkan lokasi Bendungan Bili-bili sedangkan area berwarna merah menunjukkan lokasi puncak awan yang berpotensi hujan/hujan lebat

Gambar 4 Indeks konveksi berdasarkan satelit Himawari pada tanggal 21-22 Januari 2019

Gambar 5 Capture curah hujan prediksi SADEWA pada 21 Januari 2019 berturut-turut dari kiri ke kanan pada pukul: 12:00, 14:00, 16:00, 18:00, 20:00, 22:00, 24:00 WIB, ikon merah menunjukkan lokasi Bendungan Bili-bili

Sel konveksi ini di bangkitkan oleh adanya spot tekanan rendah di lautan dan daratan sebelah barat daya Sulawesi sejak tanggal 19 Januari 2019 (Gambar 6) yang kemudian memicu adanya konvergensi dan pembentukan sel konveksi.

Gambar 6 Tekanan permukaan dan sirkulasi di 850 mb pada 19 Januari 2019 pukul 06:00 UTC (lingkaran warna biru = spottekanan rendah)

Suplai uap air yang terus menerus dari lautan yang berasal dari Selat Makassar dan selat Karimata menyebabkan sel konveksi berkembang menjadi kuat. Aliran massa uap air menuju Sulawesi Selatan ditunjukkan melalui (Gambar 7) yang memperlihatkan adanya dominasi angin baratan pada tanggal 21-22 Januari 2018.

Gambar 7  Angin pada ketinggian 850mb dan tekanan permukaan pada pukul (a) 13:00 WIB, (b) 19:00 WIB (21 Januari 2019) (c) 00:00 WIB dan (d) 07:00 WIB (22 Januari 2019)

Gambaran yang serupa tentang sel konveksi, awan dan hujan di selat Makassar juga ditunjukkan oleh Global Satellite Mapping of Precipitation ( GSMaP). GSMaP mulai mendeteksi terjadi hujan pada hari Senin pukul 05:00 UTC (13:00 WITA) di atas lautan. Pukul 07:00 UTC (15:00 WITA) hujan mulai bergerak ke daratan Sulawesi selatan. Hal ini berlangsung sampai 22 Januari 2019 pukul 11:00 UTC (19:00 WITA) dengan intensitas hujan yang beragam mulai yang ringan 2-4 mm/jam sampai lebat 18.20 mm/jam. Pada Gambar 8 ditunjukkan hujan yang terdeteksi oleh GSMaP pada (a) 21 Januari 2019 pukul 14:00 UTC/22:00 WITA dan (b) 22 Januari 2019 pukul 11:00 UTC/19:00 WITA dalam bentuk distribusi spasial, sedangkan pada Gambar 9 diperlihatkan deret waktu curah hujan selama tiga hari di kabupaten Gowa. GSMAP juga mendeteksi hujan pada tanggal 23 Januari 2019.

Gambar 8  Curah hujan berdasarkan GsMaP pada pukul (a) 21 Januari 2019 pukul 14:00 UTC, (b) 22 Januari 2019 pukul 01:00 UTC

Gambar 9 Intensitas curah hujan selama 3 hari (21 sampai dengan 23 Januari 2019)

SADEWA versi terbaru (2018) telah membuat link dengan www.bom.gov.au (yaitu web resmi BOM) yang menampilkan indeks osilasi Madden Julian secara berkala. Indeks Madden Julian Oscillation (MJO) pada 21 Januari 2019 berada pada fase 5 (Gambar 10), yang artinya ada potensi pembentukan awan dan hujan di wilayah kontinen maritim termasuk Indonesia. Pada tanggal 21 Januari, MJO aktif berada di garis perbatasan antara fase 4 dan 5 dengan amplitudo sebesar 1,7. Wilayah diantara fase/kuadran 4 dan 5 MJO yang aktif dan kuat tersebut melewati Sulawesi Selatan. Nilai amplitudo ini semakin tinggi pada tanggal 21 dan 22 yaitu 2 dan 2,2, yang mengindikasikan adanya aktivitas konveksi yang lebih tinggi di wilayah kuadran 5 pada waktu tersebut. MJO aktif pada 3 hari tersebut, memperkuat analisis sebelumnya tentang curah hujan yang tinggi di wilayah Sulawesi Selatan.

Gambar 10 Capture Indeks MJO SADEWA (Sumber: www.bom.gov.au)

Bencana puting beliung menyertai bencana banjir dan longsor di beberapa lokasi di Sulawesi selatan. Puting beliung biasanya bersamaan dengan adanya awan Cumulonimbus (Cb). Pemicunya adalah spot tekanan rendah yang menyebabkan konvergensi dan konveksi yang menghasilkan awan Cb. Arus dalam awan Cb membentuk lintasan spiral. Pada tahap awal lintasan berbentuk spiral ini terjadi dalam awan, jika arus semakin kuat lama kelamaan turun ke bawah/permukaan membentuk ekor (serupa belalai). Jika hal serupa ini berkembang di laut lepas dengan posisi jauh dari ekuator maka dapat berkembang menjadi sangat kuat sampai mencapai skala tornado/hurricane dengan kecepatan angin sangat tinggi bisa mencapai ratusan km/jam dan bertahan hidup sampai berhari-hari. Jika putting beliung bergerak kearah darat atau terbentuk di darat maka kecepatan arus yang membentuk spiral akan semakin kecil karena gesekan dengan tanah dan benda-benda lain di permukaan lalu kemudian berhenti, sehingga sel melingkar ini hanya bertahan hidup di darat selama beberapa menit saja. Kecepatan maksimum rata-rata puting beliung di darat adalah 31 sampai 37 km/jam. Maka ada tiga persyaratan utama terjadinya puting beliung:

  1. Spot tekanan rendah
  2. Awan Cumulonimbus (Cb) yang kuat
  3. Dataran rendah

RINGKASAN

Sel konveksi yang berkembang menjadi awan dan hujan di sebelah barat daya Sulawesi selatan dan bergerak kearah daratan Sulawesi selatan menghasilkan hujan yang lebat dengan durasi yang cukup panjang di atas Sulawesi selatan. Hujan yang terus menerus meningkatkan runoff di permukaan (darat) dan volume air sungai/bendungan. Pada suatu ketika sungai, danau, bendungan dan tanah akan mengalami kejenuhan/over capacity. Jika hal ini terjadi maka air akan meluap dari sungai, danau dan bendungan sehingga terjadilah banjir. Ini yang terjadi pada bendungan Bili-bili yang menjadi pemicu banjir di wilayah Gowa.








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL