Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Mahasiswa Matematika FMIPA UNISBA Belajar Sains Atmosfer dan Antariksa di LAPAN Bandung
Penulis Berita : • Fotografer : • 23 Jan 2019 • Dibaca : 149 x ,

Bandung – PSTA & Pussainsa (Selasa, 22 Januari 2019), sebanyak 97 mahasiswa-mahasiswi program studi Matematika dari 3 angkatan (2016, 2017, dan 2018) beserta 4 dosen pendamping Universitas Islam Bandung (UNISBA) mengunjungi kantor LAPAN Bandung. Kunjungan yang baru pertama kali dilaksanakan oleh UNISBA ini dijelaskan oleh Ketua Prodi Matematika, dimaksudkan dalam rangka kunjungan industri. Mahasiwa angkatan 2018 wajib mengadakan kunjungan industri. Mahasiswa angkatan 2017 melakukan kunjungan industri dalam rangka mendapatkan tempat instansi untuk melakukan praktek kerja mahasiswa (PKL), sementara angkatan 2016 diorientasikan untuk mendapat bahan tugas akhir.

Djoko Trianas selaku PPID PSTA mengutarakan bahwa PSTA dan Pusainsa keduanya sudah ditetapkan sebagai kantor dengan zona WBK (wilayah bebas korupsi) sehingga dalam setiap kunjungan tidak dikenakan pungutan alias gratis. Di samping itu, kunjungan tedapat perbedaan dengan kunjungan mahasiwa ke LAPAN Bandung pada umumnya, di mana pembawa acara kunjungan ini merupakan mahasiswa UNISBA sendiri. Acara pun dimulai dengan pembacaan ayat suci Al Quran oleh mahasiswa yang dilanjutkan dengan sari tilawahnya.

Acara dilanjutkan dengan sambutan dari pihak LAPAN yang diwakili oleh Kepala Bagian (KaBag) Administrasi Pusat Sains Antariksa, Nurkhamdani. Beranjak kepada acara inti, pemaparan profil LAPAN oleh PPID Pusainsa, Ferdhy dan dilanjutkan dengan materi terkait cuaca antariksa: penyebab dan dan dampaknya oleh peneliti Pusainsa, Santi Suliatiani. Dijelaskan bahwa cuaca antariksa disebabkan oleh dinamika matahari yang merupakan pusat tata surya, di mana bumi menjadi salah satu anggota tata surya. Pada setiap periode 11 tahunan terdapat siklus matahari, di mana matahari berada pada puncak aktivitas dengan CME (Corona Mass Ejection) atau lonjakan korona yang dapat menginduksi magnetosfer dan ionosfer. Dampak dari CME ini adalah terhadap komunikasi dan informasi serta posisi berbasis satelit.

Narasumber ketiga yang mempresentasikan terkait hasil litbang PSTA berupa sistem pendukung keputusan (DSS) seperti SADEWA, SRIRAMA, SRIKANDI, SANTANU, dan SEMAR serta apa itu pemodelan atmosfer adalah Kepala Bidang Diseminasi PSTA, Lilik Slamet Supriatin. Dijelaskan bahwa pemodelan adalah pembuatan penyederhanaan sebuah sistem sehingga jika berbicara tentang pemodelan atmosfer Indonesia, adalah pembuatan dan penyederhanaan sistem atmosfer equator dan benua maritim Indonesia yang bersifat khas. Kekhasan ini disebabkan Indonesia yang terletak di equator dan merupakan negara kepulauan yang berbeda dengan negara-negara lain yang terletak di kawasan iklim yang sama seperti equador di benua Amerika atau Kongo di benua Afrika. Model dapat dibagi menjadi 2 yaitu statis dan dinamis. Pemodelan statis seperti bentuk persamaan matematika dan persamaan regresi. Persamaan regresi berfungsi untuk prediksi. Sedangkan pemodelan dinamis akan berbentuk loop (siklus), di mana output pada iterasi pertama dapat menjadi input pada iterasi berikutnya dan begitu seterusnya.

Acara kunjungan ilmiah dari UNISBA yang diterima di Ruang matahari Gedung 1 lantai 3 ini diakhiri dengan diskusi antara mahasiswa, dosen pembimbing, dan narasumber. Pada termin pertama dibuka pertanyaan untuk 3 orang. Dari forum diskusi terlontar pertanyaan seperti apa perbedaan PSTA dengan BMKG, bagaimana LAPAN menjawab teori bahwa bumi datar, mengapa kegiatan keantariksaan di Indonesia seperti kurang maju jika dibandingkan dengan negara lain serta pendapat yang menyatakan kalau saat ini atmosfer telah mengalami penipisan.

Semua pertanyaan dari mahasiswa dapat dijawab oleh narasumber seperti pertanyaan perbedaan PSTA dengan BMKG. Lilik Slamet Supriatin menjawab bahwa BMKG sebagai instansi operasional yang menginformasikan kondisi cuaca dan iklim serta prakiraannya, sedangkan PSTA adalah instansi litbang terkait atmosfer serta pemanfaatannya. Informasi cuaca yang diinfokan BMKG sebatas pada ibukota provinsi, sedangkan PSTA dengan SADEWA nya dapat menginformasikan cuaca pada resolusi spasial yang lebih tinggi lagi yaitu 50 km (setingkat dengan wilayah administrasi desa) dan prediksi cuaca sudah sampai 3 hari ke depan. Pada hubungan tripartite antara litbang, industri dan pengguna, maka posisi BMKG adalah sebagai pengguna (user) dari produk litbang yang dihasilkan PSTA, sedangkan industri di sini adalah sebagai produsen yang memperbanyak produk hasil litbang PSTA.

Menjawab tentang pertanyaan teori Bumi datar, Santi Suliatiani menjawab bahwa teori tersebut salah dan dapat dibuktikan mengapa pelangi berbentuk melengkung di langit? Hal itu disebabkan bumi berbentuk bulat. Lilik Slamet juga mencoba menjawab kegiatan keantariksaan di Indonesia yang dirasa agak terlambat. Hal itu dikarenakan kegiatan keantariksaan bersifat high cost (padat modal), high risk (mengandung risiko bahaya yang tinggi), dan high tech (teknologi tinggi). Seperti contohnya teknologi roket adalah teknologi anak bangsa sendiri, artinya tidak ada satu negara manapun yang akan membocorkan rahasia teknologi roket ke negara lain. Hal ini disebabkan teknologi roket memiliki dua sisi mata uang yaitu roket untuk pertahanan dan roket untuk penelitian. Roket untuk militer dapat diidentikan dengan teknologi peluru kendali yang apabila suatu negara telah menguasai teknologi tersebut, maka negara tetangganya kuatir akan teknologi roket tersebut disalahgunakan untuk peluru kendali yang dapat mengancam keamanan suatu negara.

Pertanyaan terakhir terkait kondisi atmosfer yang semakin menipis. Lilik Slamet Supriatin kembali menjawab bahwa memang atmosfer terutama konsentrasi ozon di stratosfer semakin berkurang. Istilah lubang ozon adalah istilah yang ditujukan untuk menunjukkan konsentrasi ozon yang semakin berkurang di lapisan kedua atmosfer bumi yaitu stratosfer. Kebalikan dari konsentrasi ozon, konsentrasi CO2 malahan semakin meningkat di atmosfer. Kunjungan ilmiah dari mahasiswa Unisba diakhiri dengan kunjungan ke media centre ASTINA yang dimiliki PSTA dan media center Pusat Sains Antariksa yang bernama SWIFT.

(Diseminasi PSTA LAPAN /LSS & SR)

 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL