Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM NOVEMBER 2018
10 Dec 2018 • Dibaca : 105 x ,

Kondisi Atmosfer Pada Bulan Oktober - November 2018

Analisis bulanan kondisi atmosfer

Suhu permukaan di seluruh perairan Indonesia cenderung meningkat pada bulan November  2018 jika dibandingkan dengan Bulan Oktober 2018 (Gambar 1). Suhu perairan tertinggi terlihat di wilayah ekuator yaitu sekitar 300C. Intensitas monsoon Australi semakin melemah pada bulan ini, seiring dengan menguatnya monsoon Asia. Hal ini terlihat dari perubahan arah dan kecepatan angin  yang signifikan di wilayah Utara ekuator. Menguatnya monsoon Asia dan peningkatan suhu perairan Indonesia berpengaruh juga terhadap pembentukan awan konvektif di atas Indonesia. Terlihat bahwa pada Bulan November terjadi peningkatan pembentukan awan konvektif hampir di seluruh wilayah Indonesia yang ditandai dengan penurunan nilai OLR. Awan konvektif terbentuk secara intensif dengan nilai OLR mencapai 180 W/m2 di atas Pulau Sumatra, Kalimantan bagian Barat dan Pulau Papua bagian Utara.

Gambar 1. Kondisi angin di level 850 mb, SST dan OLR bulan Oktober dan November 2018 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Beberapa parameter atmosfer seperti angin permukaaan, SST dan OLR sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1, cukup signifikan memengaruhi curah hujan bulan November 2018 (Gambar 2). Secara spasial, terjadi perluasan wilayah hujan dari bulan Oktober 2018. Hampir seluruh wilayah daratan Indonesia pada bulan ini memiliki curah hujan lebih dari 100 mm. Namun terjadi penurunan curah hujan di wilayah perairan sebelah barat Pulau Sumatra.

Gambar 2. Akumulasi curah hujan (mm) di wilayah Indonesia pada bulan Oktober dan November 2018 berdasarkan data GSMaP.

Sementara itu data CPC  menggambarkan kecenderungan kondisi ENSO positif selama Bulan November 2018.  Hal ini digambarkan oleh anomali SST Nino 3.4 yang mencapai nilai 1.01oC.  Menurut IRI, secara keseluruhan berdasarkan  kondisi atmosfer dan lautan, hasil prediksi ENSO menunjukkan kecenderungan kondisi ENSO terus meningkat hingga musim November-Desember-Januari (NDJ) dengan probabilitas El Nino mencapai 84%. Kondisi anomali SST diprediksi berangsur menurun hingga mencapai kondisi ENSO netral pada musim Juni-Juli-Agustus (JJA).

Kondisi Dipole Mode (IOD) di Samudra Hindia pada bulan Oktober 2018 tergolong netral berdasarkan Bureau of Meteorologi (BOM) Australia karena memiliki indeks sekitar 0.40C. Nilai indeks IOD rata-rata pada bulan  September 2018 bernilai 0.410C. Prediksi kondisi IOD yang dikeluarkan BOM menyatakan indeks IOD tetep pada kondisi netral hingga Mei 2019 dengan probabilitas 60.6%.

Analisis per dasarian (10 harian) bulan November 2018

Awal bulan November 2018, MJO berada dalam fase awal dan bergerak dari benua Afrika. Pada dasarian I MJO memiliki intensitas kuat dan berada di atas Samudra Hindia. Saat memasuki wilayah Indonesia pada dasarian II, MJO masih relatif kuat, kemudian sedikit melemah pada awal dasarian III. NOAA memprediksi bahwa MJO akan kembali menguat pada awal hingga pertengahan bulan Desember.

Gambar 3. Kondisi CH (GSMaP) dan OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dasarian bulan November 2018.

Distribusi curah hujan bulan November  2018 untuk wilayah Indonesia pada dasarian III lebih merata dibanding dasarian I dan II. Pada dasarian I curah hujan tinggi hingga mencapai 300 mm di Perairan barat Sumatra. Dasarian 2 terjadi penurunan curah hujan di perarian barat Sumatra, tapi secara umum di wilayah lain terjadi peningkatan curah hujan sehingga secara spasial penyebaran hujan lebih merata dari dasarian I. Hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki curah hujan lebih dari 50 mm pada dasarian ketiga. Berdasarkan standar BMKG bahwa awal musim hujan ditandai dengan curah hujan sama atau lebih besar dari 50 mm selama satu dasarian, maka pada akhir November ini seluruh wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan.

Prediksi Curah Hujan untuk Beberapa Bulan Mendatang di Indonesia

Prediksi curah hujan untuk bulan Desember 2018 sampai Juli 2019 menggunakan data hasil Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition 1 Desember 2018, dan menggunakan data prediksi SST POAMA m24b_e02 ditunjukkan oleh Gambar 4.

Menurut prediksi hasil model CCAM menggambarkan peningkatan curah hujan di Wilayah Indonesia bagian selatan dan ekuator, seperti Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali Nusa Tenggara Kalimantan dan Papua. Hal ini terpengaruh oleh aktivitas monsoon Asia yang mulai konsisten. Menurut prediksi bulan Desember, terdapat curah hujan di wilayah Indonesia bagian utara dan ekuator, namun di wilayah ini akan terjadi penurunan curah hujan pada bulan Januari 2019. Berbeda dengan wilayah Indonesia bagian selatan yang masih akan menjadi puncak hujan dari bulan Desember 2018 – Februari 2019, dan mulai menurun pada bulan Maret-April-Mei 2019 (meskipun masih terdapat hujan). Kondisi kering diprediksi akan terjadi pada bulan Juni dan Juli 2019 seiring meningkatnya (aktif-nya) monsoon Australia pada periode tersebut. Hampir sama dengan prediksi Bulan November (lihat Laporan Variabilitas Iklim Oktober 2018) bahwa penguatan aktivitas monsoon Australia diprediksi akan terjadi mulai di bulan April 2019 yang menyebabkan penurunan curah hujan di Indonesia bagian selatan dan bergesernya puncak hujan ke arah ekuator dan utara.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) 1 Desember 2018 dan SST prediksi dari POAMA (m24b_e02) yang dikeluarkan pada tanggal 29 November 2018.

 

Catatan: Terdapat kemungkinan perubahan dalam prediksi yang dihasilkan di bulan selanjutnya dikarenakan update kondisi inisial dan SST prediksi yang digunakan dalam model, dan mohon diperhatikan kemungkinan error akan tinggi untuk prediksi yang jauh dari initial condition, oleh karena itu prediksi akan selalu di-update setiap bulannya.

(Tim Variabilitas Iklim 2018 – PSTA LAPAN)








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL