Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM AGUSTUS 2018
12 Sep 2018 • Dibaca : 112 x ,

Kondisi Atmosfer Pada Bulan Juli-Agustus 2018

Analisis bulanan kondisi atmosfer

Pada bulan Agustus (Gambar 1), suhu permukaan di perairan selatan Indonesia cenderung dingin akibat dari pengaruh musim dingin di Australia. Kondisi ini lebih dingin jika dibandingkan dengan kondisi bulan sebelumnya (Juni dan Juli). Hal ini berpengaruh terhadap kekuatan monsoon Australia yang bergerak menuju Indonesia. Kekuatan monsoon Australia di sebelah tenggara Indonesia memang lebih rendah dibandingkan dengan Juli, namun monsoon Australia yang bergerak sangat kuat di bagian barat daya Indonesia. Hal ini merupakan salah satu penyebab suhu udara dingin yang dirasakan hampir di seluruh daerah Jawa pada bulan ini, meskipun terdapat pengaruh lain yang berasal dari minimnya awan konvektif di Jawa. Sebaran awan dapat dilihat pada Gambar 1 yang memuat data OLR. Data OLR menunjukkan bahwa pada bulan Agustus, kondisi keawanan wilayah Indonesia sangat rendah. Data OLR Bulan Agustus 2018 menunjukkan adanya pengurangan awan konvektif di atas Indonesia, terutama di Perairan Selatan Jawa, yang ditunjukkan dengan tingginya nilai OLR mencapai 280 W/m2. Pada Gambar 1, pengurangan awan konvektif juga jelas terlihat di wilayah Utara Sumatra, Kalimantan dan Sumatra. Dengan sedikitnya awan di wilayah Indonesia mengakibatkan tidak adanya penahan radiasi gelombang panjang dari permukaan. Sehingga radiasi gelombang panjang langsung menuju ke luar angkasa. Hal ini menyebabkan suhu udara yang cenderung dingin pada malam hingga pagi hari di wilayah Ondonesia. Faktor lain adalah gerak semu matahari, yang pada bulan Agustus berada di belahan bumi utara.

Gambar 1. Kondisi angin di level 850 mb, SST dan OLR bulan Juli dan Agustus 2018 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Beberapa parameter atmosfer seperti angin permukaaan, SST dan OLR sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1, cukup signifikan memengaruhi curah hujan bulan Agustus 2018 (Gambar 2). Curah hujan bulan Agustus 2018 tampak lebih rendah dari bulan sebelumnya hampir di seluruh wilayah Indonesia. Dan daerah yang mempunyai curah hujan rendah meluas hampir seluruh wilayah Indonesia. Hal ini cukup menjelaskan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau.

Gambar 2. Akumulasi curah hujan (mm) di wilayah Indonesia pada bulan Juli dan Agustus 2018 berdasarkan data GSMaP.

Sementara itu data CPC  menggambarkan kecenderungan kondisi ENSO netral selama Bulan Agustus 2018.  Hal ini digambarkan oleh anomali SST Nino 3.4 di bawah 0.5oC.  Menurut IRI, secara keseluruhan berdasarkan  kondisi atmosfer dan lautan, hasil prediksi ENSO menunjukkan bahwa kondisi ENSO netral hinga periode Juli-Agustus-September (JAS) dengan probabilitas ENSO netral lebih dari 50%. Anomali SST di Nino 3.4 diperkirakan cenderung terus meningkat dan berpotensi terjadi El Nino dengan probabilitas lebih besar dari 50% mulai musim Agustus-September-Oktober (ASO) 2018 dengan probabilitas sekitar 51%, November-Desember-Januari (NDJ) 71%,  hingga Maret-April-Mei (MAM) 2019 dengan probabilitas 56%.

Kondisi Dipole Mode (IOD) di Samudra Hindia pada bulan Agustus 2018 tergolong netral berdasarkan Bureau of Meteorologi (BOM) Australia. Nilai indeks IOD rata-rata pada bulan  Agustus 2018 bernilai -0.06750C. Namun, prediksi kondisi IOD akan berubah menjadi IOD positif pada bulan Oktober 2018 dengan probabilitas 64%.

Analisis per dasarian (10 harian) bulan Agustus 2018

Selama bulan Agustus 2018, MJO masih berada dalam fase akhir (6 dan 7) dan memasuki S. Hindia timur di dasarian III dengan intensitas lemah. Pertengahan dasarian I, MJO berada  Samudera Pasifik bagian Barat. MJO mulai melemah pada dasarian 2 dan berada di Samudra Hindia dan memasuki perairan barat Sumatra pada dasarian 3 Juni 2018. Meskipun MJO berada di fase 3 dan 4, namun intensitas nya lemah, sehingga tidak terlalu signifikan membawa curah hujan ke Indonesia yang pada bulan ini mengalami musim kemarau, khususnya Pulau Jawa dan sekitarnya.

Gambar 3. Kondisi CH (GSMaP) dan OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dasarian bulan Agustus 2018.

Distribusi curah hujan bulan Agustus 2018 untuk wilayah Indonesia pada dasarian I dan II terlihat lebih kecil dibanding dasarian III. Pada dasarian I, curah hujan rendah hampir merata di seluruh wilayah Indonesia. Pada dasarian I terlihat pusat curah hujan tinggi berada di utara ekuator seperti di Laut Cina Selatan. Hal ini diperkirakan terjadi terkait dengan aktivitas monsun Australia yang tetap konsisten membawa pengaruh kering terhadap Indonesia, khususnya di kawasan Indonesia bagian selatan. Hal ini mengakibatkan rendahnya tingkat keawanan di Indonesia pada dasarian I yang terlihat pada Gambar 3. Selain monsoon Australia, MJO pada dasarian I juga telah menjauh dari Indonesia yaitu berada di fase 6 (Pasifik barat).

Pada dasarian II, kondisi curah hujan di Indonesia hampir sama dengan curah hujan di dasarian I. Awan konvektif yang pada saat dasarian I berada di Laut Cina Selatan berpindah ke perairan timur Filipina. Hal ini mengakibatkan terlihat adanya peningkatan curah hujan di daerah tersebut.

Adanya peningkatan awan konvektif pada dasarian III diperkirakan karena adanya aktivias MJO yang menguat di atas Samudera Hindia pada akhir dasarian ketiga sehingga menyebabkan terjadinya hujan dibanding dasarian I dan II, terutama di wilayah ekuator (Sumatra, Kalimantan dan Papua) dengan curah hujan tinggi berpusat di perairan barat Sumatra. Meskipun begitu, hal ini tidak berpengaruh terhadap curah hujan di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara yang masih mengalami kondisi kering.

Prediksi Curah Hujan untuk Beberapa Bulan Mendatang di Indonesia

Prediksi curah hujan untuk bulan September 2018 sampai Maret 2019 menggunakan data hasil Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition 1 September 2018 ditunjukkan oleh Gambar 4. Terlihat adanya peningkatan curah hujan di wilayah selatan Indonesia (Jawa, Bali, Nusa Tenggara) meskipun hanya sedikit (sangat rendah) pada September. Dimana menurut hasil prediksi curah hujan akan kembali rendah pada bulan Oktober 2018 meskipun monsoon Asia mulai menguat di wilayah Indonesia, hal ini menandakan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim peralihan dari kering ke basah. Meskipun memasuki musim peralihan, namun kondisi hingga bulan Oktober masih tergolong kering.  Menurut prediksi CCAM, monsoon Asia yang mulai menguat pada Oktober mempengaruhi curah hujan di Indonesia pada bulan November 2018, dengan adanya peningkatan curah hujan bulanan pada bulan ini. Musim hujan diperkirakan terjadi pada Bulan November hingga Maret 2019, meskipun pada bulan Maret 2019 terjadi pembalikan angin dari monsoon Asia menjadi monsoon Australia.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) 1 September 2018 dan SST prediksi dari POAMA (m24b_emn) yang dikeluarkan pada tanggal 31 Agustus 2018.

 

Catatan: Terdapat kemungkinan perubahan dalam prediksi yang dihasilkan di bulan selanjutnya dikarenakan update kondisi inisial dan SST prediksi yang digunakan dalam model, dan mohon diperhatikan kemungkinan error akan tinggi untuk prediksi yang jauh dari initial condition, oleh karena itu prediksi akan selalu di-update setiap bulannya.

(Tim Variabilitas Iklim 2018 – PSTA LAPAN)








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL