Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM MEI 2018
25 Jun 2018 • Dibaca : 173 x ,

Kondisi Atmosfer Pada Bulan  April-Mei 2018

Analisis bulanan kondisi atmosfer

Bulan Mei 2018, pengaruh monsun Australia semakin menguat di Indonesia bagian selatan, dan di bagian utara sudah tidak ada pengaruh dari monsoon Asia. Pergerakan angin dari selatan semakin menguat menuju utara (menuju Asia) yang pada bulan sebelumnya (April) masih terlihat pengaruh monsoon Asia di Laut Cina Selatan (sekitar semenanjung Malaka). Gambar 1 menunjukkan angin timuran Mei 2018 yang sudah konsisten berhembus di atas Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Hal ini cukup menjelaskan daerah tersebut sudah memasuki musim kemarau.

Peningkatan SST pada Bulan Mei 2018 terjadi di perairan Utara Indonesia, sedangkan di wilayah ekuator hingga bagian Selatan Indonesia terjadi penurunan SST dibandingkan dengan Maret 2018. Tampak perairan hangat (>30C) yang bersumber dari perairan utara Australia di Bulan April mulai bergeser ke arah utara pada Bulan Mei 2018.

Dibandingkan dengan Bulan April 2018, berdasarkan data OLR pada bulan Mei 2018 tampak adanya pengurangan awan konvektif, terutama di wilayah ekuator. Hal tersebut ditunjukkan oleh peningkatan nilai OLR menjadi >210 W/m2.

Gambar 1. Kondisi angin di level 850 mb, SST dan OLR bulan April dan Mei 2018 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Beberapa parameter atmosfer seperti angin permukaaan, SST dan OLR sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1, cukup signifikan mempengaruhi curah hujan bulan Mei 2018 (Gambar 2). Curah hujan bulan Mei 2018 tampak lebih rendah di wilayah Selatan Indonesia dan perairan barat Sumatera. Wilayah ekuator dan utara Indonesia menunjukkan adanya peningkatan curah hujan di beberapa wilayah seperti wilayah Barat Kalimantan serta perairan Laut Banda. Salah satu penyebab kondisi tersebut adalah aktifnya monsoon Australia dengan pergerakan angin timuran yang terlihat di daerah tersebut. Sehingga secara umum, curah hujan di wilayah Indonesia tampak lebih terkonsentrasi di daerah ekuator.

Gambar 2. Akumulasi curah hujan (mm) di wilayah Indonesia pada bulan April dan Mei 2018 berdasarkan data GSMaP.

Sementara itu data CPC  menggambarkan kecenderungan kondisi ENSO netral selama Bulan Mei 2018, setelah pada bulan-bulan sebelumnya menunjukkan kondisi La Nina lemah.  Hal ini digambarkan oleh anomali SST Nino 3.4 sebesar –0.1oC.  

Menurut IRI, secara keseluruhan berdasarkan  kondisi atmosfer dan lautan, hasil prediksi ENSO untuk beberapa bulan mendatang menunjukkan periode Mei-Juni-Juli (MJJ) 2018 memiliki peluang ENSO dalam fase neutral 90%. Peluang terjadinya ENSO netral tersebut akan berlangsung hingga periode Juli-Agustus-September (JAS) 2018 namun dengan peluang yang semakin menurun menjadi 55%. Sedangkan peluang terjadinya El Nino sebesar 50% pada JAS dan semakin tinggi hingga 60% pada akhir tahun 2018.

Kondisi Dipole Mode (IOD) di Samudra Hindia pada bulan Mei 2018 tergolong netral berdasarkan Bureau of Meteorologi (BOM) Australia. Nilai indeks IOD sedikit meningkat pada minggu kedua dan ketiga Mei 2018,kemudian menurun pada akhir Mei 2018 dengan rata-rata indeks IOD sebesar 0.030C. Diprediksi kondisi IOD tetap netral untuk bulan selanjutnya dengan kemungkinan kejadian lebih dari 63%, dan diperkirakan bertahan hingga Desember 2018.

 

Analisis per dasarian (10 harian) bulan Mei 2018

Selama bulan Mei 2018, MJO bergerak dari Perairan Pasifik Barat menuju Benua Maritim Indonesia. Pertengahan dasarian I MJO mulai menguat saat memasuki bumi belahan barat dan afrika. MJO mulai melemah saat memasuki Benua aritim Indonesia. CPC memprediksi MJO terus melemah hingga pertengahan Juni 2018.

Gambar 3. Kondisi CH (GSMaP) dan OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dasarian Mei 2018.

Distribusi curah hujan bulan Mei 2018 untuk dasarian I terlihat lebih kecil dibanding dengan dasarian II dan III. Pada dasarian I, curah hujan rendah yang terjadi terkait dengan aktifnya monsun Australia yang tetap konsisten, dimana monsun Australia membawa pengaruh kering terhadap Indonesia, khususnya di kawasan Indonesia bagian selatan. Hal ini mengakibatkan rendahnya tingkat keawanan di Indonesia pada dasarian I yang terlihat pada Gambar 3.

Adanya peningkatan awan konvektif pada dasarian II diperkirakan karena adanya MJO aktif di Samudera Hindia pada akhir dasarian kedua sehingga menyebabkan curah hujan lebih tinggi dibanding dasarian terutama di perairan barat Sumatra, barat Kalimantan, dan di sekitar Laut Banda.

Sedangkan pada dasarian III curah hujan terlihat masih tinggi di Indonesia, meskipun indeks MJO menunjukkan bahwa terjadi penurunan internsitas MJO dari dasarian II ke dasraian III. Akumulasi curah hujan yang masih tinggi pada dasarian III  tersebut tampak akibat adanya penurunan indeks IOD menjadi -0.180C dari sebelumnya 0.150C.

Berdasarkan prediksi CPC, MJO akan melemah dan masuk fase disipasi pada bulan Juni 2018, yang dapat memberikan efek kering di awal bulan Juni 2018.

 

Prediksi Curah Hujan untuk Beberapa Bulan Mendatang di Indonesia

Prediksi curah hujan untuk bulan Juni sampai Januari 2018 menggunakan data hasil Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition 1 Juni 2018 ditunjukkan oleh Gambar 4. Hasil prediksi curah hujan bulanan menggunakan CCAM dengan initial condition 1 Juni 2018 menunjukkan adanya penurunan  curah hujan di wilayah Indonesia bagian selatan pada bulan Juni  hingga Juli  2018.  Pada bulan Juli 2018 tampak sebagian besar wilayah selatan Indonesia (Jawa, Bali, Nusa Tenggara) akan mengalami puncak musim kering. 

Meskipun demikian, di sebagian Pulau Jawa masih akan terjadi hujan namun dengan intensitas yang lebih kecil dibanding bulan Mei 2018 (lihat Laporan Variabilitas Iklim Bulan April sub bab prediksi). Sebagian besar wilayah Indonesia mencapai puncak curah hujan pada Oktober 2018, selanjutnya curah hujan diprediksi berangsur menurun hingga Januari 2019 kecuali untuk wilayah Selatan Indonesia yang mencncapai puncak curah hujan pada Desember 2018.

Sedangkan analisis pergerakan angin pada Gambar 4 tersebut menunjukkan bahwa aktivitas monsun Australia mulai menguat pada bulan Mei 2018 di Indonesia bagian selatan dengan tingginya kecepatan angin timuran di daerah tersebut. Seiring dengan konsistennya monsun Australia yang mempunyai sifat kering, maka puncak musim kemarau di Pulau Jawa akan terjadi pada bulan Juli 2018, berbanding terbalik dengan bagian utara ekuator yang mengalami kenaikan curah hujan.

Berdasarkan hasil prediksi CCAM tersebut, konsistensi monsun Australia akan melemah pada bulan September 2018 dan memasuki musim peralihan dimana terdapat peningkatan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia. Menurut hasil prediksi, monsun Australia melemah pada bulan September dan mulai berganti menjadi monsun Asia pada Oktober 2018.

 

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) bulan 1 Juni 2018 dan SST prediksi dari POAMA (m24b_emn) yang dikeluarkan pada tanggal 30 Mei 2018.

Kriteria awal musim hujan menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) adalah jika terjadi curah hujan lebih dari 50 mm pada 3 dasarian berturut-turut, sedangkan awal musim kemarau didefinisikan jika dalam 3 dasarian berturut-turut terdapat curah hujan  <50 mm. Pada kesempatan ini, meskipun tidak disajikan dalam resolusi temporal dasarian, namun diharapkan dengan analisis probabilitas curah hujan > 5mm/hari (setara dengan 150 mm/bulan) dapat menggambarkan kriteria musim di Indonesia.

Gambar 5. yang menunjukkan probabilitas curah hujan dengan intensitas > 5 mm/hari berdasarkan prediksi 33 ensemble rata-rata dari POAMA. Dari Gambar 6. tersebut tampak bahwa pada prediksi bulan Juni 2018 di wilayah Indonesia terutama perairan selatan Indonesia, Jawa bagian timur, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan Sumatera bagian utara sedang mengalami musim kering dimana probabilitas curah hujan > 5 mm/hari tampak kecil (kurang dari 30%). Kondisi kering tersebut pada bulan Juli 2018 diprediksi akan semakin meluas sehingga hampir seluruh Pulau Kalimantan memiliki probabilitas curah hujan < 5 m/hari kurang dari 30%. Namun untuk Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara diprediksi kondisi kering akan terus berlanjut dan mencapai puncaknya pada bulan Oktober 2018.

Probabailitas curah hujan >5 mm/hari berangsur meningkat mulai dari Agustus hingga puncaknya Desember 2018. Hal ini berarti secara umum seluruh wilayah Indonesia berdasarkan prediksi POAMA akan mencapai puncak curah hujan pada Desember 2018.

Gambar 5. Probabilitas curah hujan berdasarkan prediksi 33 ensemble rata-rata untuk curah hujan > 5 mm/hari (CH>150mm/bulan) dari POAMA yang dikeluarkan setiap 4 hari di bulan Mei 2018.

Hasil prediksi 33 ensambel rata-rata POAMA kemudian dibandingkan dengan kondisi hujan klimatologis (30 tahun) yang didapat dari CMAP (CPC Merged Analysis of Precipitation) NOAA (Gambar 6). Tampak bahwa prediksi curah hujan Bulan Juni untuk wilayah Sumatra bagian selatan. Jawa bagian barat, Sulawesi bagian utara dan sebagian besar Papua lebih tinggi dari curah hujan klimatologisnya, hanya wilayah Selatan Kalimantan yang menunjukkan curah hujan dibawah curah hujan klimatologisnya. Prediksi bulan Agustus menunjukkan hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki curah hujan diatas curah hujan klimatologisnya, kecuali wilayah utara Sumatra, selatan Kalimantan, Bali, dan selatan Papua yang menunjukkan kondisi curah hujan dibawah curah hujan klimatologisnya, serta utara Kalimantan yang diprediksi memiliki curah hujan normal.

Gambar 6. Perbandingan curah hujan prediksi POAMA 33 ensemble rata-rata yang dikeluarkan setiap 4 hari di bulan Mei 2018 dan klimatologis curah hujan dari data CMAP.

 

Catatan: Terdapat kemungkinan perubahan dalam prediksi yang dihasilkan di bulan selanjutnya dikarenakan update kondisi inisial dan SST prediksi yang digunakan dalam model, dan mohon diperhatikan kemungkinan error akan tinggi untuk prediksi yang jauh dari initial condition, oleh karena itu prediksi akan selalu di-update setiap bulannya.

 (Tim Variabilitas Iklim 2018 – PSTA LAPAN)








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443
Email: tatausaha[dot]psta[at]gmail[dot]com ; psta[at]lapan[dot]go[dot]id



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL