Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM FEBRUARI 2018
20 Mar 2018 • Dibaca : 180 x ,

Kondisi Atmosfer Pada Bulan Januari – Februari 2018

Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan bulan Februari 2018 dari GSMaP (Gambar 1a),  terlihat bahwa intensitas curah hujan berkurang cukup signifikan di wilayah Indonesia khususnya curah hujan di lautan. Meskipun begitu curah hujan tinggi di daratan masih banyak terjadi khususnya untuk kawasan Indonesia selatan seperti di pesisir barat Sumatera, Jawa, Lampung dan Sulawesi tenggara dan Papua.

Gambar 1. Akumulasi curah hujan (mm) Indonesia Bulan Januari dan Februari 2017 berdasarkan data GSMaP.

Pada bulan Februari 2018 (Gambar 2), Indonesia masih dipengaruhi oleh monsoon musim dingin Asia (monsoon Asia). Kondisi curah hujan di Indonesia salah satunya dipengaruhi oleh kondisi pergerakan angin monsunal. Kondisi angin pada Bulan Februari cenderung sama dengan kondisi angin pada Januari 2018, meskipun terdapat konvergensi angin di sekitar pesisir barat Sumatera dan selatan Jawa.

Gambar 2. Kondisi angin di level 850 mb, SST dan OLR Bulan Januari dan Februari 2018 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Kondisi terbalik terdapat di OLR yang menandakan banyak sedikitnya awan konvektif. Dibandingkan dengan Bulan Januari yang terlihat banyaknya awan-awan konvektif di atas Indonesia, pada Bulan Februari justru tidak terlalu banyak awan konvektif di Indoneisa. Meskipun begitu di daerah Papua, Sulawesi Tengah, Kalimantan, Sumatera bagian selatan, utara Jawa dan Selat Sunda masih terdapat awan konvektif yang dapat menyebabkan hujan. Penurunan aktivitas konvektif ini ditengarai adanya penurunan SST di sebagian besar perairan Indonesia jika dibandingkan dengan Bulan Januari 2018. Pada Bulan Februari, tampak SST di Australia juga lebih rendah dibandingkan dengan Januari, hal ini menyebabkan gangguan pada monsun Asia yang melewati Indonesia.

Gambar 3. Kondisi OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dan CH dasarian (GSMaP) Februari 2018.

Jika dilihat dari data dasarian (Gambar 3), kondisi curah hujan dan OLR tidak merata di seluruh kawasan Indonesia. Terjadi peningkatan curah hujan di setiap dasarian untuk wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Maluku. Kalimantan mengalami penurunan curah hujan dari dasarian 1 menuju 2 tapi curah hujan meningkat kmbali pada dasarian 3. Curah hujan yang terjadi di atas daratan lebih tinggi disbanding curah hujan di atas perairan, hal ini karena pembentukan awan konvektif (ditunjukkan oleh nilai OLR) lebih banyak terbentuk di atas daratan pada bulan Februari.

Kondisi ENSO selama bulan Februari 2018 menunjukkan adanya kecenderungan fenomena La Nina, menurut data CPC. Hal ini digambarkan oleh anomali SST nino 3.4 sebesar -0.8°C, nilai ini berada di bawah ambang batas untuk La Nina yaitu -0,5°C dan telah terjadi selama 3 bulan berturut-turut. Secara keseluruhan berdasarkan kondisi atmosfer dan lautan, IRI memprediksi fenomena La Nina lemah akan segera berakhir dan pada Bulan Maret hingga Mei kondisi ENSO diperkirakan netral dengan kemungkinan sekitar 55%.

Selama bulan Februari MJO bergerak dari Samudera Hindia dengan  fase yang cukup kuat pada 2 minggu pertama Bulan Februari. Pertengahan hingga akhir Februari fase MJO melemah dibanding fase MJO yang terjadi pada Bulan Januari. Diperkirakan MJO akan terus melemah hingga pertengahan Bulan Maret 2018 dan berada diatas Samudera Hindia. Fase MJO tidak melintas diatas Indonesia pada bulan ini, sehingga kondisi MJO yang terjadi tidak terlalu berpengaruh terhadap kondisi cuaca.

Kondisi Dipole Mode di Samudra Hindia pada awal Februari menunjukkan indeks IOD negative dan menigkat hinga akhir Penigkatan indeks IOD selama Bulan Februari tidak terlalu signifikan sehinga koodisi IOD Februari tergolong netral dengan rata-rata nilai indeks 0.01. Prediksi dari Bureau of Meteorologi (BOM) Australia, kondisi IOD 2 bulan selanjutnya tetap pada kondisi netral.

Prediksi Curah Hujan untuk beberapa bulan mendatang di Indonesia

Prediksi curah hujan Maret – Agustus 2018 menggunakan data hasil Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition bulan Maret 2018 ditunjukkan oleh Gambar 4.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) bulan Maret 2018 dan SST prediksi dari POAMA yang dikeluarkan pada tanggal 26 Februari 2017.

Curah hujan bulan Maret 2018 yang dijadikan kondisi awal untuk prediksi curah hujan 5 bulan selanjutnya terlihat cukup merata di seluruh wilayah Indonesia kecuali di Bagian Utara Sumatera. Hasil prediksi meunjukkan dibeberapa wilayah Indonesia mengalami penurunan curah hujan, khususnya di bagian Selatan Indonesia. Jika dilihat dari angin, monsun Australia yang cenderung kering mulai bergerak memasuki wilayah Indonesia, tapi monsoon Asia yang lembab masih sedikit lebih kuat sehingga bulan Maret ini merupakan peralihan dari monsoon Asia ke monsoon Australia. Monsun Australia diprediksi mulai aktif bergerak pada bulan April. Hal ini menyebabkan adanya penurunan curah hujan di Indonesia Bagian Selatan pada bulan April hingga Juli 2018, , namun sebaliknya di kawasan ekuator, seperti di bagian tengah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku akan terjadi peningkatan curah hujan. Bagian Timur Indonesia khususnya Pulau Papua diprediksi mengalami peningkatan curah hujan pada Bulan April 2018, turun kembali pada bulan Mei 2018 dan cenderung stabil hingga Bulan Agustus 2018.

Catatan: Terdapat kemungkinan perubahan dalam prediksi yang dihasilkan di bulan selanjutnya dikarenakan update kondisi inisial dan SST prediksi yang digunakan dalam model, dan mohon diperhatikan kemungkinan errorr akan tinggi untuk prediksi yang jauh dari initial condition, oleh karena itu prediksi akan selalu di-update setiap bulannya.

 (Tim Variabilitas Iklim – PSTA LAPAN)








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL