Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM JANUARI 2018
28 Feb 2018 • Dibaca : 33 x ,

Kondisi Atmosfer Pada Bulan Desember-Januari 2018

Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan bulan Desember 2017 dari GSMaP (Gambar 1a),  terlihat bahwa intensitas curah hujan bertambah cukup signifikan di wilayah Indonesia selatan yang ditandai dengan meningkatnya pusat hujan di Pulau Jawa-Bali dan Papua bagian selatan. Peningkatan curah hujan yang signifikan terjadi di perairan selatan Jawa dan Australia. Sedangkan di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Ambon terjadi penurunan intensitas curah hujan.

Gambar 1. Akumulasi curah hujan (mm) Indonesia bulan Desember 2017 dan Januari 2018 berdasarkan data GSMaP.

Hal ini dapat dijelaskan oleh Gambar 2 yang memperlihatkan angin baratan dari Asia di kawasan Indonesia bagian selatan yang semakin konsisten pada Bulan Januari 2018  dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan bulan Desember 2017. Terlihat kecepatan angin yang bertambah tinggi pada bulan Januari 2018 dengan kecepatan menjadi 6-7 m/s yang semakin menguatkan konsistensi monsun Asia di Indonesia bagian selatan. Arah angin global wilayah Indonesia sepanjang bulan Januari bergerak dari Barat ke Timur (Angin monsoon Barat) yaitu dari benua asia menuju benua Australia. Hal ini secara umum meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia barat dan selatan menjadi sedikit lebih tinggi dari curah hujan klimatologisnya (menurut data CPC).

Gambar 2. Kondisi angin di level 850 mb, OLR dan SST bulan Desember 2017 dan Januari 2018 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Berdasarkan Gambar 2 mengenai kondisi awan yang ditunjukkan oleh nilai OLR, pada bulan Januari terlihat bahwa hamper di seluruh kawasan Indonesia terdapat awan konvektif jika dibandingkan pada bulan Desember, meskipun SST Januari di kawasan Indonesia pada tidak banyak berubah dibandingkan dengan Desember. Pengaruh semakin konsistennya monsoon Asia musim dingin (Monsun Asia) lebih besar dibandingkan dengan pengaruh SST di Indonesia pada bulan Januari 2018. Hal ini menyebabkan banyaknya awan konvektif dan tingginya curah hujan di kawasan Indonesia khususnya bagian selatan.

Selain itu, sepanjang bulan Januari berdasarkan data CPC terbentuk MJO cukup kuat yang bergerak dari Samudera Hindia menuju Pasifik Barat (melewati benua maritim / Maritime Continent (MC)). Fase MJO terkuat selama bulan Januari terjadi pada minggu terakhir Januari saat MJO mencapai fase 6 di atas Samudera Pasifik bagian Barat. Hal ini menyebabkan peningkatan curah Hujan di bagian Timur Indonesia. Diperkirakan MJO akan tetap kuat pada minggu pertama Februari dan mengalami pelemahan pada pertengahan Februari. Gambar 3 menjelaskan curah hujan dan OLR dasarian (10 hari). Berdasarkan gambar tersebut, terlihat curah hujan tampak merata di seluruh kawasan Indonesia. Untuk Pulau Sumatera curah hujan yang tinggi terjadi pada dasarian 1, namun terjadi penurunan di dasarian 2 dan 3. Sedangkan kawasan Indonesia bagian selatan yang meliputi Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, terjadi peningkatan curah hujan di setiap dasariannya. Curah hujan yang cukup tinggi banyak terjadi di wilayah perairan, seperti perairan barat Sumatera dan Selat Karimata pada dasarian 1, Laut Jawa, Perairan Natuna, perairan Indonesia Timur dan Selatan Jawa pada dasarian 2 dan sepanjang perairan selatan Indonesia pada dasarian 3. Hal ini disebabkan oleh banyaknya awan-awan konvektif yang terbentuk merata hampir di semua wilayah Indonesia selama bulan Januari 2018.

Gambar 3. Kondisi OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dan CH dasarian (GSMaP) Januari 2017.

Berdasarkan data CPC NOAA yang dirilis pada pertengahan Januari 2018, anomali suhu permukaan laut wilayah Pasifik  Tengah dan Timur selama bulan Agustus sampai Desember 2017 menunjukkan nilai negatif yang signifikan dan kembali mendekati kondisi normal  pada pertengahan Januari 2018. Sekarang, kondisi suhu bawah permukaan (sub-surface) menunjukkan anomali negatif lemah yaitu dengan nilai -1°C, yang berarti sedang terjadi kondisi La Nina Lemah berdasarkan standar ambang batas NOAA. Kondisi ini akan berlangsung hingga musim dingin di Bumi Bagian Utara selesai (sekitar Bulan Maret 2018) dengan kemungkinan sekitar 85%-95%.

Kondisi Dipole Mode di Samudra Hindia menunjukkan kondisi IOD negatif pada minggu pertama Bulan Januari dan berangsur menuju kondisi netral hingga akhir Bulan Januari dengan rata-rata nilai indeks -0.23. Prediksi IOD menggunakan data POAMA menunjukkan kemungkinan besar kondisi IOD netral akan berlangsung hingga akhir tahun 2018.

Prediksi Curah Hujan untuk beberapa bulan mendatang di Indonesia

Prediksi curah hujan Februari – Juli 2018 menggunakan data hasil Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition bulan Februari 2018 ditunjukkan oleh Gambar 4.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) bulan Februari 2018 dan SST prediksi dari POAMA yang dikeluarkan pada tanggal 30 Januari 2018.

Hasil prediksi curah hujan bulanan dengan kondisi awal bulan Februari 2017 adalah curah hujan yang masih cukup tinggi di wilayah Indonesia bagian selatan, khususnya Lampung, Jawa dan Bali. Sedangkan di Kalimantan bagian utara, Sumatra bagian Utara, Sulawesi diprediksi akan mengalami penurunan curah hujan jika disbanding bulan Januari 2018. Jika dilihat dari angin, monsun Asia yang konsisten terjadi pada Bulan Februari akan mulai melemah di bulan Maret 2018 dan mulai berubah arah pada bulan April akibat mulai masuknya pengaruh monsoon musim dingin Australia (monsoon Australia) dan bergerak intens hingga bulan Juli 2018. Hal ini mengakibatkan adanya penurunan curah hujan di Indonesia bagian selatan pada bulan April dan Mei meskipun pada hasil prediksi masih terdapat curah hujan, namun sebaliknya di kawasan ekuator, seperti di bagian tengah Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi akan terjadi peningkatan curah hujan.  Curah hujan mulai rendah pada bulan Juni dan Juli 2018 di Indonesia bagian selatan, seperti Jawa, Bali dan Nusa tenggara.

Catatan: Terdapat kemungkinan perubahan dalam prediksi yang dihasilkan di bulan selanjutnya dikarenakan update kondisi inisial dan SST prediksi yang digunakan dalam model, dan mohon diperhatikan kemungkinan errorr akan tinggi untuk prediksi yang jauh dari initial condition, oleh karena itu prediksi akan selalu di-update setiap bulannya.

 (Tim Variabilitas Iklim 2017 – PSTA LAPAN)








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL