Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM DESEMBER 2017
18 Jan 2018 • Dibaca : 125 x ,

1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan November-Desember 2017

Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan bulan Desember 2017 dari GSMaP (Gambar 1),  terlihat bahwa intensitas curah hujan berkurang cukup signifikan di wilayah Indonesia dibandingkan dengan curah hujan bulan November 2017. CH pada bulan November terlihat tinggi di Indonesia barat, Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya konvergensi yang terjadi pada saat peralihan monsun, dari monsun musim dingin australia menjadi monsun musim dingin asia, serta posisi ITCZ yang berada di ekuator. Selain itu selama bulan November juga terjadi beberapa kali fenomena siklon tropis di sebelah selatan Pulau Jawa yang banyak membawa hujan uap air, sehingga menyebabkan tingginya curah hujan di daerah tersebut. Meskipun begitu, CH bulan Desember masih terlihat cukup tinggi di daerah Papua dan Indonesia selatan terutama di wilayah Jawa dan.

Gambar 1. Akumulasi curah hujan (mm) Indonesia Bulan November dan Desember 2017 berdasarkan data GSMaP.

Hal ini dapat dijelaskan oleh Gambar 2 yang memperlihatkan semakin kuatnya angin dari arah Asia menuju ke Australia melewati Indonesia pada bulan Desember 2017. Jika dibandingkan antara bulan November, angin dari Asia menjadi lebih kuat melewati Indonesia yang menandakan aktifnya monsun Asia di Indonesia. Terlihat kecepatan angin yang bertambah pada bulan Desember 2017 dengan kecepatan rata-rata menjadi 3 - 4 m/s.

Gambar 2. Kondisi angin di level 850 mb dan SST November dan Desember 2017 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Pada Gambar 2, angin dari asia mulai menunjukkan konsistensinya yang menandakan bahwa monsun musim dingin asia (monsun asia) telah aktif di kawasan Indonesia. Jika dibandingkan dengan Bulan November 2017, di kawasan Indonesia bagian selatan terjadi penguatan kecepatan angin baratan pada bulan Desember 2017. Hal ini terjadi karena perbedaan suhu antara Asia dan Australia yang lebih tinggi pada Bulan Desember 2017  jika dibandingkan dengan November 2017. Namun jika dilihat secara regional di daerah perairan Selat Karimata, Laut Jawa dan sekitarnya justru SST bulan November 2017 lebih hangat. Hal ini menyebabkan banyaknya sumber penguapan di daerah tersebut dan mempengaruhi banyaknya awan konvektif yang terjadi selama bulan November jika dibandingkan dengan Desember. Sehingga penurunan curah hujan di kawasan Indonesia barat pada bulan Desember. Meskipun begitu, dengan meningkatnya aktivitas monsun asia pada bulan Desember, patut diwaspadai adanya peningkatan curah hujan di periode ini. Gambar 3 menjelaskan curah hujan yang tinggi terjadi di kawasan Indonesia bagian barat pada dasarian 1, curah hujan tinggi menjadi berpusat di Indonesia bagian selatan (Lau Jawa, Jawa dan perairan barat daya Sulawesi) pada dasarian 2, sedangkan pada dasarian 3, curah hujan tinggi terjadi, merata hampir di seluruh wilayah Indonesia. Pada dasarian 2 juga terjadi curah hujan yang sangat tinggi di daerah Pasifik Barat dan Filipina dan Laut Cina Selatan.

Gambar 3. Kondisi OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dan CH dasarian (GSMaP) Desember 2017.

Data CPC untuk kondisi ENSO selama bulan Desember 2017 menunjukkan adanya kecenderungan fenomena La Nina. Hal ini digambarkan oleh anomali SST Nino 3.4 sebesar -0.8°C, nilai ini berada di bawah ambang batas untuk La Nina yaitu -0,5°C dan telah terjadi selama 3 bulan berturut-turut. Secara keseluruhan berdasarkan kondisi atmosfer dan lautan, IRI memprediksi fenomena La Nina lemah hingga sedang  akan terjadi hingga Bulan Maret 2018 dengan peluang kejadian untuk bulan Januari, Februari, dan Maret 2018 secara berturut-turut adalah 92%, 82%, dan 66%.

Selama bulan Desember MJO bergerak dari Benua Maritim menuju Samudera Hindia dengan  fase yang cukup kuat dan diperkirakan akan terus bertambah kuat hingga pertengahan Januari 2018. Menurut CPC, awal bulan Desember menunjukkan adanya MJO kuat pada fase 4 dan 5. Saat ini pergerakan MJO tepat berada di atas Benua  Maritim Indonesia, sehingga meningkatkan curah hujan hampir seluruh wilayah Indonesia.

Kondisi Dipole Mode di Samudra Hindia juga menunjukkan kondisi IOD negatif dengan rata-rata nilai indeks -0.42. Prediksi IOD menggunakan data POAMA menunjukkan kemungkinan besar kondisi IOD akan mengalami peningkatan nilai indeks menjadi netral pada awal tahun 2018. Arah angin wilayah Indonesia sepanjang bulan Desember bergerak dari Barat ke Timur (Angin monsoon Barat) yaitu dari benua asia menuju Benua Australia.

2. Prediksi Curah Hujan untuk beberapa bulan mendatang di Indonesia

Prediksi curah hujan Januari – Juni 2018 menggunakan data hasil Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition bulan Januari 2017 ditunjukkan oleh Gambar 4.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan Jan – Juni 2018 menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) tanggal 1 Januari 2018 dan SST prediksi dari POAMA yang dikeluarkan pada tanggal 29 Desember 2017.

Hasil prediksi menggunakan CCAM menunjukkan bahwa terjadi curah hujan yang cukup tinggi di kawasan Indonesia bagian selatan dan menandakan sedang berlangsung musim penghujan seperti di Sumatera selatan, Lampung, Jawa dan Bali, dan Papua. Dan di daerah tersebut terjadi pengurangan hujan yang signifikan diperkirakan pada bulan April 2018 dengan menurunnya pengaruh monsun musim dingin asia (monsun asia) berganti dengan monsun musim dingin Australia (monsun Australia pada bulan April 2018. Hal ini ditandai dengan adanya perubahan angin dari baratan (Jan – Feb 2018), berubah menjadi calm (Maret 2018) menyebabkan transisi musim, dan berubah menjadi timuran pada saat April dan semakin konsisten hingga Juni 2018.

Catatan: Terdapat kemungkinan perubahan dalam prediksi yang dihasilkan di bulan selanjutnya dikarenakan update kondisi inisial dan SST prediksi yang digunakan dalam model, dan mohon diperhatikan kemungkinan errorr akan tinggi untuk prediksi yang jauh dari initial condition, oleh karena itu prediksi akan selalu di-update setiap bulannya.

 (Tim Variabilitas Iklim 2018 – PSTA LAPAN)








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL