Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM SEPTEMBER 2017
06 Oct 2017 • Dibaca : 388 x ,

1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan Agustus-September 2017

Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan bulan september 2017 dari GSMaP (Gambar 1a), daerah - daerah pusat hujan terletak di pesisir barat Sumatra, barat daya Kalimantan dan  Papua. Sedangkan curah hujan di Indonesia bagian selatan masih cenderung kering. Namun jika dibandingkan dengan bulan Agustus terlihat peningkatan curah hujan yang bergerak dari pesisir barat Sumatra ke arah selatan dan barat Jawa. Selain itu perbedaan yang cukup signifikan di kedua bulan yaitu terlihat peningkatan curah hujan yang signifikan disebagian besar wilayah seperti di barat laut Kalimantan, utara Papua, dan pesisir barat Sumatra.

Gambar 1. Akumulasi curah hujan (mm) Indonesia Bulan  Agustus dan September 2017 berdasarkan data GSMaP.

Hal ini dapat dijelaskan oleh gambar 2 yang memperlihatkan bahwa pola angin di ketinggian 850mb pada bulan September masih merupakan angin timuran. Hal ini menguatkan kondisi curah hujan di wilayah Indonesia yang masih cenderung kering di bagian selatan. Namun sudah mulai terlihat transisi angin timuran (monsun musim dingin Australia) ke angin baratan (monsun Asia) pada bulan September 2017, terlihat kecepatan angin menurun jika dibandingkan bulan Agustus terutama di bagian barat Indonesia. Selain itu pembelokan angin di barat daya Kalimantan pada bulan September 2017 terlihat semakin jelas yang diduga sebagai Borneo Vortex yang meningkatkan curah hujan di Kalimantan.

Gambar 2. Kondisi angin di level 850 mb Agustus dan September 2017 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Terlihat bahwa pengaruh angin timuran (monsun Australia) pada September 2017 mulai berkurang jika dibandingkan dengan bulan Agustus 2017. Hal ini ditandai dengan penurunan kecepatan anginnya dan peningkatan curah hujan yang mulai terlihat di selatan dan barat Jawa sebagai efek dari transisi musim. Gambar 2 juga menunjukkan bahwa konvergensi semakin terlihat dan meluas di Sumatra dan Kalimantan yang mengakibatkan semakin banyaknya awan-awan konvektif di wilayah tersebut.

Hal ini dapat dijelaskan dengan menggunakan data OLR yang menunjukkan tingkat konvektivitas di wilayah Indonesia pada Bulan September 2017. Secara umum pusat awan-awan konvektif masih berada di sekitar ekuator, belahan bumi utara dan Papua. Awan-awan ini mengakibatkan tingginya curah hujan di kawasan tersebut. Namun juga terlihat bahwa pusat awan konvektif semakin meluas dan bergerak ke arah selatan pada penghujung bulan September 2017 dan semakin berkurangnya daerah dengan tingkat konvektivitas yang rendah di selatan Indonesia. Ini menguatkan analisis curah hujan yang sedikit meningkat di selatan dan barat Jawa pada bulan September 2017.

Gambar 3. Kondisi OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dan CH dasarian (GSMaP) September 2017

Data CPC menunjukkan kondisi ENSO selama bulan September 2017 terpantau netral, namun berada dalam kondisi yang terpantau dapat memasuki kondisi La Nina lemah. Hal ini digambarkan oleh anomali SST nino 3.4 dengan nilai -0,4 °C. Prediksi El Nino menurut IRI yang dirilis pada pertengahan bulan Oktober 2017, dari periode SON peluang terjadinya ENSO netral 47% dan La Nina 53%, peluang La Nina pada OND meningkat menjadi 63% dan peluang ENSO neutral turun menjadi 37%. Kondisi La Nina (pendinginan di Samudra Hindia) diperkirakan akan berlangsung selama musim gugur dan musim dingin 2017. Sedangkan kondisi Dipole Mode di Samudra Hindia juga menunjukkan kondisi IOD netral dan diperkirakan akan berlangsung hingga penghujung tahun. Prediksi IOD menggunakan data POAMA menunjukkan kemungkinan besar kondisi IOD akan tetap netral hingga beberapa bulan mendatang. Selama bulan September MJO bergerak dengan phase yang sangat lemah, ini menandakan bahwa MJO tidak memberikan pengaruh terhadap curah hujan di Indonesia selama bulan ini.

2. Prediksi Curah Hujan untuk beberapa bulan mendatang di Indonesia

Prediksi curah hujan Oktober – Mei 2017 menggunakan data hasil Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition bulan Oktober 2017 ditunjukkan oleh Gambar 4.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) bulan Oktober 2017dan SST prediksi dari POAMA yang dikeluarkan pada tanggal 28 September 2017.

Hasil prediksi hujan rata-rata bulanan dengan kondisi awal bulan Oktober 2017 adalah adanya peningkatan curah hujan di hampir sebagian besar wilayah Indonesia. Meskipun jika dilihat dari angin, monsun Australia masih berpengaruh, khususnya di daerah Indonesia bagian selatan, namun kekuatannya mulai berkurang, hal ini merupakan tanda-tanda berakhirnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan. Pada Bulan November terlihat curah hujan yang sudah mulai intens di daerah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara akibat mulai aktifnya pengaruh dari monsun asia. Hal ini menandakan awal musim hujan di sebagian besar wilayah tersebut. Menurut hasil model CCAM, prediksi musim hujan di wilayah Indonesia bagian selatan kemungkinan akan terjadi hingga bulan Maret 2018, dan pada Bulan April 2018 mulai terjadi perubahan angin seiring aktifnya monsun Australia.

Catatan: Terdapat kemungkinan perubahan dalam prediksi yang dihasilkan di bulan selanjutnya dikarenakan update kondisi inisial dan SST prediksi yang digunakan dalam model, dan mohon diperhatikan kemungkinan error akan tinggi untuk prediksi yang jauh dari initial condition, oleh karena itu prediksi akan selalu di-update setiap bulannya.

 

(Tim Variabilitas Iklim PSTA LAPAN : Nurzaman A, Iis S, Lely Q.A, Erma Y, Haries S, Gammamerdianti, Shailla R, Rahmawati S)








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL