Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM AGUSTUS 2017
08 Sep 2017 • Dibaca : 333 x ,

1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan Agustus 2017

Pengamatan terhadap curah hujan pada bulan Agustus 2017 dari satelit GSMaP (Gambar 1) menunjukkan bahwa daerah – daerah curah hujan maksimum terletak sebagian besar di lautan sebelah barat Pulau Sumatera, sebagian kecil di wilayah Papua, dan bagian barat Kalimantan. Sedangkan Indonesia bagian selatan (Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara) tidak  terjadi hujan. Penurunan curah hujan di Indonesia bagian selatan terjadi akibat pengaruh monsoon Australia (angin timuran) seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 1. Akumulasi curah hujan (mm) Indonesia Bulan Juli 2017 berdasarkan data GSMaP.

Gambar 2 memperlihatkan angin timuran (monsoon Australia) pada bulan Agustus yang bergerak lebih konsisten dengan kecepatan tinggi. Sementara itu, tampak suhu permukaan laut yang tinggi di sekitar Pasifik barat, perairan sebelah utara Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.

Gambar 2. Kondisi angin di level 850 mb (kiri) dan SST (kanan) Agustus 2017 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR

Tidak berbeda jauh dengan kondisi variabilitas iklim bulan Juli 2017, pengaruh angin baratan (monsoon asia) pada Agustus 2017 pada wilayah Indonesia sudah tidak ada. Hal tersebut ditubjukkan dengan tidak adanya curah hujan di wilayah Indonesia bagian selatan. Pada Gambar 2 juga ditampilkan bahwa banyak terjadi konvergensi di wilayah Indonesia bagian tengah akibat dari berkurangnya pengaruh monsoon asia dan menguatnya monsoon Australia, yang mengakibatkan banyaknya awan-awan konvektif yang terbentuk pada wilayah tersebut. Kondisi ini dapat pula dijelaskan dengan data OLR (tiap dasarian, Gambar 3) yang menunjukkan tingkat konvektivitas yang rendah di Indonesia bagian selatan pada bulan Agustus 2017. Pusat awan-awan konvektif terjadi di sekitar ekuator, dan wilayah Indonesia bagian barat – utara, sebagian besar di sekitar Sumatera. Hal ini yang mengakibatkan tingginya curah hujan di wilayah paling barat Indonesia.

Gambar 3. Kondisi OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dan CH dasarian (GSMaP) Agustus 2017.

Data anomail SST di wilayah Nino 3.4 dari BOM menunjukkan kondisi ENSO selama bulan Agustus 2017 adalah netral, dengan nilai 0,0°C. Prediksi El Nino menurut IRI yang dirilis pada 18 Agustus 2017, untuk periode 3 bulanan, Agustus-September-Oktoober (ASO) peluang terjadinya ENSO netral 82%, sementara El Nino dan La Nina adalah 9%. Sedangkan kondisi Dipole Mode di Samudera Hindia berdasarkan laporan BOM memiliki nilai indeks 0,35°C. Hal ini menggambarkan bahwa tidak adanya gangguan ENSO dan IOD terhadap kondisi atmosfer pada Bulan September 2017. Prediksi IOD menggunakan data POAMA hingga beberapa bulan mendatang menunjukkan kondisi akan tetap netral. Sementara kondisi MJO pada bulan Agustus menurut laporan NOAA (update : 14 Agustus 2017), sinyal MJO tetap lemah selama 7 hari terakhir, dengan mode variabilitas lainnya yang berkontribusi terhadap pola tersebut. Hal ini menyatakan bahwa MJO tidak memberikan pengaruh terhadap curah hujan Indonesia.


2. Prediksi Curah Hujan untuk beberapa bulan mendatang di Indonesia

Prediksi curah hujan September - April 2017 menggunakan data hasil Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition bulan September 2017 ditunjukkan oleh Gambar 4.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) bulan September 2017dan SST prediksi dari POAMA yang dikeluarkan pada tanggal 29 Agustus 2017.

Hasil prediksi hujan rata-rata bulanan dengan kondisi awal bulan September 2017 adalah masih terdapatnya daerah dengan curah hujan yang cukup tinggi di Indonesia bagian utara dan tengah ekuator. Sedangkan di Indonesia bagian selatan terlihat kering. Hal ini adalah dampak dari pengaruh monsun Australia yang kering masih intensif. Meskipun begitu di Pulau Jawa sudah terdapat peningkatan curah hujan meskipun masih sedikit dan di bawah normal. Pada bulan Oktober, di atas Pulau Jawa masih dipengaruhi monsun Australia namun dengan intensitas yang lemah, hal ini ditandai dengan intensitas angin timuran yang mulai melambat dan pada Bulan November sudah mulai masuk pengaruh dari monsun Asia. Bulan November terlihat curah hujan yang sudah mulai intens di daerah Jawa, Bali dan Nusa tenggara akibat mulai aktifnya pengaruh dari monsun asia. Hal ini menandakan awal musim hujan di sebagian besar wilayah tersebut. Sedangkan di sebagian besar daerah Indonesia bagian utara dan tengah ekuator terjadi penurunan curah hujan selama Bulan November. Menurut hasil model CCAM, prediksi musim hujan di wilayah indonesia bagian selatan kemungkinan akan terjadi hingga bulan Maret 2018, dan pada Bulan April 2018 mulai terjadi perubahan angin seiring aktifnya monsun australia.

Catatan: Terdapat kemungkinan perubahan dalam prediksi yang dihasilkan di bulan selanjutnya dikarenakan update kondisi inisial dan SST prediksi yang digunakan dalam model, dan mohon diperhatikan kemungkinan errorr akan tinggi untuk prediksi yang jauh dari initial condition, oleh karena itu prediksi akan selalu di-update setiap bulannya.

 

(Tim Variabilitas Iklim PSTA LAPAN : Nurzaman A, Iis S, Lely Q.A, Erma Y, Haries S, Gammamerdianti, Shailla R, Rahmawati S)








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL