Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM JULI 2017
04 Aug 2017 • Dibaca : 497 x ,

1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan Juli 2017

Hasil pengamatan curah hujan bulan Juli 2017 dari satelit GSMaP (Gambar 1) menunjukkan daerah – daerah pusat hujan terletak di wilayah Indonesia bagian timur dan utara, yaitu sebagian besar di wilayah Papua. Curah hujan di wilayah Indonesia bagian tengah dan barat, hanya di daerah lautan di samping Pulau Sumatra bagian tenggara yang mengalami hujan. Sementara wilayah daratannya mengalami hujan dengan nilai yang lebih rendah. Jika dibandingkan dengan laporan variabilitas bulan Juni (lihat variabilitas iklim Juni 2017), peningkatan curah hujan terjadi cukup tinggi di wilayah timur – utara Indonesia.

Gambar 1. Akumulasi curah hujan (mm) Indonesia Bulan Juli 2017 berdasarkan data GSMaP.

Kondisi tersebut dapat terjadi berdasarkan penjelaskan Gambar 2 yang memperlihatkan angin timuran (monsun musim dingin Australia) pada bulan Juli yang bergerak lebih konsisten dengan kecepatan yang cukup tinggi, didukung dengan suhu permukaan laut di atas Papua yang juga tinggi sesuai dengan daerah terbentuknya angin yang membawa hujan.

Gambar 2. Kondisi angin di level 850 mb (kiri) dan SST (kanan) Juli 2017 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR

Hal ini menjelaskan bahwa pengaruh angin baratan (monsun asia) pada bulan Juli 2017 sudah tidak ada, yang ditandai dengan tidak adanya curah hujan pada wilayah barat – selatan Indonesia. Gambar 2 juga menunjukkan bahwa banyak terjadi konvergensi di wilayah Indonesia bagian tengah akibat dari berkurangnya pengaruh monsun asia dan menguatnya monsun Australia, yang mengakibatkan banyaknya awan-awan konvektif yang terbentuk. Keadaan ini juga dapat dijelaskan menggunakan data OLR (tiap dasarian, Gambar 3) yang menunjukkan tingkat konvektivitas yang rendah di Indonesia bagian selatan pada bulan Juli 2017. Pusat awan-awan konvektif terdapat di sekitar ekuator, dan wilayah Indonesia bagian timur – utara, sebagian besar di sekitar Papua. Hal ini yang mengakibatkan tingginya curah hujan di wilayah tersebut.

Gambar 3. Kondisi OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dan CH dasarian (GSMaP) Juli 2017.

NOAA menjelaskan kondisi ENSO selama bulan Juli 2017 terpantau tetap dengan nilai anomali SST nino 3.4 rata-rata +0,3°C. Hal yang sama juga dijelaskan oleh WMO (update : 7 Juli 2017) bahwa nilai anomali SST mendekati +0,5°C . Prediksi untuk 3 bulan ke depan (Juli-Agustus-September) memungkinkan ENSO-netral berada pada kisaran yang diperkirakan antara 50-60% namun kecil peluang untuk terjadinya La Nina. Sedangkan kondisi Dipole Mode di Samudra Hindia menurut laporan BOM juga menunjukkan kondisi neutral dengan nilai indeks -0,1°C. Hal ini menggambarkan bahwa tidak ada gangguan ENSO dan IOD terhadap kondisi atmosfer pada Bulan Agustus 2017. Prediksi IOD menggunakan data POAMA hingga beberapa bulan mendatang menunjukkan kondisi akan tetap netral. Hal yang menarik adalah kondisi MJO yang dapat menyebabkan hujan di musim kemarau. Berdasarkan laporan NOAA (sumber: cpc.ncep.noaa.gov; update: 17 Juli 2017), selama seminggu terakhir indeks RMM menunjukkan peningkatan amplitudo ke Fase 3. Prediksi MJO beberapa hari ke depan menunjukkan propagasi ke arah timur yang menyatakan bahwa MJO aktif dan akan menyebabkan hujan.


2. Prediksi Curah Hujan untuk beberapa bulan mendatang di Indonesia

Prediksi curah hujan Agustus - Maret 2017 menggunakan data hasil Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition bulan Agustus 2017 ditunjukkan oleh Gambar 4.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) bulan Agustus 2017 dan SST prediksi dari POAMA yang dikeluarkan pada tanggal 30 Juli 2017.

Hasil prediksi hujan rata-rata bulanan dengan kondisi awal bulan Agustus 2017 adalah masih terdapatnya daerah dengan curah hujan yang cukup tinggi di Indonesia bagian utara dan tengah ekuator. Sedangkan di Indonesia bagian selatan terlihat kering. Hal ini adalah dampak dari pengaruh monsun Australia yang kering masih intensif. Sedangkan pada bulan September di Pulau Jawa sudah terdapat peningkatan curah hujan meskipun masih sedikit. Pada bulan Oktober, di atas Pulau Jawa masih dipengaruhi monsun Australia namun dengan intensitas yang lemah, hal ini ditandai dengan intensitas angin timuran yang mulai melambat dan pada Bulan November sudah mulai masuk pengaruh dari monsun Asia. Bulan November terlihat curah hujan yang sudah mulai intens di daerah Jawa, Bali dan Nusa tenggara akibat mulai aktifnya pengaruh dari monsun asia. Hal ini menandakan awal musim hujan di sebagian besar wilayah tersebut. Sedangkan di sebagian besar daerah Indonesia bagian utara dan tengah ekuator terjadi penurunan curah hujan selama Bulan November. Menurut hasil model CCAM, prediksi musim hujan di wilayah indonesia bagian selatan kemungkinan akan terjadi hingga bulan Maret 2018 (dikarenakan prediksi hanya 8 bulan ke-depan) atau menunggu hasil prediksi bulan selanjutnya.

Catatan: Terdapat kemungkinan perubahan dalam prediksi yang dihasilkan di bulan selanjutnya dikarenakan update kondisi inisial dan SST prediksi yang digunakan dalam model, dan mohon diperhatikan kemungkinan error akan tinggi untuk prediksi yang jauh dari initial condition, oleh karena itu prediksi akan selalu di-update setiap bulannya.

(Tim Variabilitas Iklim PSTA LAPAN : Nurzaman A, Iis S, Lely Q.A, Erma Y, Haries S, Gammamerdianti, Shailla R, Rahmawati S)








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443
Email: tatausaha[dot]psta[at]gmail[dot]com ; psta[at]lapan[dot]go[dot]id



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL