Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM JUNI 2017
07 Jul 2017 • Dibaca : 454 x ,

1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan Mei - Juni 2017

Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan bulan Mei 2017 dari GSMaP (Gambar 1a), daerah – daerah dengan intensitas hujan maksimum terletak di Sulawesi bagian tenggara dan beberapa bagian di wilayah Papua. Sedangkan curah hujan di Indonesia bagian selatan (Jawa dan Bali) masih mengalami hujan dengan nilai yang lebih rendah. Hal serupa terjadi pada bulan Juni 2017. Wilayah Indonesia bagian timur mengalami peningkatan curah hujan terutama di Sulawesi Tenggara dan meluas hingga perairan Maluku serta Papua. Sedangkan pulau Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara mengalami penurunan curah hujan dibandingkan bulan Mei 2017 (Gambar 1 a).

Gambar 1. Akumulasi curah hujan (mm) Indonesia berdasarkan data GSMaP pada bulan, (a) Mei dan (b) Juni 2017

Menurut Climate Prediction Center NOAA, ENSO selama bulan Juni 2017 berada dalam kondisi netral. Suhu permukaan laut (SST) equatorial mendekati nilai rata-rata SST di Samudra Pasifik. Kondisi ENSO netral ini berlangsung selama bulan Juni hingga Desember 2017. Hal ini digambarkan oleh anomali SST nino 3.4 dengan nilai 0,6°C (update 5 Juni 2017). Serupa dengan hasil prediksi IRI terkait El Nino yang dirilis pada pertengahan bulan Juni 2017, kondisi Samudra Pasifik berada dalam keadaan ENSO netral dengan prediksi peluang pengembangan El Niño sekitar 40-45% selama bulan September hingga  Desember 2017.

Gambar 2. Kondisi angin di level 850 mb dan OLR bulan Mei dan Juni 2017 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Ditinjau dari kondisi angin di level 850mb, angin timuran telah memasuki wilayah Benua Maritim Indonesia pada bulan Mei 2017 dan menguat hingga bulan Juni 2017. Hal ini mengindikasikan bahwa monsun Australia mulai mempengaruhi kondisi cuaca di Indonesia seperti yang terlihat pada Gambar 2. Selain itu, terlihat bahwa konvergensi masih terjadi di Indonesia bagian tengah sehingga awan-awan konvektif masih terbentuk hingga bulan Juni 2017. Hal serupa terlihat dari nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) rendah yang mengindikasikan aktivitas konvektif yang tinggi di wilayah tersebut, terutama di bagian tengah hingga utara Indonesia (Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua). Hal ini mengakibatkan curah hujan tinggi masih terjadi di wilayah Indonesia bagian tengah (Sulawesi dan Maluku) pada dasarian 1 hingga dasarian  2 dan mulai berkurang pada dasarian 3  seperti yang tampak pada Gambar 3. Sedangkan di bagian selatan Indonesia (Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan sebagian Sumatra) curah hujan cenderung menurun selama dasarian 1 hingga dasarian 3 pada bulan Juni 2017 yang diakibatkan oleh aktifnya monsun Australia yang bersifat kering.

Gambar 3. Kondisi OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dan CH dasarian (GSMaP) April 2017

 

2. Prediksi Curah Hujan untuk beberapa bulan mendatang di Indonesia

Prediksi curah hujan Juli - Februari 2017 menggunakan data hasil Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition bulan Juli 2017 ditunjukkan oleh Gambar 4. Curah hujan pada bulan April 2017 masih cenderung tinggi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Namun pada bulan Mei 2017 di pulau Jawa dan Nusa Tenggara tampak sudah mengalami kondisi kering. Hal ini terus berlanjut dan semakin meluas hingga bulan Juni.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) bulan Juli 2017 dan SST prediksi dari POAMA yang dikeluarkan pada tanggal 30 Juni 2017.

Hasil prediksi hujan rata-rata bulanan dengan kondisi awal bulan Juli 2017 adalah curah hujan yang rendah di Indonesia bagian selatan yang menandakan sedang terjadi musim kemarau di beberapa daerah, seperti Jawa, Bali Nusa Tenggara. Hal ini adalah dampak dari pengaruh monsun Australia yang kering masih intensif, hal ini masih akan berlangsung hingga bulan Agustus, meskipun di Indonesia bagian utara dan tengah ekuator terjadi peningkatan curah hujan. Sedangkan pada bulan September di Pulau Jawa sudah terdapat peningkatan curah hujan meskipun masih sedikit. Pada bulan Oktober, di atas Pulau Jawa masih dipengaruhi monsun Australia namun dengan intensitas yang lemah, hal ini ditandai dengan intensitas angin timuran yang mulai melambat dan pada Bulan November sudah mulai masuk pengaruh dari monsun Asia. Bulan November terlihat curah hujan yang sudah mulai intens di daerah Jawa, Bali dan Nusa tenggara akibat mulai aktifnya pengaruh dari monsun asia. Hal ini menandakan awal musim hujan di sebagian besar wilayah tersebut. Sedangkan di sebagian besar daerah Indonesia bagian utara dan tengah ekuator terjadi penurunan curah hujan selama Bulan November. Menurut hasil model CCAM, prediksi musim hujan di wilayah indonesia bagian selatan kemungkinan akan terjadi hingga bulan Februari 2018, dan prediksi untuk Maret 2018 akan ditunjukkan oleh laporan bulan Agustus.

Catatan: Terdapat kemungkinan perubahan dalam prediksi yang dihasilkan di bulan selanjutnya dikarenakan update kondisi inisial dan SST prediksi yang digunakan dalam model, dan mohon diperhatikan kemungkinan errorr akan tinggi untuk prediksi yang jauh dari initial condition, oleh karena itu prediksi akan selalu di-update setiap bulannya.

 

(Tim Variabilitas Iklim PSTA LAPAN : Nurzaman A, Iis S, Lely Q.A, Erma Y, Haries S, Gammamerdianti, Shailla R, Rahmawati S )








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443
Email: tatausaha[dot]psta[at]gmail[dot]com ; psta[at]lapan[dot]go[dot]id



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL