Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


PARACITA ATMALOKA 2017 : Apa yang Dapat Kita Lakukan Untuk Memelihara Bumi?
Penulis Berita : • Fotografer : • 03 May 2017 • Dibaca : 465 x ,

Bandung – PSTA. Sabtu (29/04/2017), dalam rangka memperingati hari bumi sedunia yang dirayakan setiap tanggal 22 April, Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) LAPAN kembali menyelenggarakan Perayaan Cinta Atmosfer dan Lingkungan (PARACITA ATMALOKA) dengan mengusung tema pada tahun 2017 ini “Apa yang dapat kita lakukan untuk memelihara bumi?”.

Acara yang berlangsung sejak pukul 08.00 – 14.00 WIB ini terdiri dari dua rangkaian agenda paralel berupa Workshop dan Open House. Acara dibuka dalam workshop dengan laporan Kepala PSTA, Halimurrahman. Beliau berharap dengan diselenggarakannya acara ini dapat menumbuhkan kecintaan para masyarakat (mulai dari siswa tingkat dasar hingga tingkat atas, serta masyarakat umum) dalam memelihara lingkungan di sekitar Jawa Barat. Seperti diketahui akhir-akhir ini, perubahan kondisi lingkungan di Jawa Barat terjadi karena pengaruh cuaca dan iklim akibat adanya penyimpangan fenomena atmosfer.

Sambutan oleh Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin sekaligus membuka acara secara resmi diawali dengan paparan mengenai Efek Rumah Kaca. Bumi termasuk dalam habitable zone yang memiliki atmosfer layak hidup. Walaupun sebelumnya di awal masanya, bumi belum bisa ditempati karena memiliki kandungan karbondioksida yang sangat tinggi. Seiring perkembangannya, hadir tumbuh-tumbuhan yang menyerap karbondioksida. Tetumbuhan tertimbun sekian lama. Sekarang tumbuhan diambil sebagai bahan bakar (batu bara, minyak bumi, dan sebagainya). Kemudian karbon yang tersimpan diambil kembali dan dibakar. Karbondioksida lepas kembali ke atmosfer bumi. Sehingga bumi menjadi makin panas karena terciptanya Efek Rumah Kaca yang disebabkan tingginya intensitas karbondioksida di atmosfer.

Oleh karena itu, Kepala LAPAN menghimbau masyarakat untuk mulai sadar akan pemanasan yang terjadi. Aksi dapat dimulai dari diri sendiri seperti mengurangi penggunaan listrik penggunaan air dan penggunaan kendaraan bermotor yang dampaknya jelas terasa bagi masyarakat. Di akhir paparannya, beliau menghimbau agar para penerus bangsa yang hadir untuk menerapkan tiga R, yaitu Reuse, Recycle, dan Reduce dan berharap kegiatan tahunan yang diselenggarakan PSTA LAPAN ini bisa mendorong kita untuk mencintai serta menghargai lingkungan, dan tentu menyelamatkan umat manusia. Generasi mendatang bergantung pada sikap bijak kita terhadap atmosfer dan lingkungan.

Workshop yang dihadiri oleh para siswa SMP-SMA undangan didamping oleh para guru se-Bandung Raya dan Cimahi ini diawali dengan penjelasan singkat terkait PSTA LAPAN oleh Kepala Bidang Diseminasi, Adi Witono. Sebagaimana dijelaskan kepada para peserta workshop terkait visi dan misi PSTA, tugas dan fungsinya, juga produk-produk unggulan PSTA berupa sistem pendukung keputusan (Decision Support System, DSS).

Acara inti berupa mini workshop berjudul “Perubahan Variasi Monsoon di Indonesia” disampaikan oleh Peneliti bidang Klimatologi PSTA, Erma Yulihastin. Dalam presentasinya dijelaskan terkait definisi monsoon itu sendiri, wilayah monsoon, kriteria monsoon, konsep monsoon, penjelasan monsoon di Indonesia, dampak dari perubahan monsoon, serta adaptasi dan mitigasi dari dampak perubahan monsoon tersebut. Forum diskusi yang terjalin dalam mini workshop ini menambah pemahaman siswa-siswi juga guru SMP dan SMA se-Bandung Raya Cimahi terkait fenomena atmosfer di Indonesia.

Beranjak ke agenda acara Open House, beragam wahana menarik dan mengedukasi disajikan untuk para pengunjung yang berasal dari berbagai macam kalangan dan usia. Wahana yang disajikan diantaranya: Labirin Atmosfer, Bioskop Atmosfer, dan berbagai pameran yang terdiri dari produk DSS PSTA LAPAN, Simulasi Fenomena Atmosfer (Wisnu), Simulasi El Nino dan Monsun, Pelangi Warna, dan Rock Painting, serta games mengedukasi, “Jenga”. Hadir pula stand khusus dari KSHU LAPAN dan produk sponsor yang ikut merayakan acara ini.

Selain pameran, pada acara ini diselenggarakan pula lomba yang mengasah kreativitas siswa SMA/SMK dalam memahami fenomena cuaca dan iklim Indonesia dalam lomba “Reportase Cuaca” dan juga masyarakat umum dalam lomba “Membuat MeMe”. Lomba Membuat Meme dijuarai oleh M. Syarif dari SMAN 21 Bandung dan Siti Rohimat dari SMK Pasundan Cimahi. Sementara lomba Reportase Cuaca dijuarai oleh Fajri Fauziutami dan Farraz Arsyeila dari MAN 1 Bandung.

Setelah diumumkan pemenang lomba, acara ini ditutup pukul 14.00 WIB oleh MC dengan beberapa pesan kepada para pengunjung untuk tetap meningkatkan kepekaan juga kecintaan terhadap lingkungan, mulai dari lingkungan sekitar sejak dini. Karena lingkungan yang baik diawali dengan sikap yang baik dari masyarakat sekitarnya. Sampai jumpa di Paracita Atmaloka 2018!

(Tim Diseminasi PSTA/SR)








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL