Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM MARET 2017
31 Mar 2017 • Dibaca : 192 x ,











1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan Maret 2017

Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan bulan Maret 2017 dari GSMaP (Gambar 1a), daerah – daerah pusat hujan terletak di Sulawesi bagian tengah dan sebagian besar wilayah Papua. Sedangkan curah hujan di Indonesia bagian selatan (Jawa, Bali) masih mengalami hujan, meskipun dengan nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan daerah Sulawesi dan Papua. Hal yang menarik adalah sebagian besar Indonesia mengalami peningkatan curah hujan dan hanya Pulau Jawa dan Kalimantan barat yang justru mengalami penurunan curah hujan dibandingkan bulan Februari 2017 (Gambar 1 b).

Gambar 1. Akumulasi curah hujan (mm) Indonesia Bulan Maret 2017 berdasarkan data GSMaP.

Hal ini dapat dijelaskan dengan menggunakan data OLR yang menunjukkan tingkat konvektivitas yang rendah di sekitar Laut Jawa pada dasarian 1 dan 2 Bulan Maret 2017. Sedangkan pusat awan-awan konvektif terdapat di bagian selatan nusa tenggara dan Laut Arafuru. Hal ini menyebabkan tingginya curah hujan di daerah Papua bagian selatan.

Gambar 2. Kondisi OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dan CH dasarian (GSMaP) Maret 2017.

Intensitas curah hujan pada bulan Maret 2017 mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan bulan Februari 2017. Hal ini ditunjukkan oleh gambar distribusi spasial curah hujan dasarian 1 sampai 3 pada bulan Maret 2017 dari data GSMaP (Global Satellite Mapping of Precipitation) (sebelah kanan). Sedangkan distribusi spasial OLR dasarian 1-3 pada bulan Maret 2017 yang didapat dari CPC (Climate Prediction Center) (sebelah kiri) menunjukkan bahwa pada dasarian-1 distribusi OLR dengan nilai rata-rata 200 W/m2 hampir merata di seluruh wilayah BMI,  kecuali di ujung Timur P. Jawa, Bali, Sumbawa, Sumba sampai P. Flores dengan kisaran rata-rata 220 W/m2 . Dari kondisi tersebut curah hujan yang ditunjukkan oleh data GSMaP berkisar rata-rata 150 mm terjadi di sepanjang wilayah Barat P. Sumatera, sebagian besar wilayah Kalimantan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi, wilayah Selatan, Kepulauan Maluku, dan sebagian besar wilayah Papua. Intensitas curah hujan yang mencapai nilai 300 mm terjadi di sebagian kecil wilayah Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, dan Tengah, Kalimatan

Tengah dan  Selatan, Sulawesi Tengah, Papua wilayah Utara dan Selatan. Selanjutnya pada dasarian-2, distribusi OLR masih hampir merata di seluruh wilayah BMI dengan nilai rata-rata dibawah 200 W/m2,  kecuali di ujung P. Jawa, perairan Sulawesi bagian Tenggara, Sulawesi Utara, dan P. Halmahera dengan kisaran rata-rata (230-240) W/m2. Pada dasarian-2 ini dari data GSMAP terlihat adanya penurunan curah hujan yang hampir merata di seluruh wilayah Indonesia, dan curah hujan berkisar rata-rata 60 mm terjadi di beberapa wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Selat Sunda, P. Jawa, Sulawesi, NTB, dan NTT. Tetapi curah hujan dengan intensitas tinggi yang mencapai 300 mm masih terjadi di Kalimantan Tengah, perairan Selatan P. Jawa, Sulawesi Tengah, ujung Papua sebelah Utara dan Selatan serta perairannya. Kemudian pada dasarian-3, distribusi OLR kembali semakin merata di seluruh wilayah BMI dengan nilai rata-rata 200 W/m2 kecuali di sebelah Utara P. Halmahera dengan nilai rata-rata 240 W/m2 . Kondisi tersebut menghasilkan curah hujan yang hampir merata pula di seluruh wilayah Indonesia dengan intensitas yang lebih tinggi rata-rata mencapai (120-150) mm dibandingkan dengan  dasarian-2, kecuali di wilayah Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, NTB, NTT yang rata-rata hanya berkisar (60-80) mm. Intensitas curah hujan yang tinggi hingga mencapai 300 mm terjadi di perairan Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Selat Sunda, sebagian kecil wilayah Kalimatan Selatan, Sulawesi Tengah, P. Seram, ujung Utara Papua, dan Papua bagian Tengah.

Data CPC menunjukkan kondisi ENSO selama bulan Maret 2017 terpantau netral, hal ini digambarkan oleh anomali SST nino 3.4 dengan nilai 0,2°C (update 27 Maret 2017). Prediksi El Nino menurut IRI yang dirilis pada awal bulan Maret, dari periode FMA peluang terjadinya ENSO netral cukup tinggi (±85%)  hingga periode MAM (70%). Sedangkan kondisi Dipole Mode di Samudera Hindia juga menunjukkan kondisi neutral/normal dengan nilai indeks 0,1°C  untuk bulan Maret dan naik menjadi 0,3°C untuk April (update April 2017). Hal ini menggambarkan bahwa tidak ada gangguan ENSO dan IOD terhadap kondisi atmosfer pada Bulan Maret 2017. Sedangkan prediksi IOD menggunakan data POAMA hingga beberapa bulan mendatang menunjukkan kondisi neutral.

Gambar 3. Kondisi angin di level 850 mb Februari dan Maret 2017 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

 Kondisi Angin di level 850mb menunjukkan bahwa hingga Maret masih terjadi angin baratan di sebagian besar wilayah Indonesia meskipun dengan kecepatan angin yang lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan Februari. Hal ini menandakan bahwa pengaruh monsoon asia pada Maret 2017 mulai berkurang meski curah hujan pada bulan Maret masih cukup tinggi di sebagian besar wilayah Indonesia. Gambar 3 juga menunjukkan bahwa banyak terjadi konvergensi di sebelah tenggara Indonesia akibat dari berkurangnya pengaruh monsoon asia dan menguatnya monsoon Australia. Hal ini mengakibatkan banyaknya awan-awan konvektif yang terbentuk selama bulan Maret di daerah tersebut.

2. Prediksi Curah Hujan untuk beberapa bulan mendatang di Indonesia

Prediksi curah hujan menggunakan data hasil Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition bulan April 2017 ditunjukkan oleh Gambar 4. Curah hujan pada bulan April 2017 masih cenderung tinggi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Namun pada bulan Mei 2017 di pulau Jawa dan Nusa Tenggara tampak sudah mengalami kondisi kering. Hal ini terus berlanjut dan semakin meluas

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) tanggal 1 April 2017dan SST prediksi dari POAMA tanggal 28 Maret 2017.

Hasil prediksi hujan rata-rata bulanan dengan kondisi awal bulan Maret 2017 disajikan dalam bentuk probabilitas dari 27 anggota ensemble dari model POAMA. Hasil prediksi bulanan ini terbagi menjadi dua kategori, yaitu hujan ringan (rata-rata kurang dari 3 mm/hari) pada Gambar 5 dan hujan normal (hujan rata-rata lebih dari 5 mm/hari sebagai acuan untuk awal musim, yaitu lebih dari 150 mm/bulan) pada Gambar 6.

Gambar 5. Peluang terjadinya curah hujan di bawah 3 mm/hari (kering) dalam prediksi POAMA initial condition Bulan Maret 2017.

Gambar 6. Peluang terjadinya curah hujan di atas 5 mm/hari (normal) dalam prediksi POAMA initial condition Bulan Maret 2017.

Dari  hasil prediksi model POAMA dengan initial condition bulan Maret 2017, hujan ringan (rata-rata kurang dari 3 mm/hari), pada bulan April 2017, Nusa Tenggara mempunyai probabilitas tinggi terhadap terjadinya hujan ringan. Daerah-daerah yang mempunyai probabilitas tinggi terhadap hujan ringan makin meluas dari bulan Mei sampai Agustus 2017. Dari Nusa Tenggara pada bulan April 2017, meluas ke pulau Jawa (Jateng Jatim) pada bulan Mei 2017, hingga wilayah Indonesia di selatan garis ekuator pada bulan Juli dan Agustus 2017 kecuali Papua. Probabilitas hujan ringan ini mengindikasikan peta musim kemarau di wilayah Indonesia bagian Selatan, yang kemungkinan bisa terjadi sampai September 2017. 

Disusun oleh : Tim Variabilitas Iklim PSTA 2017








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL