Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM FEBRUARI 2017
22 Mar 2017 • Dibaca : 290 x ,

1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan Februari 2017

Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan bulan Februari 2017 dari GSMaP (Gambar 1), daerah – daerah pusat hujan terletak di sekitar pulau Jawa, Sumatera bagian selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi bagian tengah dan sebagian besar wilayah Papua. Sedangkan daerah Nusa Tenggara Timur mulai mengalami curah hujan yang rendah.

Gambar 1. Akumulasi curah hujan (mm) Indonesia Bulan Februari 2017 berdasarkan data GSMaP.

Hal ini sejalan dengan hasil pengamatan kondisi awan kumulonimbus (Cb) dari satelit Himawari 8 (Gambar 2 kiri). Awan – awan Cb terdeteksi banyak terbentuk sekitar pulau Jawa, Sumatera bagian selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi bagian tengah dan sebagian besar wilayah Papua. Sedangkan daerah Nusa Tenggara Timur tidak terdeteksi awan – awan Cb. Menurut data dari Climate Prediction Center (CPC), nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) kurang dari 210 W/m2 yang mengindikasikan pembentukan awan hujan tampak dominan di wilayah Indonesia (Gambar 2 kanan).

Gambar 2. Frekuensi kejadian awan Kumulonimbus (Cb) berdasarkan data IR1 satelit Himawari-8 dan OLR selama Bulan Februari 2017 di Indonesia

Data CPC menunjukkan kondisi ENSO Februari 2017 terpantau netral, hal ini digambarkan oleh anomali SST nino 3.4 dengan nilai 0,0°C (update 6 Maret 2017). Prediksi El Nino menurut IRI yang dirilis pada bulan Februari, periode Maret-April-Mei peluang terjadinya ENSO netral cukup tinggi (±70%) dan hal ini diperkuat dengan prediksi yang dirilis pada bulan Maret dengan peluang terjadinya ENSO neutral ±85%. Sedangkan dari data IOD (sumber: bom.gov.au), kondisi Dipole Mode di Samudera Hindia juga menunjukkan kondisi neutral/normal dengan nilai indeks -0,14°C (update 12 Maret 2017). Hal ini menggambarkan bahwa tidak ada gangguan ENSO dan IOD terhadap kondisi atmosfer pada Bulan Februari 2017. Sedangkan prediksi IOD menggunakan data POAMA hingga beberapa bulan mendatang menunjukkan kondisi neutral.

Akumulasi curah hujan yang besar selama bulan Februari 2017 tersebut, tampak masih dipengaruhi oleh Monsun Asia yang ditunjukkan dengan pola angin di level 850mb (Gambar 3).

Gambar 3. Kondisi angin di level 850 mb Februari 2017 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Aktivitas MJO tampak memberikan kontribusi terhadap curah hujan yang tinggi di sebagian wilayah Indonesia bulan Februari hanya terjadi pada dasarian I. Hal ini ditunjukkan oleh Gambar 4 yang memperlihatkan dominasi nilai OLR kurang dari 210 W/m2 hampir di sebagian besar wilayah Indonesia. Sedangkan pada dasarian II terdapat penurunan curah hujan di Indonesia bagian selatan yang disebabkan oleh adanya peluruhan aktivitas MJO (Fase 8) dan berkurangnya kekuatan monsun Asia (ditandai oleh menurunnya kecepatan angin baratan).  Pada dasarian III justru terlihat pembalikan arah angin menjadi angin timuran di Indonesia bagian selatan. Hal ini mendorong terbentuknya awan – awan konvektif di sepanjang ekuator dan menyebabkan curah hujan yang tinggi di wilayah tersebut.

Gambar 4. Kondisi angin di level 850 mb, curah hujan dan OLR dasarian Februari 2017.


2. Prediksi Curah Hujan Bulan Maret – Agustus 2017 di Indonesia

Prediksi curah hujan menggunakan data hasil Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition bulan Maret ditunjukkan oleh Gambar 5. Curah hujan pada bulan Maret hingga bulan Mei 2017 masih cenderung tinggi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Namun di pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara pada bulan Mei tampak sudah mengalami kondisi kering. Hal ini terus berlanjut dan semakin meluas hingga bulan Juni.

Gambar 5. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) dan SST dari POAMA tanggal 1 Maret 2017

Hasil prediksi hujan rata-rata bulanan dengan kondisi awal bulan Februari 2017 disajikan dalam bentuk probabilitas dari 27 anggota ensemble dari model POAMA. Hasil prediksi bulanan ini terbagi menjadi dua kategori, yaitu hujan ringan (rata-rata kurang dari 3 mm/hari) pada Gambar 6 dan hujan normal (hujan rata-rata lebih dari 5 mm/hari sebagai acuan untuk awal musim, yaitu lebih dari 150 mm/bulan) pada Gambar 7.

Gambar 6. Peluang terjadinya curah hujan di bawah 3 mm/hari (kering) dalam prediksi POAMA initial condition Bulan Februari 2017.

Gambar 7. Peluang terjadinya curah hujan di atas 5 mm/hari (normal) dalam prediksi POAMA initial condition Bulan Februari 2017.

Dari  hasil prediksi model POAMA dengan initial condition bulan Februari 2017, hujan ringan (rata-rata kurang dari 3 mm/hari) masih rendah probabilitasnya terjadi di wilayah Indonesia pada bulan Maret 2017 (Gambar 6.). Dengan kata lain pada periode Maret tersebut curah hujan masih banyak terjadi di wilayah Indonesia sebagaimana yang tampak pada Gambar 7. Sedangkan pada bulan April 2017, Nusa Tenggara mempunyai probabilitas sangat tinggi terhadap terjadinya hujan ringan. Daerah-daerah yang mempunyai probabilitas tinggi terhadap hujan ringan makin meluas dari bulan Mei sampai Agustus 2017. Dari Nusa Tenggara pada bulan Maret 2017, meluas ke pulau Jawa pada buan April 2017, hingga wilayah Indonesia di selatan garis ekuator pada bulan Juli dan Agustus 2017 kecuali Papua. Probabilitas hujan ringan ini mengindikasikan peta musim kemarau di wilayah Indonesia, yang kemungkinan bisa terjadi sampai Agustus 2017.

KESIMPULAN

Varibilitas iklim selama Februari 2017 menunjukkan bahwa monsun Asia masih dominan mempengaruhi curah hujan di wilayah Indonesia. Kontribusi aktivitas MJO terhadap curah hujan yang tinggi di sebagian wilayah Indonesia bulan Februari hanya terjadi pada dasarian I. Sedangkan pada dasarian III tampak adanya awan - awan  konvektif terbentuk akibat pembalikan arah angin menjadi angin timuran di sepanjang ekuator Indonesia yang menyebabkan curah hujan tinggi di wilayah  tersebut. Prediksi ENSO dan IOD untuk bulan Maret 2017 masih dalam kondisi netral. Sedangkan prediksi curah hujan bulan Maret sampai Mei 2017 masih cenderung tinggi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Namun di pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara pada bulan Mei tampak sudah mengalami kondisi kering. Hal ini didukung dengan lebih dari 80% probabilitas curah hujan ringan terjadi atau rendahnya probabilitas curah hujan tinggi (<10%).


Disusun oleh Tim Variabilitas Iklim 2017.








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL