Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Kondisi Atmosfer Pada Bulan Januari 2017
28 Feb 2017 • Dibaca : 333 x ,

Menurut data Climate Prediction Center (CPC), kondisi ENSO di awal tahun 2017 terpantau neutral, hal ini digambarkan oleh anomali SST nino 3.4 dengan kisaran nilai -0,2°C dan bergerak menuju 0°C pada awal bulan Februari. Prediksi El Nino menurut IRI yang dirilis pada pertengahan Januari, pada periode Maret-April-Mei peluang terjadinya ENSO neutral cukup tinggi (90%) dan hal ini diperkuat dengan prediksi yang dirilis pada pertengahan Februari dengan peluang terjadinya ENSO neutral ±85%. Sedangkan dari data IOD (sumber: bom.gov.au), kondisi Dipole Mode di Samudera Hindia juga menunjukkan kondisi neutral/normal dengan nilai indeks ±0. Hal ini menggambarkan bahwa tidak ada gangguan ENSO dan IOD terhadap kondisi atmosfer pada Bulan Januari 2017. Sedangkan prediksi IOD menggunakan data POAMA hingga beberapa bulan mendatang menunjukkan kondisi neutral.

Aktivitas monsun pada Januari 2017 tampak dominan bertiup angin baratan (monsun Asia) yang memberikan pengaruh basah untuk wilayah Indonesia bagian selatan. Hal ini terlihat pada gambar 1, dimana curah hujan pada umumnya terkonsentrasi di Indonesia bagian selatan, seperti di Jawa dan Papua bagian selatan.


Gambar 1. Akumulasi curah hujan (mm) Indonesia Bulan Januari 2017 berdasarkan data GSMaP.


Berdasarkan data Outgoing Longwave Radiation (OLR), aktifitas konvektif yang intensif terjadi pada dasarian III bulan Januari 2017. Hal ini seiring dengan menguatnya aktifitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang berada pada fase 3. Sedangkan pada dasarian I dan II, MJO masih berada dalam fase inisiasi, meskipun terlihat pada tingkat keawanan di Benua Maritim Indonesia cukup tinggi khususnya pada dasarian I.  Aktivitas MJO pada awal bulan Februari berada di BMI (fase 4 dan 5), kemudian  mengalami disipasi sampai pertengahan bulan Februari 2017. Kondisi terkini, MJO mulai muncul di Fase 1 di Perairan Afrika, namun diprediksi menuju ke Samudera Hindia (fase 2 dan 3) di akhir Februari dan memasuki BMI (fase 4) pada beberapa hari ke depan (Awal Maret 2017).

Gambar 2. Outgoing Longwave Radiation dan akumulasi curah hujan dasarian


Gambar 2 merupakan distribusi spasial OLR bulan Januari 2017 dasarian I sampai dasarian III pada dari CPC (Climate Prediction Center) (sebelah kiri) dan gambar distribusi spasial curah hujan bulan Januari 2017 dasarian I sampai III dari data GSMAP (Global Satellite Mapping of Precipatation) (sebelah kanan). Berdasarkan Gambar 2 tersebut tampak bahwa pada dasarian I distribusi OLR hampir merata di seluruh wilayah BMI dengan nilai rata-rata 200 W/m2,  kecuali di sebagian kecil kepulauan Riau, ujung Timur Pulau Jawa, Bali, Sumbawa, Sumba sampai Pulau Flores dengan kisaran rata-rata 240 W/m2 . Kondisi tersebut mengakibatkan curah hujan yang hampir merata di seluruh wilayah Benua Maritim Indonesia (BMI) dengan kisaran nilai 30 - 100 mm, kecuali Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Selat Sunda, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimatan Timur beserta perairannya, dan Papua wilayah Utara dengan curah hujan di atas 150 mm. Selanjutnya pada dasarian II, distribusi OLR masih hampir merata di seluruh wilayah BMI dengan nilai rata-rata di bawah 200 W/m2,  kecuali di Sulawesi Utara, dan kepulauan Maluku dengan kisaran 230-250 W/m2. Dari data GSMAP terlihat adanya peningkatan intensitas curah hujan di beberapa wilayah Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Selat Sunda, Jawa, Sulawesi tengah dan Tenggara, dan sebelah Selatan wilayah Papua. Kemudian pada dasarian III, distribusi OLR semakin merata di seluruh wilayah BMI dengan nilai rata-rata 200 W/m2. Kondisi tersebut mengindikasikan banyaknya awan-awan yang menghasilkan curah hujan tinggi di seluruh wilayah Indonesia dengan intensitas yang lebih tinggi rata-rata mencapai 200-300 mm dibandingkan dengan 2 dasarian sebelumnya, kecuali wilayah Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, P. Timor, dan Papua wilayah Utara yang mempunyai curah hujan kurang dari 100 mm.

Gambar 3. Suhu puncak awan dan Indeks konvektif wilayah Indonesia berdasarkan data IR1 satelit Himawari-8


Berdasarkan data satelit Himawari-8 selama periode Januari 2017 tampak bahwa suhu puncak awan di atas wilayah Indonesia berkisar antara 240-290 K seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3 (panel kiri atas). Sementara hasil olahan data menunjukkan bahwa selama periode Januari 2017 tampak aktivitas konvektif yang cenderung tinggi berlangsung di pulau Sumatera terutama bagian selatan, Pulau  Jawa, Kalimantan bagian selatan dan Sulawesi bagian tengah seperti yang tampak pada Gambar 3 (panel kanan atas). Sedangkan Gambar 3 (panel bawah) menunjukkan frekuensi kejadian awan Comulonimbus (Cb) selama Bulan Januari 2017 di Indonsesia. Tampak bahwa curah hujan yang tinggi selama Bulan Januari 2017 di utara Pulau Jawa disebabkan oleh banyaknya awan Cb yang terdapat di daerah tersebut.


Prediksi Curah Hujan Bulan Februari – November 2017 di Indonesia

Prediksi curah hujan menggunakan data POAMA dari Biro Meteorologi Australia (BOM) (Gambar 4) menunjukkan bahwa curah hujan pada bulan Maret 2017 di daerah Indonesia bagian selatan pada umumnya masih cukup tinggi, namun pada bulan April dan Mei terjadi penurunan curah hujan di wilayah tersebut. Dalam hal ini tampak sama dengan hasil prediksi menggunakan Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) yang ditunjukkan oleh Gambar 5. Peningkatan curah hujan pada bulan April terjadi di bagian barat Sumatera dan Kalimantan timur, namun di Papua terjadi peningkatan hujan pada Bulan Mei 2017. Sedangkan periode Juni-Juli-Agustus terlihat di Indonesia bagian selatan mengalami fase kering seiring aktifnya monsun Australia (angin timuran) seperti yang ditunjukkan di Gambar 5.

Gambar 4. Prediksi musim menggunakan data POAMA dengan initial condition Bulan Februari 2017

Gambar 5. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) dan SST dari POAMA tanggal 1 Februari 2017

 

Kriteria awal musim hujan menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) adalah jika terdapat curah hujan lebih dari 50 mm di 3 dasarian berturut-turut, sedangkan awal musim kemarau didefinisikan jika dalam 3 dasarian berturut-turut terdapat curah hujan kurang dari 50 mm. Gambar 6 menunjukkan probabilitas prediksi curah hujan yang menggambarkan daerah-daerah yang masih tergolong masih dalam musim hujan atau justru sudah masuk dalam musim kemarau. Meskipun tidak disajikan dalam resolusi temporal dasarian, namun diharapkan dengan probabilitas curah hujan lebih dari 5mm/hari (setara dengan 150 mm/bulan) dapat menggambarkan kriteria musim tersebut.

Gambar 6. Peluang terjadinya curah hujan di atas 5 mm/hari dalam prediksi POAMA initial condition Bulan Januari 2017.


Gambar 7. Peluang terjadinya curah hujan di bawah 2 mm/hari (kering) dalam prediksi POAMA initial condition Bulan Januari 2017.

Bulan Februari dan Maret 2017 masih terlihat di Indonesia bagian selatan dan timur memiliki peluang yang tinggi yaitu ±90% untuk terjadinya curah hujan lebih dari 5 mm/hari (150 mm/bulan). Namun pada Bulan Maret peluang terjadinya curah hujan lebih dari 5 mm/hari sangat rendah di daerah Nusa Tenggara, bahkan jika dipadukan dengan Gambar 7 yang menunjukkan peluang terjadi curah hujan kurang dari 2 mm/hari, maka diprediksi Nusa Tenggara akan mengalami musim kemarau pada bulan Maret dan kondisi lebih kering akan terjadi pada Bulan April 2017.  Daerah dengan probabilitas yang rendah juga terlihat meluas di wilayah Indonesia bagian selatan pada bulan April dan Mei 2017, dimulai dari Jawa timur pada Bulan April dan Jawa Tengah sampai Jawa Barat pada Bulan Mei 2017. Pada Bulan Juni terlihat peluang hujan lebih dari 5 mm/hari adalah kurang dari 10% di daerah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

Gambar 8. Peluang terjadinya curah hujan di atas 10 mm/hari (setara dengan 300 mm/bulan) dalam prediksi POAMA initial condition Bulan Januari 2017.


Gambar 8 menunjukkan bahwa pada Bulan Februari 2017 daerah Indonesia bagian selatan masih memiliki peluang yang cukup tinggi untuk terjadinya hujan lebih dari 10 mm/hari (300 mm/bulan), dimana peluang terjadinya di atas 80%. Sedangkan bulan Maret 2017 peluang yang tinggi terdapat di Sumatera bagian barat dan Sulawesi Tengah.

Prediksi Musim (curah hujan dan angin), baik dari hasil CCAM maupun POAMA dilakukan untuk 6 sampai 9 bulan ke depan, namun prediksi ini akan diperbarui setiap bulan untuk keakuratan hasil yang diperoleh.


Kesimpulan

Selama periode Januari 2017 tampak ENSO dan IOD dalam kondisi netral. Namun kondisi basah masih dominan terjadi di Indonesia, khususnya di wilayah Indonesia bagian selatan seperti di Jawa dan Papua bagian selatan. Hal ini disebabkan oleh aktivitas monsun yang terjadi pada awal tahun 2017 adalah monsun Asia dimana dominan bertiup angin baratan. Hal ini sejalan dengan aktivitas konvektif yang cenderung tinggi berlangsung di kawasan barat dan tengah wilayah Indonesia. Demikian juga dengan kondisi awan yang cenderung banyak dan hampir merata di wilayah Indonesia pada dasarian I dan II, bahkan tampak semakin banyak pada dasarian III. Hal ini menyebabkan akumulasi curah hujan yang cenderung tinggi juga pada dasarian I dan II yaitu sekitar (10-20) mm, bahkan semakin tinggi mencapai (20-30) mm pada daasarian III.

Prediksi curah hujan dari LAPAN menggunakan CCAM untuk bulan Februari sampai Mei 2017 di beberapa daerah tampak masih terjadi peningkatan. Mulai periode Juni terlihat di wilayah Indonesia bagian selatan mengalami fase kering seiring aktifnya monsun Australia (angin timuran). Hal ini sejalan dengan prediksi menggunakan data POAMA dari Biro Meteorologi Australia (BOM) yang menunjukkan bahwa curah hujan pada bulan Maret 2017 di wilayah Indonesia bagian selatan pada umumnya masih cukup tinggi dengan probablilitas mencapai ±90% dimana curah hujan lebih dari 5 mm/hari (150 mm/bulan). Namun pada bulan April dan Mei terjadi penurunan curah hujan di beberapa daerah terutama Nusa Tenggara, P. Jawa dan Bali.








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL