Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Bencana Banjir di Jakarta serta Analisis Kondisi Atmosfernya
21 Feb 2017 • Dibaca : 389 x ,
















Gambar 1. Curah Hujan Indonesia (Jakarta dalam lingkaran merah) dari Data GSMaP pada 21 Februari 2017 (03.00-06.00 WIB) http://sharaku.eorc.jaxa.jp/GSMaP_NOW/

Hujan deras yang terjadi sejak Selasa, 21 Februari 2017 dini hari diketahui menyebabkan bencana banjir di puluhan titik di Jakarta dan Bekasi. Banjir tersebut membuat ratusan orang di kelurahan Cipinang Melayu, Jakarta Timur menjadi pengungsi berhari-hari dan sempat memutus akses kota Bekasi menuju Jakarta di Kalimalang. Menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta, sampai Rabu (22 Februari 2017) siang pukul 12.00 WIB, 46 RW di 21 Kecamatan terkena dampak banjir di Jakarta dan sekitarnya (BBC 2017).

Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) LAPAN melakukan pengamatan kondisi atmosfer di atas Jakarta ketika terjadinya bencana banjir pada jam 03.00-06.00 WIB (20-23 UTC). Berdasarkan pengamatan curah hujan dari Global Satellite Mapping of Precipitation (GSMaP) pada Gambar 1, terlihat bahwa intensitas curah hujan di atas Jakarta cukup tinggi yaitu sekitar 10-30 mm/jam dengan puncak rata-rata tertingginya pada jam 04.00 WIB (21 UTC). Hal tersebut mengindikasikan bahwa benar terjadi hujan yang deras pada saat kejadian banjir.

Gambar 2. Intensitas curah hujan (mm/jam) Jakarta 20 – 21 Februari 2017 dari Data GPM 3IMERGHHL v03.

Pengamatan terhadap curah hujan juga dilakukan pada data satelit Global Precipitation Measurement (GPM) pada tanggal 20-21 Februari 2017 (Gambar 2). Terlihat bahwa intensitas curah hujan dalam deret waktu pada rata-rata wilayah 106.726 - 106.965 BT dan 6.119 - 6.302 LS (Jakarta dan sekitarnya) berada dalam kategori lebat dan sangat lebat mulai pukul 03.00 hingga 06.00 WIB pada hari Selasa, 21 Februari 2017, dengan puncaknya pukul 04.00 WIB (21 UTC).

Gambar 3. Anomali Suhu Permukaan Laut (21 Februari 2017).

https://earth.nullschool.net/#2017/02/21/0000Z/ocean/primary/waves/overlay=sea_surface_temp_anomaly/

Intensitas curah hujan yang tinggi hingga menyebabkan banjir di Jakarta tersebut diduga karena kondisi Tekanan Permukaan Laut (TPL) di wilayah Selatan dan Utara Pulau Jawa rendah, sementara Anomali Suhu Permukaan Laut (ASPL) di wilayah tersebut tinggi, ditunjukkan dengan warna merah di lautan sekeliling pulau Jawa dan Bali (Gambar 3). Kondisi TPL yang rendah tersebut berpotensi menarik massa udara di wilayah Samudera Hindia dan diyakini melewati wilayah Jawa dan Bali, yang dapat menyebabkan potensi pertumbuhan awan yang cukup banyak. Sehingga pertumbuhan awan konvektif cukup banyak terjadi akibat masuknya massa uap air tersebut.

Selain TPL dan ASPL, pengamatan kondisi iklim global yang umumnya diamati (baik IOD maupun ENSO), menunjukkan kondisi yang normal. Bahkan Madden Julian Oscillation (MJO) pada saat ini berada pada fase 7 yang terletak di sekitar lautan Hindia. Sehingga bencana banjir ini bukan akibat pengaruh kondisi atmosfer global, melainkan karena adanya pengaruh regional (lokal) pada wilayah kejadian.

Gambar 4. Visualisasi Satelit Himawari-8 (21 Februari 2017).

Visualisasi data Temperature Black Body (TBB) dari satelit Himawari-8 (Gambar 4) pada waktu kejadian menunjukkan awan konvektif mulai menutupi kawasan Pulau Jawa bagian Barat Laut (Jakarta) sejak pukul 04.00 WIB (21 UTC) ditampilkan dengan sebaran warna merah jambu (pink) di atas Jakarta. Pertumbuhan awan konvektif tersebut terus berlanjut hingga menutupi seluruh kawasan Jakarta pada pukul 06.00 WIB (23 UTC). Hal ini mengindikasikan bahwa Jakarta mengalami hujan dengan intensitas yang sangat tinggi selama 2 jam.

PSTA LAPAN mengembangkan sistem pendukung keputusan (decision support system disingkat DSS) terkait peringatan dini bencana hidrometeorologi bernama Satellite Disaster Early Warning System (SADEWA). SADEWA menggunakan model Weather Research and Forecasting (WRF) dengan inisiasi data atmosfer Global Forecast System (GFS) untuk memprediksi cuaca 24 jam ke depan.

Gambar 5. Hasil Prediksi Model Weather Research adn Forecasting (WRF) saat Kondisi Banjir Jakarta 21 Februari 2017.

Hasil prediksi SADEWA (dengan inisiasi model GFS tanggal 20 Februari 2017 pukul 06 UTC) pada Gambar 5, diperkirakan hujan sangat lebat terjadi di Jakarta pada 21 Februari pukul 04.00 sampai 06.00 WIB (20 Februari pukul 21 - 23 UTC) ditunjukkan dengan sebaran dominan berwarna merah di atas Jakarta. Hal tersebut mengindikasikan bahwa hasil prediksi SADEWA baik sebagai peringatan dini akan adanya hujan lebat, dibuktikan dengan adanya kesamaan pengamatan hasil SADEWA dengan data observasi satelit (GSMaP dan GPM) serta analisis kondisi cuaca lainnya.

Dari analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa terjadinya banjir di Jakarta dan sekitarnya pada tanggal 21 Februari 2017 akibat bersatunya massa uap air dari Asia (Monsun Asia) dan Samudera Hindia secara bersamaan (simultan) dalam kurun waktu yang relatif singkat (1-2 jam) yang diperparah dengan kondisi lingkungan, seperti drainase yang sudah tidak lagi pada kondisi yang mampu menahan air dalam jumlah yang relatif besar.

Disusun oleh: Tim Diseminasi Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer - LAPAN

Sumber gambar cover: Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi DKI Jakarta








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL