Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Analisis Bencana Banjir dan Longsor di Kintamani - Bali
20 Feb 2017 • Dibaca : 571 x ,















Banjir disertai longsor yang terjadi di Desa Songan, Desa Sukawana, dan Desa Awan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali (115.25 – 115.50 BT dan 8.25 – 8.50 LS) pada Kamis, 09 Februari 2017 sekitar pukul 23.00 Waktu Indonesia Bagian Tengah (WITA) menyebabkan 12 orang meninggal akibat tertimbun longsor (BNPB).  Bencana tersebut diketahui terjadi akibat hujan deras secara terus menerus sejak Rabu, 08 Februari 2017 dan ditambah dengan kondisi lereng dengan banyak permukiman di bawahnya (BBC).

Dengan adanya bencana tersebut, Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) LAPAN menganalisis kondisi atmosfer di lokasi kejadian sebelum dan saat bencana terjadi. Pengamatan kondisi iklim global (baik IOD maupun ENSO) menunjukkan kondisi yang normal. Bahkan Madden Julian Oscillation (MJO) pada saat ini berada pada fase 7 yang terletak di sekitar lautan Hindia. Sehingga bencana banjir dan longsor ini bukan akibat pengaruh kondisi atmosfer global, melainkan karena adanya pengaruh regional (lokal) pada wilayah kejadian.

Gambar 1. Water Vapor.

http://tropic.ssec.wisc.edu/archive/data/Indian/20170209/WVImageColorBackground/20170209.18.Indian.WVImageColorBackground.png

Tingginya curah hujan di Kintamani diduga disebabkan adanya tekanan rendah di sebelah barat laut dan utara Australia, ditandai dengan terbentuknya badai tropis di atas barat laut Australia pada Rabu, 08 Februari 2017 pukul 03.00 WITA. Tekanan rendah tersebut berpotensi menarik massa udara di wilayah Samudera Hindia dan diyakini melewati wilayah Jawa dan Bali, yang dapat menyebabkan potensi pertumbuhan awan yang cukup banyak. Sehingga, walaupun daerah Bali pada saat itu bukan merupakan daerah konvergensi, tetapi dengan pertumbuhan awan konvektif cukup banyak terjadi akibat masuknya massa uap air (Gambar 1).

Gambar 2. Visualisasi Satelit Himawari-8 (09 Februari 2017).

 

Visualisasi data Temperature Black Body (TBB) dari satelit Himawari-8 (Gambar 2) pada Kamis, 09 Februari 2017, menunjukkan awan konvektif mulai menutupi kawasan Bali bagian utara (Kintamani) pada pukul 21.20 WITA ditampilkan dengan sebaran warna ungu di atas Bali. Pertumbuhan awan konvektif tersebut terus berlanjut hingga menutupi seluruh kawasan Bali pada pukul 23.00 WITA. Hal ini mengindikasikan bahwa Bali mengalami hujan dengan intensitas yang sangat tinggi selama 2 jam.

Gambar 3. Intensitas hujan (mm/jam) Kintamani Bali 7 – 11 Februari 2017 Jam 00:00  –  23:59 Z

(7 Februari 2017 Jam 08:00 WITA –  11 Februari 2017 Jam 07:59 WITA) dari data GPM 3IMERGHHL v03.

 

Hal yang sama ditunjukkan oleh pengamatan intensitas curah hujan tiap 1 jam dari data satelit Global Precipitation Measurement (GPM) pada tanggal 07-11 Februari 2017 (Gambar 3). Terlihat bahwa pada Kamis 9 Februari 2017 sejak jam 12:00 UTC (20:00 WITA), di Kintamani Bali dan sekitarnya tercatat adanya intensitas hujan kategori ringan (2,6 – 4,6 mm/jam) sampai jam 13:00 UTC (21:00 WITA). Intensitas hujan ini  meningkat menjadi 5,3 mm/jam (kategori hujan normal) pada setengah jam selanjutnya, dan terus meningkat sehingga berubah menjadi kategori sangat lebat (intensitas 22,9 mm/jam; 26,5 mm/jam dan 21,9 mm/jam), masing-masing terjadi jam 14:00 UTC (22:00 WITA), 14:30 UTC (22:30 WITA) dan 15:00 UTC (23:00 WITA).

Gambar 4. Intensitas hujan (mm/jam) Kintamani Bali 7 – 11 Februari 2017 Jam 00:00  –  23:59 Z

(7 Februari 2017 Jam 08:00 WITA –  11 Februari 2017 Jam 07:59 WITA) dari data GPM 3IMERGHHL v03.

 

Pengamatan terhadap curah hujan juga dilakukan pada data Global Satellite Mapping of Precipitation (GSMAP). Pengamatan curah hujan harian data GSMAP juga menunjukkan hasil yang serupa. Di mana intensitas curah hujan di Kintamani pada tanggal 09 Februari 2017 terbilang sangat tinggi (>110 mm/hari). Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa banjir disertai longsor yang terjadi di Kintamani disebabkan oleh tingginya intensitas curah hujan di wilayah tersebut, didukung dengan adanya tekanan rendah di sebelah Barat Laut dan Utara Australia yang berpotensi menarik massa udara di wilayah Samudera Hindia, sehingga menyebabkan banyaknya pertumbuhan awan konvektif penghasil hujan di atasnya.

Disusun oleh: Tim Diseminasi Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer - LAPAN

Sumber gambar cover: Aktual








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL