Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Analisis Kejadian Banjir Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), 21 Desember 2016
23 Dec 2016 • Dibaca : 1168 x ,















Beberapa media menginformasikan bahwa pada tanggal 21 Desember 2016 telah terjadi banjir bandang di Bima (8°22'28,42”LU, 118°44'5,07”BT), khususnya di 5 kecamatan: Rasanae Barat, Rasanae Timur, Raba, Mpunda dan Asakota. Banjir bandang tersebut diakibatkan oleh meluapnya sungai Paruga. Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, LAPAN melakukan analisis terkait kejadian banjir tersebut.

Gambar 1. Deret waktu curah hujan GSMaP di Bima, Nusa Tenggara Barat

Faktor penyebab banjir di Bima diduga akibat tingginya intensitas curah hujan yang berlangsung mulai sekitar pukul 06.00 WITA hingga mencapai puncaknya pada pukul 13.00 WITA dan masih berlangsung hingga pukul 20.00 WITA. Banjir terjadi sekitar pukul 14.00 WITA. Kondisi tersebut ditunjukkan oleh deret waktu curah hujan GSMaP (Gambar 1). Secara spasial, puncak curah hujan yang terjadi pada pukul 13.00 WITA ditunjukkan pada Gambar 2. Hal ini diperkuat oleh hasil prediksi model atmosfer dalam SADEWA LAPAN pada tanggal 20 Desember 2016 pukul 19.00 WIB (Gambar 3). Hujan yang terjadi terus menerus dengan intensitas tinggi sampai satu jam sebelumnya dipicu oleh monsun asia yang konsisten bergerak dari barat ke timur menuju wilayah Bima. Kondisi suhu permukaan laut (SST) di perairan sekitar Bima cukup hangat (Gambar 4) mendorong terbentuknya awan di atas Bima. Spot tekanan rendah di lautan Hindia sebelah selatan (dekat Australia) mendorong gangguan dinamika atmosfer di wilayah lautan Hindia bagian barat.

Gambar 2. Curah hujan spasial GSMaP (mm/jam) pada pukul 13.00 WITA 21 Desember 2016

Gambar 3. Curah hujan prediksi dan angin permukaan SADEWA LAPAN pada pukul 13.00 WITA 21 Desember 2016 (Initial condition: jam 19.00 WIB tanggal 20 Desember 2016)

Gambar 4. Anomali suhu permukaan laut sekitar Laut Flores 21 Desember 2016 (sumber: http://polar.ncep.noaa.gov/)

Secara umum, pada tanggal 21 Desember 2016, kondisi fenomena global pengaruh dari anomali suhu muka laut di Samudera Hindia (IOD) dan Pasifik (ENSO) terpantau neutral, serta MJO terlihat lemah. Sehingga diduga kuat faktor monsun Asia yang terjadi secara bersamaan dengan adanya daerah tekanan rendah di perairan sebelah barat laut Australia menyebabkan intensitas curah hujan tinggi sebagai pemicu banjir di daerah Bima.

Selanjutnya untuk 3-7 hari kedepan, pertumbuhan sistem tekanan rendah berskala sinoptis di barat Australia yang menimbulkan kecepatan angin tinggi (siklon tropis Yvette) perlu terus dipantau dikarenakan akan mempengaruhi intensitas cuah hujan di daerah Bima dan Nusa tenggara secara umum. Selain itu, untuk prediksi atmosfer setiap jam selama 1 hari kedepan dapat dilakukan dengan mengunjungi sadewa.sains.lapan.go.id sebagai hasil litbang PSTA LAPAN.

Disusun oleh: Tim Diseminasi Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer - LAPAN

Sumber gambar cover: Tempo









Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL