Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Peningkatan Hujan Terjadi di Wilayah Indonesia
17 Oct 2016 • Dibaca : 588 x ,

Evolusi curah hujan selama September menunjukkan peningkatan curah hujan secara signifikan terjadi selama pertengahan hingga akhir September di bagian selatan Indonesia terutama di bagian barat. Kondisi ini terjadi karena fenomena IOD negatif di Samudra Hindia, MJO kuat di BMI, dan pelemahan monsun Australia. Kolaborasi antara IOD negatif dan MJO kuat fase 4 dan 5 di BMI telah berperan penting dalam memodulasi gangguan cuaca skala sinoptik sehingga memicu terjadinya hujan ekstrem di beberapa wilayah di Jawa Bara pada pertengahan September. Prediksi model CCAM pada bulan Oktober memperlihatkan pola angin baratan yang menjadi ciri musim hujan tampak semakin jelas, homogen, dan menguat hingga November. Kondisi ini mengakibatkan peningkatan curah hujan yang terdistribusi secara merata di sebagian besar wilayah Indonesia terutama di bagian selatan.

IOD Negatif menuju Normal

Analisis distribusi curah hujan Indonesia selama bulan September menggunakan data satelit GSMap memperlihatkan curah hujan masih terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia. Di selatan Indonesia, curah hujan dengan intensitas tinggi masih terjadi di bagian barat (Jawa Barat hingga Sumatera) terutama pada dasarian kedua bulan September yang mencapai 460 mm/10 hari.

Sementara itu, untuk wilayah tenggara seperti Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, intensitas curah hujan kurang dari 50 mm (10-50 mm/10 hari) (Gambar 1). Kondisi ini terjadi karena monsun Australia yang bersifat kering hanya mempengaruhi wilayah tenggara Indonesia. Hal ini didukung pula oleh data Indeks Monsun Australia (Australian Monsoon Index, AUSMI) yang mulai melemah menuju klimatologisnya. Di sisi lain, monsun Asia yang tampak dari angin baratan mulai terlihat di wilayah Laut China Selatan dan sebelah utara Sumatra.

Analisis dilakukan juga terhadap data Outgoing Longwave Radiation (OLR) untuk melihat kondisi terjadinya aktivitas awan konvektif. Selama bulan September, aktivitas  awan konvektif terjadi secara intensif di sebagian besar wilayah Indonesia. Aktivitas awan konvektif di wilayah Indonesia tersebut tampak sangat kuat di Samudra Hindia bagian barat daya Indonesia pada dasarian ketiga bulan September. Hal ini disebabkan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) negatif (DMI = -0,65) yang terjadi bersamaan dengan pelemahan monsun Australia dan aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang bergeser dari fase 4 menuju fase 5 di Benua Maritim Indonesia.

Gambar 1. Akumulasi Curah Hujan Harian Dasarian ketiga bulan Agustus (a) (21-30 Agustus 2016)  dan 3 Dasarian terakhir (01– 30 September 2016) (b) Dasarian I dan (c) Dasarian II  dan (d) dasarian III dari pengamatan satelit GSMaP.

Indikasi La Nina Modoki

Pengamatan terhadap Suhu Permukaan Laut (SPL) di Samudera Pasifik menunjukkan anomali negatif terlihat di Samudra Pasifik bagian tengah, sementara di wilayah barat dan timur mengalami pemanasan. Hal tersebut mengindikasikan adanya kemungkianan kejadian La Nina Modoki dengan nilai ENSO Modoki Indeks (EMI) pada minggu ke-2 dan ke-3 September masing-masing sebesar -0,6 dan -0,78. Sementara itu, potensi terjadinya La Nina yaitu 55%. Walaupun nilai peluang kejadiannya masih rendah, fenomena La Nina ini harus tetap diwaspadai, mengingat pada tahun 2015 terjadi fenomena El Nino kuat yang biasanya akan diikuti oleh La Nina kuat.

Fenomena lain yang perlu diwaspadai pada periode musim hujan mendatang yaitu terjadinya pendinginan SPL di Laut Cina Selatan (Cold Tongue), sebaliknya SPL di wilayah perairan Indonesia berpotensi cenderung menghangat. Kondisi ini dapat mengintensifkan monsun Asia melalui penguatan angin dari utara yang berpotensi mentranspor kelembapan dari Laut China Selatan menuju Pulau Jawa (Koseki dkk., 2013). Di sisi lain, kelembapan di wilayah Indonesia juga meningkat karena menghangatnya SPL di perairan lokal sehingga ketidakstabilan atmosfer yang memicu konveksi termal akan terus terpelihara karena energi untuk menggerakkannya pun dapat terus bertambah.

Curah Hujan Diprediksi Meningkat

Berdasarkan hasil prediksi model CCAM dengan initial condition data GFS dan SPL prediksi dari POAMA tanggal 1 Oktober 2016, terlihat bahwa pada bulan Oktober 2016, pengaruh monsun Asia yang tampak melalui angin baratan mulai memasuki wilayah Benua Maritim Indonesia (BMI) dan terus mengalami penguatan pada bulan November 2016 (Gambar 2). Hal ini mengindikasikan bahwa curah hujan di seluruh wilayah  BMI akan terus mengalami peningkatan pada bulan Oktober hingga November 2016. Peningkatan curah hujan ini disebabkan karena monsun Asia yang melewati BMI bersifat basah (mengandung uap air).

Gambar 2. Prediksi CCAM dengan initial condition data GFS 1 Oktober 2016 dan input data prediksi suhu permukaan laut POAMA untuk Bulan Oktober (atas) dan November (bawah) 2016.

Selain itu, hasil komposit prediksi model CCAM dari 10 skema (Gambar 3) untuk Sembilan bulan mendatang juga menunjukan pola yang sama bahwa curah hujan di wilayah Jawa akan terus mengalami peningkatan sejak bulan Oktober dengan puncak curah hujan yang tertinggi diprediksi terjadi pada bulan November 2016.

Gambar 3. Curah Hujan Jawa, Bali dan sekitarnya hasil monitoring satelit GSMAP dari Bulan Maret – September 2016 dan hasil prediksi CCAM dengan initial condition data GFS setiap tanggal 1 dan input data prediksi suhu permukaan laut POAMA. (contoh: ccam 03 berarti hasil prediksi Bulan Oktober menggunakan initial condition GFS tanggal 1 Maret 2016). Garis prediksi tebal adalah rata2 setiap prediksi dengan ic yang berbeda.

Kesimpulan

Selama Bulan September 2016, hujan masih terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia. Di selatan Indonesia, curah hujan dengan intensitas tinggi masih terjadi di bagian barat (Jawa Barat hingga Sumatera) terutama pada dasarian kedua bulan September. Hal ini terjadi karena kolaborasi efek dari fenomena IOD negatif (indeks -0,65), pelemahan monsun Australia, dan aktivitas MJO di wilayah BMI. Pada bulan Oktober dan November, pengaruh monsun Asia akan terus meningkat sehingga curah hujan diprediksi semakin bertambah di sebagian besar wilayah  BMI terutama di bagian selatan.

 

Disusun Oleh:

Tim Variabilitas Iklim PSTA (Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer) LAPAN Bandung








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL