Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Variabilitas Iklim Bulan Agustus 2016: Kemarau Basah Karena Pengaruh Indian Ocean Dipole
09 Sep 2016 • Dibaca : 874 x ,


Sejak bulan Juni hingga Agustus, Indonesia bagian selatan sebagian besar mengalami kemarau basah. Indikator kemarau basah dibuktikan oleh tiga hal. Pertama, curah hujan masih tinggi di sebagian besar wilayah tersebut. Kedua, keberadaan jenis awan cumulus congestus masih meliputi wilayah Indonesia. Ketiga, daerah konvergensi antar-tropis atau disebut dengan istilah ITCZ (Inter-Tropical Convergence Zone) masih berada di selatan ekuator. Kemarau basah ini disebabkan pengaruh fase hangat di Samudra Hindia bagian timur dekat Sumatra dan Jawa yang ditandai dengan nilai Indian Ocean Dipole (IOD) negatif. Prediksi curah hujan bulan September dan Oktober menunjukkan, curah hujan mengalami peningkatan di selatan Indonesia secara merata. Selain itu, kondisi di Samudra Pasifik berpotensi membangkitkan La Nina lemah dengan peluang sekitar 55 persen.


IOD Negatif dan ENSO Normal

            Hasil pengamatan distribusi curah hujan Indonesia selama bulan Agustus menggunakan data satelit GSMap memperlihatkan curah hujan masih terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia. Di selatan Indonesia, curah hujan dengan intensitas tinggi masih terjadi di bagian barat. Sementara untuk wilayah tenggara seperti Jawa Timur, Bali, Lombok, dan Nusa Tenggara, curah hujan kurang dari 50 mm yang mengindikasikan bahwa di wilayah tersebut musim kemarau cenderung normal (Gambar 1). Kondisi ini terjadi karena monsun Australia yang bersifat kering hanya mempengaruhi wilayah tenggara Indonesia. Fakta ini didukung oleh data Indeks Monsun Australia (Australian Monsoon Index, AUSMI) yang menunjukkan terjadinya penguatan selama Agustus.

            Pengamatan juga dilakukan terhadap data Outgoing Longwave Radiation (OLR) untuk melihat kondisi terjadinya aktivitas awan konvektif. Sepanjang bulan Agustus, aktivitas  awan konvektif terjadi secara intensif di sebagian besar wilayah Indonesia kecuali bagian tenggara Indonesia. Aktivitas awan konvektif juga tampak sangat kuat di wilayah perairan Barat-Daya Indonesia (Samudera Hindia bagian timur), sementara di perairan tenggara Indonesia aktivitas konvektif melemah. Hal ini karena fenomena IOD negatif terjadi bersamaan dengan penguatan monsun Australia.

Gambar 1. Akumulasi Curah Hujan Harian Dasarian pertama bulan Juli (a) (1-10 Juli 2016)  dan 3 Dasarian terakhir (01– 30 Agustus 2016) (b) Dasarian I dan (c) Dasarian II  dan (d) dasarian III dari pengamatan satelit GSMaP.

 

            Kondisi El Nino Southern Oscillation (ENSO) saat ini berdasarkan data anomali SST di wilayah Nino 3.4 berada dalam kondisi normal (-0,5°C). Selain itu, berdasarkan prediksi International Research Institute for Climate and Society (IRI), La Nina berpotensi terjadi pada bulan September dengan peluang sebesar  55%. Walaupun nilai peluang kejadiannya masih rendah, fenomena La Nina ini harus tetap diwaspadai, mengingat pada tahun 2015 terjadi fenomena El Nino kuat yang biasanya akan diikuti oleh La Nina kuat. Sementara itu, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) berada dalam kondisi tidak aktif dan diprediksi masih dalam status tidak aktif hingga pertengahan September. 

 

Curah Hujan Diprediksi Semakin Bertambah

            Prediksi curah hujan Indonesia bulan September dan Oktober 2016 berdasarkan model CCAM memperlihatkan terjadi penambahan hujan di selatan Indonesia secara merata. Hasil prediksi ini menggunakan CCAM dengan initial condition data GFS dan suhu permukaan laut prediksi dari POAMA tanggal 1 September 2016. Hasil prediksi juga menunjukkan bahwa selama bulan September 2016 bahwa kecepatan angin di wilayah Monsun Australia masih kuat dan homogen di selatan Indonesia. Meski demikian, angin yang bersifat kering tersebut tidak menyebabkan kering di wilayah tenggara Indonesia.

Gambar 5. Prediksi CCAM dengan initial condition data GFS 1 September 2016 dan input data prediksi suhu permukaan laut POAMA untuk Bulan September (atas) dan Oktober (bawah) 2016.

 

            Prediksi bulan Oktober 2016 menunjukkan kecepatan angin di wilayah monsun Australia mengalami pelemahan dan intrusi dari monsun Asia mulai terlihat jelas di atas Laut China Selatan menuju Laut Jawa. Selain itu juga diprediksi bahwa pada musim peralihan (September-Oktober-November), Indonesia akan mengalami hujan dengan intensitas yang tinggi, terutama di Pulau Jawa.

 

Kesimpulan

            Selama bulan Agustus, kemarau basah masih terjadi di wilayah Jawa bagian barat dan Sumatra bagian selatan. Sementara untuk wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lombok, dan Nusa Tenggara mengalami musim kemarau normal. Kondisi ini karena pengaruh IOD negatif yang terjadi bersamaan dengan penguatan monsun Australia. Selama September dan Oktober, musim peralihan diprediksi masih bersifat basah bahkan cenderung mengalami peningkatan hujan terutama di Pulau Jawa. Selain itu, hasil prediksi juga menunjukkan bahwa pada bulan September monsun Australia masih kuat dan homogen di selatan Indonesia. Sementara itu, pada bulan Oktober monsun Asia di atas Laut China Selatan mulai tampak menjalar menuju laut Jawa. Selain itu, potensi terjadinya La Nina selama musim peralihan meskipun lemah dan memiliki peluang hanya 55 persen, tetap harus diwaspadai. 

 

Disusun Oleh:

Tim Variabilitas Iklim PSTA (Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer) LAPAN Bandung








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL