Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Anomali Basah di Musim Peralihan (Variabilitas Iklim Bulan Mei 2016)
23 May 2016 • Dibaca : 1245 x ,

Anomali Basah di Musim Peralihan

Variabilitas Iklim Bulan Mei 2016

 

Ringkasan

Bulan Maret, April dan Mei, yang merupakan musim peralihan musim hujan ke musim kemarau, biasanya ditandai dengan penurunan curah hujan di sebagian besar daerah Indonesia bagian selatan. Faktor penurunan curah hujan pada musim peralihan dari musim hujan menuju kemarau adalah karena pengaruh angin monsun Australia yang bersifat kering dan posisi ITCZ yang telah berada di belahan bumi utara. Namun pada tahun 2016, terjadi anomali basah pada bulan-bulan musim peralihan. Pada Bulan Mei 2016, curah hujan masih terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan. Kondisi basah ini dipicu oleh beberapa faktor, pertama intensitas El Nino mulai berkurang dan menuju normal. Kedua, pengaruh MJO aktif di Samudra Hindia sejak awal bulan Mei ini. Ketiga , monsun Australia yang lebih lemah dibandingkan dengan klimatologisnya. Hasil prediksi CCAM pada Bulan Juni 2016 menunjukkan curah hujan dengan intensitas sedang terjadi di sebagian besar Pulau Sulawesi, sebagian Kalimantan dan bagian tengah Pulau Sumatera. Sedangkan wilayah Indonesia bagian selatan (Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Sumbawa) dan wilayah Papua bagian selatan diprediksi akan mengalami penurunan curah hujan.


 
El Nino melemah dan menuju normal, sedangkan IOD normal.

            Menurut data Climate Prediction Center (CPC), El Nino yang terjadi selama tahun 2015 dengan puncaknya pada November dan Desember 2015 (indeks +2,5) mulai berangsur melemah di Bulan Mei 2016 (indeks 0,8) dan mulai menuju normal. Prediksi El Nino menurut IRI  pada Bulan Juni  berada pada kondisi normal dengan peluang 75%. Sedangkan dari data IOD (sumber: bom.gov.au), kondisi Dipole Mode di Samudera Hindia menunjukkan kondisi normal dengan nilai indeks ±0.

            Analisis data curah hujan (presipitasi) dasarian menggunakan data GSMaP menunjukkan adanya peningkatan curah hujan di wilayah Nusa Tenggara, Sumbawa, perairan barat daya Indonesia dan perairan barat Sumatera pada Dasarian I Bulan Mei jika dibandingkan dengan dasarian sebelumnya (dasarian III Bulan April). Pada dasarian I Bulan Mei peningkatan curah hujan di daerah Nusa Tenggara dan Sumbawa diduga berasal dari pelemahan monsun Australia. Pada Bulan Mei 2016 ini di Indonesia bagian selatan berlaku angin timuran (monsun Australia) seperti yang terlihat di Gambar 1, namun menurut data indeks AUSMI (sumber: bom.gov.au), pelemahan monsun australia ini terjadi singkat dan mulai menuju normal (update tanggal 11 Mei 2016). Jika monsun Australia telah kembali normal (sesuai dengan klimatologisnya) maka sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan akan mengalami musim kemarau.
 
            Selain itu, Gambar 2 juga menunjukkan adanya peningkatan curah hujan di perairan barat Sumatera dan perairan barat daya Indonesia (Samudera Hindia). Hal ini diduga merupakan pegaruh MJO yang aktif di Samudera Hindia dan diprediksi akan menuju ke wilayah BMI. Hal ini dikuatkan oleh data OLR dari CPC yang menunjukkan adanya penguatan aktivitas konfektif di Samudera Hindia bagian Timur (60° -100° BT).


Gambar 1. Kondisi Awan hasil monitoring Satelit Himawari dan Angin 850 mb hasil prediksi WRF pada tanggal 19 Mei 2016.

 


Gambar 2. Akumulasi Curah Hujan Dasarian III April (kiri) dan Dasarian I Mei (kanan) 2016 Indonesia

     

Evaluasi Prediksi CCAM Bulan Maret dan April 2016

            Akumulasi curah hujan wilayah Indonesia pada bulan Maret dan April 2016 diamati secara spasial menggunakan data pengamatan satelit GSMaP (kiri) dan hasil prediksi CCAM (kanan). Prediksi dilakukan untuk 3 bulan ke depan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data GFS (Global Forecasting System) tanggal 1 Maret 2016 dan input suhu permukaan laut prediksi dari POAMA m24b_ensemble_mean. Pada bulan maret, distribusi curah hujan Indonesia cukup tinggi berdasarkan pengamatan satelit GSMaP, sekitar 200 - 700 mm/bulan. Curah hujan tinggi pada Pulau Sumatera bagian barat, Jawa bagian barat, Sulawesi Tengah, hingga sebagian wilayah Papua.

Gambar 3. Akumulasi Curah Hujan bulan Maret 2016 GSMaP (kiri) dan prediksi CCAM (kanan)

            Hal serupa ditunjukkan oleh hasil prediksi CCAM, di mana akumulasi curah hujan juga berkisar 200 – 700 mm/bulan. Namun terdapat sedikit perbedaan distribusi curah hujan di Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Papua. Curah hujan pada wilayah tersebut tidak setinggi pada pengamatan satelit GSMaP. Hal tersebut dikarenakan adanya perbedaan resolusi pengamatan antara prediksi CCAM dan GSMaP. Namun secara keseluruhan, pola curah hujan yang ditampilkan prediksi CCAM memiliki kemiripan dengan pengamatan GSMaP.

Gambar 4. Akumulasi Curah Hujan bulan April 2016 GSMaP (kiri) dan prediksi CCAM (kanan)

            Pada bulan April 2016, pola akumulasi curah hujan tidak berbeda jauh dengan bulan Maret, distribusi curah hujan berkisar 200 – 700 mm/bulan. Ada sedikit peningkatan curah hujan pada Pulau Sumatera, Kalimantan bagian Selatan, Sulawesi, dan Papua. Namun juga terdapat penurunan curah hujan pada Pulau Jawa bagian barat. Hal serupa ditunjukkan pula pada distribusi curah hujan hasil prediksi CCAM. Adanya peningkatan curah hujan pada Pulau Kalimantan bagian Selatan, Sulawesi dan Papua. Sementara pada Pulau Sumatera bagian barat dan Jawa bagian barat mengalami penurunan curah hujan. Sama seperti pada bulan Maret, ada sedikit perbedaan distribusi curah hujan antara GSMaP dan prediksi CCAM, namun secara keseluruhan pola curah hujan yang ditampilkan sama, sehingga prediksi CCAM cukup akurat untuk memprediksi curah hujan Indonesia.

Prediksi Curah Hujan Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) Bulan Mei dan Juni 2016

            Prediksi curah hujan Mei dan Juni 2016 merupakan hasil proses prediksi musim menggunakan CCAM dengan initial condition data GFS tanggal 1 Mei 2016 dan suhu permukaan laut prediksi dari POAMA m24b_emn. Hasil dari prediksi CCAM menunjukkan bahwa selama bulan Mei 2016 kondisi basah masih terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan. Walaupun hasil prediksi untuk Bulan Mei memperlihatkan wilayah Indonesia bagian selatan dengan kondisi basah, namun curah hujan pada Bulan Mei ini diprediksi lebih rendah jika dibandingkan dengan Bulan Maret dan April. Dan hal ini berlanjut pada bulan Juni dimana curah hujan di Indonesia bagian selatan lebih rendah dibandingkan Bulan Mei. Hasil prediksi CCAM pada Bulan Juni 2016 menunjukkan adanya curah hujan dengan intensitas yang cukup tinggi di sebagian besar Pulau Sulawesi, sebagian Kalimantan dan bagian tengah Pulau Sumatera. Sedangkan wilayah Indonesia bagian selatan (Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Sumbawa) dan wilayah Papua bagian selatan diprediksi akan mengalami penurunan curah hujan. Hal ini merupakan hal yang wajar, karena setiap tahun, pada Bulan Juni, Juli dan Agustus sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan mendapatkan pengaruh monsun Australia yang bersifat kering.
 

Gambar 5. Prediksi CCAM dengan initial condition data GFS 1 Mei 2016 dan input data prediksi suhu permukaan laut POAMA untuk Bulan Mei (kiri) dan Juni (kanan) 2016.

            Prediksi menggunakan CCAM untuk Bulan Juni - Juli 2016 dan evaluasi prediksi untuk Bulan Mei 2016 akan terbit dalam laporan variabilitas iklim edisi Bulan Juni 2016.

 

Kesimpulan

Anomali basah di bagian tenggara Indonesia ditunjukkan oleh peningkatan hujan yang terjadi pada dasarian pertama bulan Mei dibandingkan dasarian ketiga bulan April. Hal ini terjadi karena pengaruh aktivitas MJO fase 3 di Samudra Hindia, pelemahan monsun Australia, serta pelemahan ElNino. Kondisi cukup hujan di Indonesia juga masih terjadi pada bulan Maret dan April.

Hasil prediksi CCAM pada Mei 2016 menunjukkan wilayah Indonesia bagian selatan akan mengalami kondisi basah dengan curah hujan yang relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan curah hujan pada Bulan Maret dan April. Sedangkan pada Bulan Juni 2016, curah hujan dengan intensitas sedang diprediksi akan terjadi di sebagian besar Pulau Sulawesi, sebagian Kalimantan dan bagian tengah Pulau Sumatera. Sementara itu, wilayah Indonesia bagian selatan (Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Sumbawa) dan Papua bagian selatan diprediksi akan mengalami penurunan curah hujan.

Oleh: Tim Variabilitas Iklim PSTA (Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer) LAPAN Bandung








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL