Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Karakteristik Iklim di Palangkaraya, Balikpapan, Belitung, Ternate
09 Mar 2015 • Dibaca : 7376 x ,

[ Rekomendasi Untuk Pengamatan Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016]

Tim Analisis Bidang Pemodelan Atmosfer*

Rekomendasi ini disusun atas permintaan Pusat Sains Antariksa LAPAN untuk keperluan mendukung rencana pengamatan gerhana matahari total yang diprediksi terjadi pada 9 Maret 2016.

Analisis Curah Hujan

Palangkaraya dan Balikpapan

Secara klimatologis dengan menggunakan data curah hujan selama 30 tahun (1980-2010) dari data BMKG, wilayah Palangkaraya (2,26 LS; 113,9 BT) (1001-1500 mm/6bulan) memiliki curah hujan dalam rentang normal sementara Balikpapan (6,17 LU; 106,82 BT) di atas normal (>2000 mm/6bulan) (Gambar 1).

Sementara itu, berdasarkan polanya, Palangkaraya dan Balikpapan memiliki pola hujan monsunal dengan puncak hujan terjadi pada bulan NDJ (November-Desember-Januari) ~300 mm untuk Palangkaraya dan DJ (Desember-Januari) ~220 mm untuk Balikpapan. Adapun hujan minimum terjadi pada Agustus ~100 mm baik di Palangkaraya dan Balikpapan. Secara klimatologis, pada bulan Maret, Palangkaraya memiliki kondisi curah hujan sangat banyak yaitu ~450 mm sedangkan Balikpapan lebih rendah yaitu ~300 mm (Gambar 2).

Selanjutnya, dilakukan analisis terhadap data curah hujan harian di Palangkaraya selama 35 tahun untuk mengetahui kecenderungan terjadinya hujan dengan intensitas maksimum atau ekstrem yang pernah terjadi (Gambar 3). Tampak bahwa selama 35 tahun, curah hujan harian yang memiliki nilai > 100 mm terjadi sebanyak 6 kali atau sekitar 0,047 %. Selain itu, data juga menunjukkan pola kecenderungan mengalami peningkatan curah hujan sebesar 0.002 mm/hari.

 

Gambar 1. Curah Hujan Klimatologis (1980-2010) di Kalimantan, AN (Atas Normal), N (Normal), BN (Bawah Normal) (Buku Prakiraan Musim Hujan 2014/2015 BMKG, www.bmkg.go.id).

ZOM 266

Gambar 2. Curah hujan klimatologis di wilayah Zom 266 (Palangkaraya) dan Zom 279 (Balikpapan) berdasarkan data Stasiun BMKG selama 35 tahun (1978-2012) untuk Palangkaraya dan 30 tahun untuk Balikpapan (Buku Prakiraan Musim Hujan 2014/2015 BMKG, www.bmkg.go.id).

Gambar 3. Variasi curah hujan harian selama bulan Maret (1978-2012) di Palangkaraya berdasarkan data curah hujan harian BMKG.

Belitung dan Ternate

Berdasarkan data curah hujan, Belitung (8,6 LS; 115,2 BT) tergolong Zona Nonmusim, karena memiliki pola curah hujan yang tidak jelas antara musim hujan dan musim kemarau (Gambar 4). Kendati demikian, curah hujan minimum di Belitung terjadi pada Bulan Juni dengan curah hujan rata-rata mencapai ~100 mm. Adapun puncak musim hujan terjadi pada bulan NDJ hingga ~200 mm (Gambar 6).

Sementara Ternate (0,78 LU; 127,36 BT)termasuk ke dalam wilayah Zona Musim (Gambar 5) dengan pola ekuatorial dengan puncak hujan terjadi pada bulan Mei dan Desember, yaitu > 200 mm dan minimum hujan terjadi pada Agustus (~100 mm) (Gambar 6). Pada Bulan Maret, baik di Belitung maupun Ternate memiliki curah hujan rata-rata mencapai 200 mm (Gambar 5).

Gambar 4. Curah Hujan Klimatologis (1980-2010) di Belitung, AN (Atas Normal), N (Normal), BN (Bawah Normal) (Buku Prakiraan Musim Hujan 2014/2015 BMKG, www.bmkg.go.id).


Gambar 5. Curah Hujan Klimatologis (1980-2010) di Ternate, AN (Atas Normal), N (Normal), BN (Bawah Normal) (Buku Prakiraan Musim Hujan 2014/2015 BMKG, www.bmkg.go.id).

Gambar 6. Curah hujan klimatologis di wilayah Zom 23 (Belitung) dan Zom 328 (Ternate) berdasarkan data Stasiun BMKG selama 30 tahun (1980-2010) (Buku Prakiraan Musim Hujan 2014/2015 BMKG, www.bmkg.go.id).

Gambar 7. Distribusi spasial curah hujan harian berdasarkan Satelit TRMM (kiri) dan OLR (kanan) di wilayah Belitung

Selanjutnya, distribusi spasial selama Maret di Belitung memperlihatkan bahwa hujan maksimum terkonsentrasi di bagian tengah Pulau Belitung dengan intensitas hujan > 0,35 mm/jam. Selain itu, kawasan Belitung bagian tenggara memiliki hujan yang lebih kecil di banding wilayah lainnya (Gambar 7).

A nalisis Angin dan Awan

Selanjutnya, dilakukan analisis terhadap angin dan awan secara klimatologis berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR untuk Bulan Maret. Terlihat bahwa angin monsun yang bertiup di atas Belitung, Palangkaraya, Balikpapan, Ternate, merupakan angin monsun lemah (< 4 m/s). Angin monsun di atas Belitung, Palangkaraya, dan Balikpapan merupakan angin baratan yang lemah. Sedangkan angin monsun di atas Ternate merupakan angin dari utara yang lemah juga (Gambar 8).

Gambar 8. Klimatologis angin monsun pada ketinggian 850 mb (1980-2013) pada bulan Maret berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Gambar 9. Klimatologis OLR (1980-2013) pada Bulan Maret berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Kemudian berdasarkan data awan yang ditunjukkan oleh radiasi gelombang panjang (OLR), terlihat bahwa pada bulan Maret di atas Belitung, Palangkaraya, dan Balikpapan terdapat awan yang cukup banyak (OLR < 220 W/m2). Sementara di atas Ternate cukup bersih dari liputan awan (Gambar 9).

Gambar 10. Klimatologis OLR (1998-2013) pada Bulan Maret berdasarkan data Satelit AIRS

Secara spesifik, distribusi awan memperlihatkan bahwa awan di bagian barat Belitung lebih banyak dibandingkan bagian tengah dan timur. Hal ini diperlihatkan oleh data OLR di bagian barat yang lebih kecil dibandingkan bagian tengah dan timur meskipun perbedaannya tidak signifikan (Gambar 10).

Kesimpulan

Mengacu pada analisis klimatologis parameter hujan, angin, dan awan pada bulan Maret di Belitung, Palangkaraya, Balikpapan, dan Ternate tampak bahwa hanya Ternate yang memiliki liputan awan minimum dengan curah hujan relatif tidak banyak (~200 mm) dibandingkan wilayah lain. Hal ini memperlihatkan Ternate merupakan wilayah dengan karakteristik iklim yang dapat mendukung pengamatan gerhana matahari total yang diperkirakan terjadi pada 9 Maret 2016. Sementara itu, antara Belitung, Palangkaraya, dan Balikpapan, curah hujan terbanyak terjadi di Palangkaraya pada bulan Maret mencapai 450 mm/bulan. Sedangkan untuk kondisi awan, ketiga wilayah tersebut memiliki liputan awan yang cukup banyak pada bulan Maret. Meskipun demikian, pengamatan gerhana matahari pada 9 Maret 2016 tetap dapat dilakukan di ketiga wilayah tersebut (Palangkaraya, Balikpapan, Belitung) dengan memperhatikan prediksi model cuaca mengenai hujan dan awan yang dapat diamati melalui SADEWA-LAPAN.

*Tim Analisis Kondisi Iklim dan Cuaca Untuk Mendukung Pengamatan Gerhana:

Erma Yulihastin, Juniarti Visa, Arief Suryantoro.








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL