Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Rekomendasi Bulan Minim Hujan di Raja Ampat
16 Feb 2015 • Dibaca : 5716 x ,

Rekomendasi ini disusun atas permintaan kolega kami dari Pusat Penelitian Biologi LIPI untuk keperluan mendukung rencana survei penelitian mengenai biota laut selama 3 pekan pada tahun 2015.

Analisis Curah Hujan

Secara klimatologis dengan menggunakan data curah hujan selama 30 tahun (1981-2010) dari data BMKG, wilayah Raja Ampat dan sekitarnya (0°30'S, 130°0'E) digolongkan dalam non-zom (zona musim) 54 yang memiliki pola hujan anti-monsunal dengan puncak curah hujan (~350 mm) terjadi pada bulan Juli. Sebaliknya, bulan-bulan dengan curah hujan paling rendah atau minim adalah Bulan Januari (~150 mm), Februari (~150 mm), dan November (~170 mm) (Gambar 1).

Gambar 1. Curah hujan klimatologis di wilayah Non Zom 54 (sekitar Raja Ampat, Papua) berdasarkan data Stasiun BMKG selama 30 tahun (1981-2010) (Buku Prakiraan Musim Hujan 2014/2015 BMKG, www.bmkg.go.id).

Sementara itu, perkiraan curah hujan selama November 2014 hingga Maret 2015 di sekitar Raja Ampat memperlihatkan kondisi normal (warna kuning) (Gambar 2). Data minim hujan pada bulan Februari dan November di sekitar wilayah Raja Ampat secara klimatologis juga ditunjukkan dari hasil pengamatan satelit TRMM (Gambar 3).

Analisis Angin

Pemilihan bulan dengan analisis angin terbaik mengacu pada analisis sebelumnya mengenai curah hujan yang telah menghasilkan bulan-bulan Januari, Februari, November, sebagai tiga bulan dengan curah hujan minimum. Adapun angin secara klimatologis memperlihatkan bahwa pada bulan Januari dan Februari, di sekitar wilayah Raja Ampat bertiup angin monsun baratan yang cukup kuat. Pada bulan Maret, angin baratan mulai melemah.

Sementara pada bulan April, pola angin tampak kacau karena pada periode terjadi musim peralihan dan perubahan angin dari angin baratan menjadi timuran. Pola transisi angin semacam ini juga terjadi pada Bulan November di mana terjadi pergantian dari timuran menjadi baratan. Sedangkan pada bulan Desember, angin baratan mulai menguat kembali. 

 

Gambar 2. Prakiraan musim hujan 2014/2015 berdasarkan BMKG (Buku Prakiraan Musim Hujan 2014/2015 BMKG, www.bmkg.go.id).

Gambar 3. Klimatologi hujan pada bulan Februari dan November berdasarkan Satelit TRMM (trmm.gsfc.nasa.gov).

Gambar 4. Vektor angin dan gradasi warna menunjukkan angin zonal (timur barat) klimatologis pada bulan Januari, Februari, Maret, April, November, Desember.

Kesimpulan

Mengacu pada analisis hujan minimum dan angin monsun yang bersahabat (intensitas sedang), maka bulan terbaik yang direkomendasikan untuk melakukan survei penelitian biota laut di sekitar Raja Ampat pada 2015 adalah bulan Januari, Februari, Maret, dan Desember. Bulan April dan November tidak direkomendasikan karena merupakan bulan puncak musim peralihan di mana angin monsun sering mengalami kekacauan dalam arah dan intensitas akibat perubahan dari monsun baratan ke monsun timuran, demikian pula sebaliknya. Sementara itu berdasarkan hasil prediksi, secara umum pada tahun 2015 ini akumulasi curah hujan pada musim hujan di Indonesia akan lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya karena pengaruh ElNino. Begitu pula untuk daerah yang mengalami curah hujan anti-monsunal seperti Raja Ampat, diperkirakan curah hujan pada puncak musim hujan (Juni-Juli-Agustus) akan berkurang karena fenomena ElNino yang berefek pada pemindahan "kolam panas" dari timur Papua ke Samudera Pasifik ekuator-tengah.

Penulis: Erma Yulihastin, Peneliti Klimatologi PSTA-LAPAN.








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL