Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


CENS Memperkuat Konveksi dan Meningkatkan Hujan di Jakarta
11 Feb 2015 • Dibaca : 3768 x ,

Analisis Hujan Penyebab Banjir Jakarta 9 Februari 2015

Oleh: Tim Monitoring Banjir Jakarta PSTA-LAPAN*)

Ringkasan

Aliran dingin di permukaan (Cold Surge) yang menjalar dari Laut Cina Selatan menuju Jakarta terjadi secara intensif pada 8-9 Februari 2015. Aliran ini ditandai dengan menguatnya angin monsun dari utara di atas Laut Jawa melintasi ekuator menuju Jakarta, selanjutnya dikenal dengan CENS (Cross-Equatorial Northerly Surge). CENS berperan penting dalam mengintensifkan hujan di Jakarta sehingga berlangsung terus-menerus selama 24 jam pada 9 Februari 2015 dengan akumulasi mencapai 150-175 mm. Hujan tersebut terjadi karena aktivitas konvektif tinggi (deep convective) dan mencapai maksimum dari pagi hingga siang di Jakarta pada 9 Februari 2015.

Aktivitas CENS Menguat

Berdasarkan data hasil prediksi WRF SADEWA-LAPAN, indeks CENS menunjukkan intensitas yang terus menguat sejak 8 Februari 2015. Hal ini diperlihatkan dengan nilai indeks CENS antara -6 hingga -8 yang termasuk dalam kategori CENS intensitas sedang (Gambar 1).

Gambar 1. Indeks CENS pada tanggal 8 Februari pukul 19.00 WIB – 9 Februari 19.00 WIB (kiri) dan 9 Februari 00.00 WIB – 10 Februari 00.00 WIB (kanan) 2015 berdasarkan prediksi WRF SADEWA-LAPAN.

Menguatnya indeks CENS berkaitan dengan aktivitas Cold Surge di atas Laut Cina Selatan yang sedang aktif. Cold Surge ini ditandai dengan angin permukaan dari utara yang sangat kuat (>10 m/s) di atas Laut Cina Selatan. Angin dari utara tersebut memperkuat bukti bahwa pengaruh Cold Surge memanjang membentuk CENS seperti pada Gambar 2-kanan.

Sementara itu, pada 9 Februari terlihat bahwa suhu permukaan laut yang relatif dingin terbentuk di wilayah Laut Cina Selatan sekitar 6-10o LU;104-108oBT (Gambar 2-kiri). Adapun suhu permukaan laut di perairan sekitar Benua Maritim Indonesia (terutama Laut Jawa) relatif hangat yaitu > 28oC. Suhu permukaan laut yang relatif hangat ini berperan dalam meningkatkan kelembapan di permukaan sehingga mempercepat proses konveksi.

Gambar 2 . Suhu permukaan laut (kiri) dan angin pada 850 mb (kanan) rata-rata pada 9 Februari 2015 berdasarkan prediksi WRF SADEWA-LAPAN.

Aktivitas Konvektif Meningkat

Angin dari utara tersebut telah berperan utama dalam mentranspor kelembapan secara terus menerus menuju Jakarta sehingga meningkatkan aktivitas konvektif dan hujan di wilayah tersebut. Berdasarkan pemantauan awan melalui Satelit MTSAT tampak bahwa awan-awan konvektif yang terbentuk pada 9 Februari masuk dalam kategori awan-awan dingin konvektif tinggi (deep convective). Awan-awan ini memiliki temperatur -60oC hingga -80oC dan memiliki siklus hidup selama 9 jam mulai pagi pukul 06.00 WIB hingga meluruh pada pukul 14.00 WIB (Gambar 3).

Gambar 3 . Awan-awan dingin konvektif di atas Jakarta pada 9 Februari 2015 berdasarkan data Satelit MTSAT.

Indeks konvektif di atas Jakarta menunjukkan aktivitas konvektif terpantau tinggi sejak dini hari hingga malam hari pada 9 Februari 2015. Pada dini hari (00-04 WIB), aktivitas konvektif di atas wilayah Soekarno Hatta terlihat paling tinggi dibandingkan wilayah lainnya.

Pukul 04.00 WIB hingga tengah malam 23.00 WIB, pola aktivitas konvektif pada 9 wilayah di Jakarta memiliki kesamaan, kecuali wilayah Soekarno Hatta yang memiliki aktivitas konvektif lebih tinggi pada pukul 16.00-18.00 WIB. Selain itu, aktivitas konvektif maksimum (40-50) terjadi pada pukul 04.00 WIB hingga 13.00 WIB, bertepatan dengan hujan intensif yang mengguyur Jakarta hingga menimbulkan banjir (Gambar 4).

Gambar 4 . Indeks konvektif di 9 titik di Jakarta pada 9 Februari 2015 berdasarkan data Satelit MTSAT.

Hujan Persisten

Meningkatnya aktivitas konvektif selama 24 jam di Jakarta pada 9 Februari telah mengakibatkan hujan dengan intensitas rata-rata >5 mm/jam dan berlangsung secara terus-menerus (persisten) sehingga berpotensi menimbulkan banjir (Gambar 5). Secara akumulatif, hujan yang turun selama 24 jam pada 9 Februari 2015 berdasarkan data GSMap adalah sekitar 150-175 mm (Gambar 6).

 

  Gambar 5 . Hujan di Jakarta selama 9 Februari 2015 berdasarkan data GSMap.

Gambar 6 . Akumulasi hujan di Jakarta selama 9 Februari 2015 berdasarkan data GSMap.

Kesimpulan

Hujan yang turun pada 9 Februari di Jakarta berlangsung terus-menerus selama 24 jam karena dipengaruhi oleh aktivitas konvektif yang tinggi dan mencapai maksimum pada pukul 04.00-14.00 WIB, bertepatan dengan kejadian banjir di Jakarta. Aktivitas awan dingin konvektif tinggi ( deep convective) berlangsung intensif selama 9 jam, sejak pukul 06.00 WIB-13.00 WIB. Aktivitas konvektif tersebut dipengaruhi oleh terjadinya CENS intensitas sedang yang sudah berlangsung sejak 8 Februari 2015. Aktivitas CENS tersebut ditengarai berperan penting dalam mentranspor kelembapan di permukaan melalui penguatan angin dari utara yang berasal dari Laut Cina Selatan.

*) Erma Yulihastin, Risyanto, Edy Maryadi, Suaydhi, Aisya Nafiisyanti, Farid Lasmono, Krismianto, Noersomadi, Ginaldi Ari Nugroho, Eddy Hermawan, Didi Satiadi, Laras Tursilowati, Waluyo Eko Cahyono, Halimurrahman.







Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL