Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Kontribusi Asap dari Kalimantan Menuju Jakarta dan Bandung Analisis Peningkatan Aerosol di Atmosfer Bandung dan Jakarta
03 Nov 2015 • Dibaca : 2511 x ,

Ringkasan

Penurunan visibilitas atmosfer di wilayah Bandung dan Jakarta pada periode 23-24 Oktober 2015 dianalisis menggunakan data dari satelit, model, dan observasi. Semua data memperlihatkan terjadinya peningkatan konsentrasi aerosol di atmosfer Bandung dan Jakarta yang sebagian besar berasal dari arah timur dan utara. Data visibilitas menunjukkan aerosol di atas Jawa barat sebagian besar mencapai kadar di atas ambang (0.4) atau “very hazy” (sangat berkabut/kabur) dengan nilai AOD 1-2. Peningkatan aerosol yang signifikan di Bandung tersebut selain disebabkan oleh antropogenik karena aktivitas manusia yang mengakibatkan pembakaran CO, juga diperparah dengan kejadian kebakaran hutan di wilayah Kareumbi, Sumedang, sejak 22 Oktober dan semakin meluas pada 23-24 Oktober 2015. Selain itu, aerosol di atas Bandung pada ketinggian 1-5 km juga berasal dari Kalimantan. Sementara untuk wilayah Jakarta, peningkatan aerosol juga berasal dari arah timur (Laut Timur) dan utara (Kalimantan). Kontribusi aerosol di Jakarta juga kemungkinan berkaitan dengan kejadian kebakaran hutan di Purwakarta.

Peningkatan Aerosol

Data hotspot memperlihatkan terjadi peningkatan jumlah hotspot pada rentang 16-23 Oktober (Gambar 2) dibandingkan dengan 11-16 Oktober 2015 (Gambar 1). Wilayah hotspot yang mengalami penambahan jumlah tersebut terjadi di sekitar Purwakarta yang diduga berkaitan dengan kejadian kebakaran hutan di Purwakarta. Sedangkan wilayah hotspot lain yang mengalami peningkatan adalah di sekitar Sumedang yang berhubungan dengan kejadian kebakaran hutan di Kareumbi, Kabupaten Sumedang.

Peningkatan hotspot selanjutnya dikonfirmasi dengan menggunakan data ketebalan aerosol atau Aerosol Optical Depth yang menunjukkan bahwa di sebagian besar wilayah Jawa Barat mengalami kenaikan tingkat AOD dari nilai 0-1 (Gambar 1, 17 Oktober 2015) menjadi 1-2 (Gambar 2, 24 Oktober). Bahkan untuk wilayah Serang, AOD berada pada kisaran nilai 3-4. Berdasarkan referensi, pada kota besar seperti Amerika Serikat, AOD di atas nilai 0,4 sudah dapat digolongkan sebagai very hazy (sangat berkabut). Berdasarkan data AOD tersebut tampak bahwa atmosfer pada tanggal 24 Oktober berada dalam kondisi ekstrem sangat keruh karena terdapat peningkatan aerosol yang cukup signifikan.

Konsentrasi peningkatan CO2 di wilayah Jakarta dan Bandung yang meningkat tajam (19-20 ppmv) selama periode 21-25 Oktober 2015 juga terekam jelas oleh satelit AIRS (Gambar 3).

Gambar 1. Hotspot selama rentang waktu 11-17 Oktober 2015 (atas) dan data Aerosol Optical Depth (bawah) pada 17 Oktober 2015.

Gambar 2. Hotspot selama rentang waktu 16-23 Oktober 2015 (atas) dan data Aerosol Optical Depth (bawah) pada 24 Oktober 2015.


Gambar 3. Distribusi spasial konsentrasi CO melalui satelir AIRS selama 21-25 Oktober 2015.

 Kondisi Atmosfer di Bandung

Kondisi berkabut di atas Bandung berhubungan dengan dominasi angin timuran di permukaan (1000 mb) yang terjadi sejak pagi jam 7.00 WIB hingga 17.00 WIB (Gambar 4). Selain itu, tampak bahwa temperatur permukaan (2 m) di wilayah Gunung Kareumbi Sumedang lebih tinggi dibandingkan Bandung. Temperatur tinggi ini kemungkinan berkaitan dengan identifikasi hotspot sekaligus menguatkan bahwa pengaruh angin timuran telah mendistribusikan temperatur tinggi tersebut ke Bandung.

Gambar 5 memperlihatkan penambahan tajam gas CO juga terjadi di atas Bandung pada tanggal 23 dan 24 Oktober yang mencapai dua kali lipat dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Dari manakah sumber polutan tersebut? Hasil model Hysplit memperlihatkan bahwa polutan di atas Bandung berasal dari dua sumber utama yaitu di permukaan (500 m) berasal dari arah timur (Laut Timor). Sedangkan sumber polutan dari Kalimantan telah mendistribusikan polutan ke wilayah Bandung pada ketinggian 1-5 km.

Gambar 4. Vektor angin ketinggian 10 m dan temperatur permukaan ketinggian 2 m pada 23 Oktober 2015 berdasarkan model WRF SADEWA-LAPAN. Cekungan Bandung dalam area yang diberi kotak hitam sementara kawasan Gunung Kareumbi diberi lingkaran hitam.

Gambar 5. Konsentrasi CO (ppm) di atas wilayah Bandung dari data observasi AQMS.

 

Gambar 6. Trayektori polutan yang menuju wilayah Bandung dari tanggal 20-24 Oktober 2015.

Gambar 7 memperlihatkan penampang vertikal angin terhadap bujur bahwa secara dominan dari permukaan hingga 9 km, angin yang bertiup di atas Bandung merupakan angin timuran kuat (7-10 m/det) pada pagi hingga siang hari. Sementara pada siang hingga sore hari angin timuran masih cukup kuat meskipun sudah mulai melemah (5-8 m/det). Angin timuran kuat ini jelas berkaitan dengan monsun timuran yang berasal dari Australia sebagai penandau musim kemarau di wilayah monsunal Indonesia. Selain angin timuran, komponen angin utara-an juga terlihat sangat kuat (6-9 m/det) di atas Bandung yang terjadi dari pagi hingga sore (Gambar 8).

Gambar 7. Penampang vertikal ketinggian (km)-bujur untuk perata-rataan lintang wilayah Bandung 23 Oktober 2015 berdasarkan model WRF SADEWA-LAPAN.

Gambar 8. Sama seperti Gambar 7, tetapi untuk penampang vertikal ketinggian (km)-lintang untuk perata-rataan di atas wilayah Bandung.

Kondisi Atmosfer di Jakarta

            Gambar 9 menunjukkan temperatur tinggi (>28oC) di permukaan pada 23 Oktober 2015 teridentifikasi di atas Jakarta sepanjang hari. Sementara evolusi angin secara spasial di atas Jakarta menunjukkan pagi hingga siang hari angin timuran di permukaan terlihat sangat kuat di atas Jakarta. Sedangkan pada siang hingga sore hari didominasi oleh angin timur laut.

            Gambar 10 memperlihatkan sumber utama polutan yang menuju Jakarta berasal dari timur (Laut Timor) di permukaan dan dari Kalimantan untuk ketinggian 3-5 km. Sama seperti Bandung, di wilayah Jakarta juga dipengaruhi oleh komponen angin timuran dan angin utara-an dari permukaan hingga ketinggian 8 km (Gambar 11 dan 12).

Gambar 9. Sama seperti Gambar 4, tetapi untuk wilayah Jakarta.

Gambar 10. Sama seperti Gambar 5, tetapi untuk wilayah Jakarta.

Gambar 11. Sama seperti Gambar 7, tetapi untuk wilayah Jakarta.

Gambar 12. Sama seperti Gambar 8, tetapi untuk penampang vertikal ketinggian-lintang untuk perata-rataan bujur wilayah Jakarta.

 

Kesimpulan

Mekanisme proses akumulasi dan penyebaran aerosol sehingga menimbulkan fenomena very hazy di Bandung dan Jakarta sangat dipengaruhi oleh angin timuran dan utara-an. Secara lokal, peningkatan tajam polutan di Bandung berhubungan dengan dengan kebakaran asap yang berasal dari Gunung Kareumbi. Sementara di wilayah Jakarta pada pagi hingga siang hari dipengaruhi oleh kebakaran hutan di Purwakarta. Selain pengaruh lokal, sumber utama aerosol di Bandung dan Jakarta juga berasal dari Laut Timor (permukaan) dan Kalimantan (1-5 km). Efek komponen angin utara-an dan timuran memberikan kontribusi penyebaran dan peningkatan aerosol di Bandung dan Jakarta yang signifikan pada 23-24 Oktober 2015.

Dikerjakan oleh: Tim Kebencanaan PSTA-LAPAN.








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL