Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Prediksi ElNino dan Potensi Kekeringan di Indonesia
18 Jun 2015 • Dibaca : 5518 x ,

Prediksi ElNino dan Potensi Kekeringan di Indonesia

Analisis Prediksi ElNino 2015-2016

Oleh: Erma Yulihastin dkk.*)

Ringkasan

ElNino telah berlangsung sejak September 2014 dengan indeks bervariasi antara lemah (0,5) hingga moderat (1). Hingga saat ini, Mei 2015, ElNino berada di level moderat. Intensitas ElNino ini diprediksi terus menguat (1-1,5) hingga Agustus 2015 dengan probabilitas 90%. ElNino juga diprediksi terus berlangsung hingga Februari 2016 dengan peluang 80%. Sementara itu, indeks IOD normal namun memiliki nilai positif sehingga tetap berpengaruh pada pengurangan suplai awan dari Samudera Hindia menuju Indonesia. Sinyal ElNino yang terus menguat dan IOD normal positif ini diperparah dengan periode pelemahan monsun yang ditandai dengan nilai negatif indeks TBOIP sejak JJA 2015 hingga JJA 2016. Pelemahan monsun ini akan turut andil dalam menghalangi pergerakan dan pembentukan pusat-pusat konveksi dari India menuju Australia yang melalui wilayah BMI. Prediksi hujan berdasarkan CCAM juga memperlihatkan wilayah di selatan Indonesia akan mengalami kondisi minim hujan selama Juni-September 2015. Hujan akan mulai terjadi pada November-Desember 2016 dengan intensitas ringan.

Sinyal ElNino Menguat

Sejak September 2014, telah berlangsung ElNino dengan intensitas lemah hingga moderat (Gambar 1). Sementara pada Mei 2015, indeks menunjukkan terjadinya ElNino moderat (1,09). Indeks Nino 3.4 dihitung dari nilai anomali SST di wilayah Pasifik tengah ekuator (120-170oBB; 5oLS-5 oLU). Berdasarkan penelitian, indeks Nino 3.4 merupakan indeks terkuat yang bisa menggambarkan keterkaitan anomali SST dan indikator kekeringan atau kebasahan di wilayah Indonesia.

Gambar 1. Indeks Nino 3.4 dari Januari 2011 hingga Mei 2015 (http://www.bom.gov.au/climate/enso/indices.shtml)

Untuk selanjutnya, ElNino diprediksi semakin menguat (1-1,5) sejak Mei hingga Agustus dengan peluang di atas 90%, dan terus berlangsung hingga Januari 2016 dengan peluang 80% (Gambar 2(a) dan (b)).

Gambar 2. Peluang Indeks Nino 3.4 secara statistik periode Mei 2015 hingga Januari 2016 (a) dan rata-rata dari 17 model dinamik dan 9 model statistik (b) periode Maret 2015 hingga Februari 2016 (http://www.bom.gov.au/climate/iod/indices.shtml).


IOD Normal

Selain mengamati ElNino yang terjadi di Samudera Pasifik sebagai indikator kekeringan, anomali yang terjadi di Samudera Hindia yaitu IOD, juga perlu diperhatikan. Data indeks IOD memperlihatkan bahwa kondisi IOD normal dan diprediksi tetap dalam kondisi netral hingga Februari 2016. Meskipun demikian, kondisi IOD normal tetap perlu diwaspadai karena nilai indeksnya ada pada rentang nilai IOD positif sejak Mei 2015 (Gambar 3 (a) dan (b)).

Gambar 3. Indeks IOD sejak Januari 2011 hingga Januari 2015 (a), Prediksi model dinamik POAMA pada Juni 2015-Februari 2016. (b) periode Maret 2015 hingga Februari 2016 (http://bom.gov.au/).

Indeks IOD dihitung dari selisih anomali SST di Samudera Hindia dekat Afrika (50-70oBT; 10oLS-10oLU) terhadap anomali SST di Samudera Hindia sebelah timur Pulau Sumatera (90-110oBT; 10oLS-0o). Indeks IOD positif menjadi indikator kekeringan bagi wilayah di bagian barat Indonesia karena pusat konvergensi terbentuk di dekat Afrika sehingga menghalangi suplai awan dari Samudera Hindia menuju Indonesia.

Periode Monsun Lemah

Dalam menganalisis anomali iklim di Indonesia, hal yang paling utama untuk dikaji adalah mengenai kekuatan monsun di wilayah BMI. Berdasarkan penelitian, intensitas monsun ini secara periodik berulang selama 2 tahun sekali atau disebut dengan Tropospheric Biennal Oscillation (TBO). Pengembangan terakhir penelitian TBO ini menjadi indeks yang diterapkan untuk wilayah Indonesia-Pasifik yang mencakup di dalamnya wilayah BMI (Benua Maritim Indonesia), menghasilkan indeks TBOIP (TBO Indonesia-Pasifik) (Gambar 4 (a)). Indeks TBOIP dihitung dari nilai EOF ke-3 dengan probabilitas 6%, menggunakan model ARIMA dengan tingkat kepercayaan prediksi 0,8-0,95 (Muttaqin, 2015).

Pada Gambar 4(a) terlihat bahwa pada tahun 2015 mulai JJA, wilayah BMI mengalami periode tahun monsun lemah, dengan nilai indeks TBOIP mencapai -50. Kriteria lemah jika indeks <-37,5 dan kuat jika indeks >29,2. Ini berarti wilayah BMI akan mengalami anomali konvektif lemah sejak Juni 2015 hingga Februari 2016.

Gambar 4. Indeks TBOIP yang dapat digunakan untuk menjadi indikator kekuatan monsun di wilayah Indonesia-Pasifik (TBOIP) (a), diagram yang menunjukkan periode TBOIP lemah dengan lingkaran merah muda merupakan wilayah yang anomali konvektif lemah sedangkan lingkaran biru merupakan wilayah dengan anomali konvektif kuat (Muttaqin, 2015).

Prediksi Curah Hujan CCAM

Gambar 5(a)-(d) menunjukkan prediksi curah hujan berdasarkan model dinamik CCAM. Terlihat bahwa curah hujan minimum (<50 mm/bulan) terjadi selama musim kemarau 2015 (Juni-September 2015) di wilayah selatan BMI (Jawa dan Nusa Tenggara). Di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, curah hujan masih mengalami cukup hujan (50-300 mm/bulan).

Gambar 5. Prediksi curah hujan berdasarkan model CCAM (a)-(d) secara berturut-turut pada bulan Juni-September 2015.

Pada bulan Oktober 2015, hujan di Pulau Jawa mulai turun dengan intensitas ringan 50-100 mm/bulan (Gambar 6(a)-(c)). Namun untuk wilayah tenggara, kondsisi kering masih akan berlangsung hingga November 2015. Pada bulan Desember 2015, di bagian selatan dan tenggara mengalami hujan intensitas ringan (50-150 mm/bulan). Intensitas hujan tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan hujan pada Desember 2014 (gambar tidak ditampilkan).

Gambar 6. Prediksi curah hujan berdasarkan model CCAM (a)-(c) secara berturut-turut pada bulan Oktober-Desember 2015.

Hasil prediksi curah hujan tersebut dijalankan menggunakan model iklim CCAM (Cubic Conformal Atmospheric Model) resolusi 60 km menggunakan skenario A2, dengan input initial condition berasal dari data reanalisis NCEP/NCAR tahun 2010. Tingkat kepercayaan dibandingkan dengan curah hujan dari satelit TRMM adalah sekitar 70%, dengan over-estimated pada musim hujan dan under-estimated pada musim kemarau.

Kesimpulan

Prediksi menguatnya ElNino, kondisi IOD yang normal namun cenderung positif, dan pelemahan monsun akan berlangsung pada Mei 2015 hingga Februari 2016. Kondisi ini dapat mempengaruhi pengurangan awan dan hujan karena anomali iklim tersebut berpotensi mengakibatkan anomali aktivitas konvektif yang negatif di wilayah Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya bersiap diri dalam menghadapi ancaman kemarau panjang dan kekeringan di wilayah Indonesia selama periode Juni-September 2015.

*)Erma Yulihastin, Peneliti Klimatologi di Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, LAPAN

Referensi

Muttaqin A.S., 2015. Identifikasi Struktur Spasial TBO dan Implementasi Indeks TBO Untuk Wilayah Indo-Pasifik, Tesis Magister Sains Atmosfer, Sains Kebumian, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung.








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL