Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Analisis Gelombang Suhu Panas di India
08 Jun 2015 • Dibaca : 4003 x ,

Analisis Gelombang Suhu Panas di India

Oleh: Noersomadi*) dan Erma Yulihastin*)

Beberapa hari ini, dunia dikejutkan dengan fenomena cuaca ekstrem di India yang mengakibatkan ratusan bahkan ribuan orang meninggal dunia. Hingga 27 Mei 2015, beberapa media melaporkan korban yang meninggal mencapai 1000 orang lebih dan suhu udara di wilayah tersebut mencapai 50 derajat celcius (BBC, Detik, Kompas, 27/5).

Gelombang Panas

Suhu udara yang sangat tinggi ini menyerupai fenomena gelombang panas yang dapat terjadi pada saat musim panas ekstrem di negara lintang tinggi dengan empat musim seperti di Eropa dan Amerika. Sementara India merupakan negara tropis lintang rendah, dengan ciri monsun yang kuat pada periode musim panas (Juni-Juli-Agustus).

Pada masa musim panas tersebut, India mendapat suplai kelembapan tinggi yang berasal dari Samudera Hindia dan Teluk Benggala sehingga menimbulkan musim hujan di India. Onset atau tanggal yang menandai awal monsun musim panas di India tersebut pada umumnya terjadi di bulan Mei. Sehingga gelombang panas di India yang terjadi pada pertengahan hingga akhir Mei saat ini merupakan fenomena cuaca yang tidak lazim terjadi di wilayah tropis seperti India.

Suhu udara yang tinggi di India mulai terjadi sejak 18 Mei 2015. Hal ini terlihat dari data suhu udara dari reanalisis NCEP/NCAR yang memperlihatkan bahwa suhu rata-rata yang terjadi di India selama 18-25 Mei mencapai 40 derajat Celcius (Gambar 1).

Gambar 1 Rata-rata temperatur permukaan dan vektor angin selama 18 – 25 Mei 2015. Garis kontur warna menunjukkan wilayah dengan temperatur permukaan rata-rata di atas 30oC.

Selain itu, tampak pula bahwa puncak gelombang panas di India terjadi pada 22 Mei 2015 dengan suhu mencapai 48oC (Gambar 2).

Gambar 2 Vektor angin dan temperatur permukaan pada tanggal 22 Mei 2015 pukul 12 UTC atau pukul 16 waktu lokal di India

Pada Gambar 2 juga terlihat jelas bahwa wilayah yang mengalami gelombang suhu panas bukan hanya India namun Afrika Utara, Irak, Iran, serta Saudi Arabia. Potensi wilayah tersebut mengalami suhu terpanas ini dapat dikaitkan dengan posisi semu matahari yang pada 26 – 28 Mei 2015 memang berada di sekitar lintang 22o LU. Meskipun demikian, pada Gambar 2 terlihat bahwa India merupakan wilayah dengan panas paling ekstrem.

Gelombang suhu panas ini disebabkan oleh udara lembap dari Samudera Hindia bersifat menyerap panas bergerak menuju wilayah India. Akan tetapi, oleh karena bertemu dengan udara dingin dari wilayah utara dan bersifat kering, maka kelembapan menjadi berkurang. Oleh karena itu, yang terjadi adalah suhu udara semakin meningkat dan bersifat kering. Kondisi kering di wilayah India ditunjukkan oleh data Precipitable Water Vapor atau data kandungan uap air (Gambar 3).

Gambar 3 Kandungan uap air pada tanggal 22 Mei 2015 pukul 12 UTC (pukul 16 waktu India)

Akibat suplai udara lembap dari Samudera Hindia belum cukup memadai, sehingga belum ada pembentukan awan di atas wilayah India. Fenomena ini hampir terjadi setiap tahun pada bulan Mei.

Anomali Angin dan Kelembapan

Meskipun demikian, fenomena yang terjadi pada sepekan terakhir di Bulan Mei tersebut memperlihatkan adanya anomali yang disebabkan oleh dua hal. Pertama, anomali pada angin monsun barat daya India yang mengakibatkan terjadinya pembalikan arah angin dan pengurangan kelembapan, dibandingkan kondisi normal. Tampak pada Gambar 4, angin yang menuju wilayah India berasal dari timur yaitu Teluk Benggala, bukan dari barat daya (Samudra Hindia). (Gambar 4).

Gambar 4 Anomali angin pada ketinggian di dekat permukaan level 850 mb, selama 26 Mei-1Juni 2015 (Sumber gambar: cpc.ncep.noaa.gov).

Ini berpengaruh pada anomali kondisi kelembapan yang minimum atau kering di atas India. Pada Gambar 5 juga terlihat bahwa kelembapan yang menuju ke India berasal dari Teluk Benggala dan Thailand (Gambar 5).

Gambar 5 Anomali fluks kelembapan, selama 26 Mei-1Juni 2015 (Sumber gambar: cpc.ncep.noaa.gov).

Pada periode musim semi (MAM) dan panas (JJA), secara klimatologis seharusnya angin monsun yang menuju wilayah India merupakan angin barat daya yang berasal dari Samudera Hindia dan Laut Arab (Gambar 6). Selain itu, fitur yang unik yang terbentuk di sepanjang ekuator adalah Somalia Jet.

Gambar 6 Angin monsun barat daya bertiup menuju wilayah India pada periode musim semi dan musim panas (A) Lingkaran A dan B merupakan Somalia Jet, yaitu angin yang bertiup dari A ke B secara dengan kecepatan 20-25 m/detik di permukaan. (Sumber gambar: Monsoon, Encyclopedia of Atmospheric Sciences, Gerald R. North, 2014).

Mekanisme dari anomali monsun dan kelembapan di India ini secara lebih lanjut dapat berkaitan dengan terjadinya ElNino pada periode musim dingin sebelumnya (DJF) (Ezumi dkk., 2008). ElNino tersebut telah berakibat pada tertundanya (delay) onset monsun India dan melemahkan Somalia Jet sehingga pusat konvergensi justru terbentuk di Afrika sehingga memaksa terbentuknya angin dari India menuju Afrika (Gambar 7). Sebagaimana diketahui, ElNino sudah mulai berlangsung sejak September 2014 hingga sekarang, dengan variasi kekuatan dari lemah hingga moderat.

Gambar 7 Mekanisme keterkaitan antara ElNino dan anomali monsun India. Panah warna hijau menunjukkan pada periode Mei, terjadi anomali angin yang bertiup dari India menuju Afrika. (Sumber gambar: Monsoon, Ezumi dkk., 2008).

Kedua , faktor yang memegang peranan penting pada peningkatan suhu ekstrem di India bisa saja berkaitan dengan keberadaan dataran tinggi Tibet (ketinggian 4-6 km) di utara India yang berfungsi sebagai elevated heat source selama periode musim panas (Gambar 8).

Gambar 8 Anomali temperatur di atas dataran tinggi Tibet (Sumber gambar: Monsoon, Encyclopedia of Atmospheric Sciences, Gerald R. North, 2014).

Secara teori, dataran tinggi Tibet memberikan efek semakin meningkatkan suhu pada wilayah antara 20-40oLU. Anomali temperatur lebih panas yang berkaitan dengan elevated heat source tersebut dapat berpengaruh menaikkan suhu di bagian utara India.

Noersomadi*) Peneliti Bidang Teknologi Atmosfer dan Erma Yulihastin*) Peneliti Bidang Pemodelan Atmosfer, Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer-LAPAN.

Referensi:

Izumo T. et al., 2008. The Role of the Western Arabian Sea Upwelling in Indian Monsoon Rainfall Variability, J. of Clim., 5603-5623.








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL