Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Pengaruh Konsentrasi Polutan Terhadap Radiasi Global
26 Nov 2014 • Dibaca : 2607 x ,

Studi mengenai polusi udara di Indonesia terus berkembang begitupun mengenai masalah cuaca dan iklim yang berhubungan dengan polusi udara terus dikaji. Kasus polusi di kota-kota besar perlu pengawasan dan monitoring terhadap sumber pencemar dan hendaknya dilakukan secara kontinyu mengingat perbedaan musim kemarau dan musim hujan berhubungan dengan kemampuan udara untuk mengencerkan dan menyebarkan polutan. Dalam makalah ini akan dibahas sejauh mana pengaruh konsentrasi ataupun unsur polutan yang dinyatakan sebagai kualitas udara terhadap parameter meteorologi sekunder yaitu radiasi surya. Adapun yang dimaksud dengan parameter meteorologi sekunder disini adalah parameter meteorologi yang mempengaruhi penyebaran polutan seperti hujan, kabut, dan radiasi surya. Sedangkan parameter meteorologi primer seperti angin, turbulensi, stabilitas udara, dan inversi (Arya, P., 1999).

Data yang digunakan adalah data meteorologi permukaan Kota Bandung tahun (1975-2006) dan data polusi udara ambien Kota Bandung tahun (2001-2003). Lokasi yang dijadikan sebagai daerah kajian penelitian adalah Kota Bandung. Pada penelitian ini dianalisis data radiasi global hasil pengamatan secara langsung dan dari perhitungan (Allen et al., 1998) yaitu dengan menggunakan data lama penyinaran matahari jika pengukuran radiasi global secara langsung tidak tersedia. Untuk menentukan nilai indeks kualitas udara di kota Bandung pada dua lokasi stasiun pengamatan, digunakan rumus dari Ott, (1987).



Korelasi antara indeks kualitas udara dengan radiasi global pada bulan April dan Juli 2002 serta bulan Januari, April, dan Juli 2003 di Stasiun Cisaranten-Bandung.

Stasiun Cisaranten musim hujan diwakili oleh bulan Januari, musim transisi H-K diwakili oleh bulan April, dan musim kemarau diwakili oleh bulan Juli. Untuk perwakilan musim transisi K-H tidak didapatkan hasil dikarenakan ketidaklengkapan data. Pada tahun 2002 dari hasil terlihat bahwa pada bulan April dan Juli sama-sama memiliki korelasi yang negatif. Begitu juga pada tahun 2003, dimana pada bulan Januari, April, dan Juli memiliki korelasi yang negatif. Dalam penggambaran distribusi radiasi global dari hasil running TAPM, dibuat kontur radiasi global yang di running selama 5 hari berturut-turut untuk musim hujan dan kemarau. Kontur yang dibuat yaitu tahun 2001, 2003 dan 2006 dengan merata-ratakan nilai radiasi global selama 5 hari untuk musim hujan dan kemarau. Untuk Kota Bandung, distribusi radiasi global pada bulan Februari 2001 sebagai perwakilan musim hujan dan bulan Juli 2001 sebagai perwakilan musim kemarau, ditunjukkan oleh gambar berikut.


Distribusi radiasi global hasil running TAPM pada musim hujan (a) dan musim kemarau (b) tahun 2001 di Kota Bandung.

Dari hasil terlihat bahwa pada musim hujan (Gambar 3.6 a) nilainya berkisar antara (480-550) W/m2, untuk daerah sekitar Dago memiliki nilai radiasi sebesar 505 W/m2, untuk daerah sekitar Tirtalega dan Cisaranten sebesar 500 W/m2. Nilai radiasi global yang tinggi berada di sekitar wilayah Bandung bagian utara dan selatan dengan kisaran nilai (520-550) W/m2. Untuk musim kemarau (Gambar 3.6 b) memiliki kisaran nilai radiasi global sebesar (400-620) W/m2. Daerah sekitar Dago dan Tirtalega memiliki nilai radiasi global sebesar 580 W/m2, sedangkan untuk daerah sekitar Batununggal, Ariagraha dan Cisaranten nilai radiasi globalnya sebesar 620 W/m2 dengan tingkat radiasi global yang tinggi berada hampir di seluruh wilayah Bandung kecuali Bandung bagian utara, dengan nilai berkisar antara (540-620) W/m2. Pengaruh konsentrasi polutan terhadap radiasi global (baik indeks maupun unsur polutan) bisa terlihat, terutama yang terjadi pada musim trnasisi dengan nilai koeffisien korelasi sebesar 0.72. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan polutan akan berpengaruh terhadap besarnya radiasi global yang diterima di permukaan bumi atau sebaliknya. Distribusi radiasi global keluaran TAPM di Kota Bandung (daerah urban) banyak dipengaruhi oleh musim. Hal ini dibuktikan dengan adanya distribusi yang berbeda untuk setiap perwakilan musim. Nilai radiasi matahari dapat dipakai untuk membandingkan atenuasi (pelemahan) radiasi yang diterima di daerah tercemar atau daerah bersih.

Penulis : Iis Sofiati








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL