Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Dampak Sulfur Dioksida Gunung Merapi
26 Nov 2014 • Dibaca : 675 x ,

Gunung Merapi yang terletak di bagian tengah Pulau Jawa merupakan salahsatu gunung teraktif di Indonesia. Gunung ini memiliki siklus erupsi yang cukup singkat yaitu dua sampai lima tahun sekali sehingga dalam jangka waktu tersebut gunung ini akan meletus. Letusan teraktif yang direkam hingga saat ini adalah letusan di tahun 2006 dan 2010 yang lalu. Letusan merapi di tahun 2010 tercatat lebih dahsyat dibandingkan tahun 2006. Bahkan paling dahsyat dalam waktu 140 tahun terakhir. Puncak erupsi merapi di tahun 2010 terjadi pada awal November tepatnya tanggal 5 November 2010. Letusan gunung berapi mengeluarkan material vulkanik berupa lava (cairan magma dengan suhu tinggi), lahar (lava yang telah bercampur dengan batuan, air, dan material lain), abu letusan, awan panas, dan gas vulkanik. Gas vulkanik ini diantaranya terdiri dari karbon monoksida, karbon dioksida, sulfur dioksida, hidrogen sulfida, dan nitrogen dioksida.

Sulfur dioksida (SO2) akan mengalami peningkatan sangat tajam saat terjadi peristiwa gunung meletus. Begitu pun saat Merapi meletus November yang lalu. SO2 merupakan gas yang tidak berwarna dengan bau yang sangat khas yang berbahaya bagi kesehatan diantaranya merusak jaringan kulit, mata, dan saluran pernapasan. Peningkatan jumlah SO2 di atmosfer saat Merapi meletus bulan November 2010 terekam oleh satelit AURA seperti tampak pada gambar. Pada gambar terlihat gas SO2 yang berasal dari Gunung Merapi di Pulau Jawa bergerak hingga menutupi bagian timur samudera Hindia dengan konsentrasi sangat tinggi mencapai 5 Dobson Unit (DU) (1 DU= 2,69x1016 molekul/cm2).

Peningkatan jumlah gas SO2 di atmosfer akibat letusan gunung Merapi yang lalu berdampak pada perubahan temperatur di Indonesia. Data temperatur permukaan dari satelit AQUA menunjukkan temperatur udara Indonesia mencapai nilai terendah sepanjang bulan November 2010 pada tanggal 5 November dengan temperatur sekitar 26,4 C.Mengapa saat jumlah gas SO2 di atmosfer meningkat menyebabkan temperatur udara turun? Hal ini disebabkan gas SO2 yang ada di atmosfer dapat bereaksi dengan molekul-molekul air yang kemudian membentuk campuran air dengan gas SO2yang disebut sulfat aerosol. Sulfat aerosol ini dapat menyebabkan penurunan temperatur (global cooling) karena bersifat menghalangi sinar matahari yang akan masuk ke Bumi sehingga menurunkan jumlah energi panas yang dapat menghangatkan Bumi. Oleh karena itu, saat terjadi peristiwa gunung Merapi meletus, kita merasakan langit terlihat lebih mendung dan cuaca menjadi lebih dingin.



Penulis: Novita Ambarsari, M.Si







Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL