Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Misteri Hiatus dalam Pemanasan Global
03 Nov 2014 • Dibaca : 2510 x ,

Pemanasan global adalah kondisi di mana temperatur global secara konsisten mengalami kenaikan cukup drastis sejak 1980 hingga 2000. Para peneliti mempercayai kenaikan temperatur tersebut disebabkan oleh faktor antropogenik berasal dari aktivitas manusia yang melepas gas CO2 ke atmosfer. Kenaikan ini juga diyakini peneliti akan berlangsung terus hingga sekarang, meskipun kenaikannya dapat diperlambat oleh manusia melalui mitigasi pemanasan global.

Hiatus

Di luar dugaan, para peneliti dikejutkan oleh fakta ilmiah bahwa temperatur bumi sejak 2000/2001 hingga sekarang ternyata tidak mengalami kenaikan sebagaimana dugaan semula. Kondisi di mana temperatur bumi memiliki kecenderungan flat atau konstan inilah yang disebut dengan hiatus. Hiatus merupakan penemuan yang relatif baru dalam pemanasan global. Hingga saat ini, hiatus masih merupakan misteri yang belum terungkap penyebab dan mekanismenya.

Beberapa paper mengenai hiatus memperlihatkan bahwa kemungkinan besar faktor penyebab hiatus adalah adanya variasi puluhan tahunan atau disebut juga Inter-Decadal Pacific Oscillation (IPO) (Meehl dkk., 2013) yang berlangsung di Samudera Pasifik. Dalam paper terbaru yang ditulis Kosaka dkk. (2013); England dkk. (2014), besutan Nature, dijelaskan bahwa suhu permukaan laut di Samudera Pasifik saat ini mengalami pendinginan atau disebut juga mengalami fase negatif dalam variasimultidecadal di Samudera Pasifik.

Gambar 1 menunjukkan secara spasial temperatur global bumi saat terjadi periode hiatus. Tampak bahwa temperatur di Samudera Pasifik mengalami pendinginan antara -0.5oC hingga -1.5oC. Selain itu, pendinginan juga terjadi di Belahan Bumi Utara (BBU) dan Belahan Bumi Selatan (BBS). Hal yang berbeda ditunjukkan oleh Gambar 1 (b) ketika terjadi periode pemanasan global di mana terjadi peningkatan temperatur global bumi. Di Samudera Pasifik, peningkatan suhu terjadi antara 0.5-2oC.

Gambar 1. Perbedaan antara terjadinya periode Hiatus (a) dan periode pemanasan global dengan peningkatan temperatur (b) (Sumber: Meehl dkk., 2013)

Akibat Hiatus

Akibat periode hiatus ini, lebih dari 9 model ensembel NOAA (Amerika) mengalami kesalahan dalam memprediksi terjadinya El Nino pada tahun 2013 lalu. Salah satu dampak hiatus terhadap iklim di wilayah Indonesia ditunjukkan oleh suhu permukaan laut yang menjadi lebih hangat jika dibandingkan dengan Samudera Pasifik (karena Samudera Pasifik mengalami pendinginan).

Hal ini kemungkinan berdampak pada peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia, sehingga dalam beberapa tahun terakhir masih terjadi banyak hujan di musim kemarau. Karena durasi periode hiatus dapat berlangsung hingga 15 tahun (Meehl dkk., 2013), maka Indonesia perlu mewaspadai periode Hiatus ini. Sebagaimana diperlihatkan dalam hasil riset Kosaka dkk. (2013) bahwa secara global intensitas presipitasi mengalami kenaikan akibat sifat musim hujan yang semakin basah.

Penulis: Erma Yulihastin (Peneliti Klimatologi Bidang Pemodelan Atmosfer)









Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL