Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Banjir Bandang di Sentani
29 Mar 2019

Waktu dan lokasi kejadian

Banjir bandang melanda Kecamatan Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua pada Sabtu, 16 Maret 2019 pukul 19:30 WIT (Tribun News). Ada 9 kelurahan di Kabupaten Jayapura yang terdampak parah musibah tersebut. Di Distrik Sentani, terdapat lima kelurahan dan kampung yang terdampak parah banjir bandang tersebut, diantaranya Kelurahan Hinekombe, Kelurahan Dobonsolo, Kelurahan Sentani Kota, Kampung Yahim, dan Kampung Sereh. Kemudian Kampung Doyo Baru di Distrik Waibu, Kampung Kertosari di Distrik Sentani Barat, Kampung Yengu Dosoyo di Distrik Ravenirara, dan terakhir Distrik Depapre (Liputan 6). Banjir yang ketinggiannya berkisar antara 60 cm hingga 1 m ini, setidaknya mengakibatkan 113 jiwa meninggal, 107 luka berat, 108 luka ringan dan 94 orang hilang, tercatat hingga pada Sabtu, 23 Maret 2019 (Detik).

Berdasarkan informasi dari BMKG Jayapura, curah hujan pada hari Sabtu masuk dalam kategori lebat dengan nilai 50 mm/jam di Jayapura dan 42,5 mm/jam di Sentani (pukul 23:00-24:00 WIT). Pantauan selama kurun waktu delapan jam (17:00-24:00 WIT) menunjukkan akumulasi curah hujan di Sentani mencapai 235,1 mm, dengan rincian sebagai berikut (Tempo):

Informasi lain menyebutkan bahwa terjadi kerusakan lingkungan akibat penebangan pohon secara illegal di cagar alam gunung Cycloop dan adanya aktivitas di lereng gunung tersebut (Kompas).

Menanggapi informasi di atas, Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) LAPAN melakukan analisis kejadian bencana berdasarkan kondisi atmosfer yang terjadi pada saat sebelum dan ketika bencana banjir bandang terjadi. Analisis cuaca lokal dari hasil pengamatan institu dan pengamatan satelit, dikolaborasikan dengan kondisi iklim global dan hasil model prediksi cuaca dari SADEWA, dilakukan untuk mengetahui penyebab terjadinya bencana banjir tersebut. Hasil analisis ini diharapkan menjadi informasi bagi masyarakat maupun stakeholder untuk menghadapi bencana serupa.

 

Konfirmasi potensi hujan (indeks konveksi) dari Himawari 8-IR1

Berdasarkan indeks konveksi yang diestimasi dari data satelit Himawari 8-IR1, sel-sel konveksi di atas pegunungan Cycloop dan Doyo baru mulai terbentuk pukul 04:00 UTC (13:00 WIT) tanggal 16 Maret 2019 yang merupakan bagian dari sebuah sel konveksi besar yang memanjang dari Lautan Pasifik (Gambar 2 kiri). Nilai TBB (suhu puncak awan) juga mendukung adanya awan pada saat itu (Gambar 2 kanan). Di atas Papua nampak pula sel konveksi yang besar. Pada pukul 06:00 UTC (15:00 WIT) terbentuk sel konveksi baru di sebelah barat Sentani yang menyatu/bergabung dengan sel konveksi dari lautan Pasifik (Gambar 3 kiri), sama seperti diperlihatkan oleh TBB (Gambar 3 kanan). Pada pukul 21:00 WIT, dua sel konveksi yang berada di atas pegunungan Cycloop dan Doyo barat ini bergabung dengan sel konveksi di Papua barat menjadi sel konveksi yang sangat besar menutupi hampir seluruh wilayah Papua kecuali wilayah Kepala Burung. Indeks konveksi di atas pegunungan Cycloop dan Doyo baru sampai bagian selatan Doyo baru mencapai nilai paling tinggi (70) dibanding di wilayah lain (Gambar 4 kiri) atau ni;lai TBB kurang dari 210K (Gambar 4 kanan).

Pada pukul 01:00 WIT tanggal 17 Maret 2019 WIT, sel konveksi yang besar dengan indeks konveksi maksimum mulai terpecah menjadi beberapa sel konveksi kecil (Gambar 5a), kemudian pada pukul 03:00 WIT tanggal 17 Maret 2019 WIT indeks konveksi maksimum di atas Doyo baru, pegunungan Cycloop dan Doyo baru selatan turun menjadi 50, tetapi sel konveksi yang besar masih menutupi wilayah Papua (Gambar 5b). Di atas pegunungan Cycloop dan Doyo baru, sel konveksi masih bertahan sampai pukul 05:00 dini hari tanggal 17 Maret 2019. Pada pukul 06:00 tanggal 17 Maret 2019 kondisi di atas Doyo cerah, tidak ada sel konveksi (Gambar 5c). Sel konveksi di atas Doyo selatan masih aktif meski dengan indeks yang kecil (maksimum 40). Jika digambarkan dalam bentuk deret waktu, maka indeks konveksi di atas wilayah pengamatan seperti diperlihatkan pada Gambar 6.

Konfirmasi kejadian hujan dari GSMaP

Dari Global Satellite Mapping of Precipitation (GSMaP), hujan mulai turun sejak pukul 16:00 WIT dengan intensitas rendah 0.1 sampai dengan 5 mm/jam (Gambar 7). Pada awalnya ada beberapa kumpulan wilayah hujan yang terpisah, yaitu di atas Pegunungan Cycloop dan Doyo baru, sebelah selatan Doyo baru yang masih dalam kawasan Sentani barat serta di Papua barat. Wilayah hujan di atas pegunungan Cycloop, Doyo baru dan yang ada di sebalah selatannya akhirnya menjadi satu pada pukul 20:00 WIT, sehingga ada dua wilayah hujan yang besar di atas Papua, yaitu di atas wilayah pegunungan Cycloop, Doyo baru dan Papua barat dengan intensitas yang semakin tinggi (Gambar 8). Intensitas maksimum di atas Doyo sekitar 25 atau lebih mm/jam, sementara di wilayah lainnya hanya mencapai maksimum 15 mm/jam. Hujan dengan intensitas tersebut berlangsung sampai pukul 23:00 WIT (Gambar 9).

Berdasarkan Gambar 10 curah hujan di atas pegunungan Cycloop/Doyo baru cukup tinggi dengan akumulasi mencapai 160 mm selama 24 jam, pada 16 Maret 2019.

Kinerja SADEWA

Sistem terpadu informasi cuaca yang dimiliki PSTA yaitu SADEWA memberikan informasi sirkulasi angin, kadar uap air, awan tumbuh dan kejadian hujan sebelum, pada saat dan setelah kejadian banjir bandang Sentani. Sirkulasi angin yang ditunjukkan oleh model WRF dalam SADEWA cenderung konstan pada hari kejadian (16 Maret 2019). Ada intrusi massa udara dari lautan Pasifik barat menuju Papua (angin utara). Angin berubah menjadi angin barat dan bergerak sejajar pegunungan Bismarck (Papua tengah) dengan kecepatan > 10 m/detik seperti nampak pada Gambar 11. Kecepatan angin melemah menjadi kurang dari 5 m/detik ketika berhadapan dengan pegunungan Gauttier di Papua tengah dan pegunungan Cycloop di Papua utara. Pegunungan Gauttier dan pegunungan Cycloop menahan angin ini. Angin yang digambarkan berada pada ketinggian 850 mb atau sekitar 1500 m sedangkan pegunungan Gauttier dan Cycloop ketinggiannya lebih dari 1900 m.
Hasil prediksi uap air dari SADEWA menunjukkan bahwa Total Precipitable Water (TPW) di atas Papua relatif tinggi (0,20 g/kg atau kontur wilayah berwarna merah), seperti ditunjukkan pada Gambar 12.
 
 

Tidak jauh berbeda dengan yang diperlihatkan oleh indeks konveksi dan TBB, awan tumbuh dari Himawari 8-IR1 juga menunjukkan adanya pertumbuhan awan di atas Sentani/Doyo Baru pada tanggal 16 Maret 2019. Penggambaran awan tumbuh menggunakan 3 kriteria yaitu kriteria 1 menunjukkan awan tumbuh yang puncaknya belum mencapai tropopause, kriteria 2 menunjukkan puncak awan sudah mencapai tropopause, dan kriteria 3 menunjukkan puncak awan melewati stratosfer. Awan rendah mulai terbentuk pada pukul 16:00 WIT (Gambar 13 a dan b) sebelah utara Sentani/Doyo Baru, awan yang tinggi dengan puncaknya berada di tropopause mulai terlihat pada pukul 16:00 WIB atau 18:00 WIT (Gambar 13 c). Awan ini tumbuh semakin luas dan mencapai luas maksimum pada pukul 22:00 WIT (Gambar 13 g). 

 

Prediksi curah hujan yang dihasilkan WRF SADEWA pada Gambar 14, tidak memberikan hasil seperti curah hujan estimasi Himawari 8 –IR1. Curah hujan WRF sangat rendah jauh dibawah estimasi satelit Himawari bahkan observasi dari BMKG.

ANALISIS MEKANISME

BNPB, menyatakan  setidaknya ada tiga alasan yang memicu terjadinya banjir bandang di Sentani ini, yaitu karena faktor topografi (kemiringan lereng antara 40-90 derajat), faktor cuaca (curah hujan tinggi selama 5,5 jam) dan faktor antropogenik (alih guna lahan menjadi pemukiman dan fungsi lain) (Tribunnews). Menurut Jasyanto (Kepala Bagian Humas-LAPAN) penyebab banjir bandang di Sentani karena adanya curah hujan lebih dari 50 mm yang diestimasi dari satelit cuaca Himawari-8 (16-17 Maret 2019). Selain itu juga disebabkan oleh morfologi dan bentuk DAS yang curam, dan juga adanya indikasi kerusakan lahan di daerah aliran sungai (Detik).

Berdasarkan bukti-bukti ilmiah di atas, PSTA menyatakan bahwa banjir bandang Sentani dipicu oleh curah hujan yang tinggi di atas Sentani/Doyo Baru dan pegunungan Cycloop pada tanggal 16 Maret 2019. Ada periode dimana curah hujan berkurang, tetapi akumulasi curah hujan selama 24 jam menunjukkan nilai yang tinggi yaitu 160 mm/24 jam (Gambar 10). Adapun kontur topografi DAS yang curam dan gundulnya pegunungan sekitar lokasi membuat bencana ini menjadi semakin parah. Gundulnya pegunungan dan curamnya DAS menyebabkan run off permukaan menjadi tinggi dan menyebabkan banjir bandang di wilayah yang dilaluinya. Lalu mengapa curah hujan menjadi tinggi? Curah hujan tinggi pada bulan Maret merupakan kejadian alami. Pada bulan Maret matahari sangat dekat dengan ekuator sehingga suhu permukaan di ekuatorial termasuk di Papua cukup tinggi. Kelembapan udara yang tinggi di Papua bertambah tinggi pada hari kejadian dengan adanya suplai massa dari lautan Pasifik (Gambar 11). Pegunungan Guitter dan Cycloop bertindak sebagai barrier terhadap angin kencang dari Pasifik, sehingga angin kencang ini pecah dan melemah. Kecepatan angin yang terlalu besar merupakan hambatan untuk terjadinya konveksi termal, maka yang tersisa adalah panas dan kelembapan yang melimpah di atas Sentani. Panas dan kelembapan yang tinggi merupakan kombinasi yang tepat untuk terjadinya proses konveksi (Gambar 2 sampai dengan Gambar 6), awan yang tinggi (Gambar 13), dan hujan yang lebat (Gambar 7 sampai dengan Gambar 10). Bukti ilmiah menunjukkan adanya proses konveksi yang dimulai pukul 13:00 WIT kemudian hujan yang dimulai pukul 16:00 WIT, sebuah urutan proses yang logis yang diduga memicu banjir pada pukul 21:30 WIT.

ANALISIS GLOBAL

Terjadinya banjir bandang di Sentai, 16 Maret 2019, diduga terjadi akibat adanya peningkatan intensitas curah hujan sekitar 61.15 mm/jam diantara pukul 19.3-20.30 WIB. Ini terjadi akibat adanya vorteks di bagian Tenggara Papaua. Terjadinya vorteks ini memang bukan diakibatkan lewatnya MJO (Gambar 17a), tetapi diduga akibat meningkatnya SST Nino 3.4 yang pada tanggal 16 Maret 2019 sekitar 0.8, sementara posisi IOD pada saat itu masih berkisar normal sekitar 0.4. Yang perlu dicatat disini adalah bahwa faktor Monsun Asia juga cukup dominan, hal ini terlihat jelas ketika di plot data angin zonal yang melintasi Sentani di lapisan 850hPa atau sekitar 1.45 km di atas permukaan laut (dpl).

 

 
Penyusun:
 
Halimurrahman, Lilik Slamet S, Eddy Hermawan, Teguh Harjana, Ina Juaeni, Ibnu Fathrio, Farid Lasmono, Trismidianto, Risyanto, Anis Purwaningsih, Elfira Saufina
 

Sumber:

http://www.tribunnews.com/regional/2019/03/17/banjir-di-sentani-mulai-surut-tim-sar-masih-melakukan-evakuasi-dan-pencarian-korban

https://nasional.tempo.co/read/1186101/banjir-bandang-sentani-akibat-curah-hujan-sangat-ekstrem/full&view=ok

https://news.detik.com/berita/d-4480566/jejak-dahsyatnya-banjir-sentani-yang-tewaskan-113-orang

https://inet.detik.com/science/d-4479292/di-balik-terjadinya-banjir-bandang-sentani-dari-satelit

https://regional.kompas.com/read/2019/03/18/19373421/ini-penyebab-lain-banjir-bandang-di-sentani-jayapura-selain-curah-hujan

http://www.tribunnews.com/section/2019/03/18/kepala-bnpb-beberken-3-faktor-penyebab-banjir-bandang-di-sentani-papua?page=all




Others
Banjir Bandang di Sentani
29 Mar 2019
Waktu dan lokasi kejadian
Analisis Atmosfer Untuk Bencana Hidrometeorologis Di Sulawesi Selatan
11 Feb 2019
Eddy Hermawan, Teguh Harjana, Ginaldi Ari,Ina Juaeni, Ibnu Fathrio, Lilik Slamet,Farid Lasmono, Haries Satyawardhana, Risyanto,Tiin Sinatra, Anis Purwaningsih, Shailla Rustiana Bencana banjir dan…
CUACA TENANG SAAT KECELAKAAN PESAWAT LION AIR JT-610
07 Dec 2018
CUACA TENANG SAAT KECELAKAAN PESAWAT LION AIR JT-610
Analisis Dugaan Terjadinya Curah Hujan Esktrim Saat Bencana Longsor di Kec. Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, Senin 5 Maret 2018
08 Mar 2018
Gambar 1. Lokasi terjadinya longsor di Kampung Bonjot, Desa Buninagara, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, Senin 5 Maret 2018, sekitar pukul 06.00 WIB
Analisis Curah Hujan Ekstrim Terkait dengan Bencana Longsor di Desa Pasir Panjang, Kec. Salem, Brebes (Kamis, 22 Februari 2018)
26 Feb 2018
Gambar 1. Lokasi terjadinya longsor di Kec. Salem, Brebes tanggal 22 Februari 2018
Bencana Banjir di Jakarta serta Analisis Kondisi Atmosfernya
21 Feb 2017
Gambar 1. Curah Hujan Indonesia (Jakarta dalam lingkaran merah) dari Data GSMaP pada 21 Februari 2017 (03.00-06.00 WIB) http://sharaku.eorc.jaxa.jp/GSMaP_NOW/ Hujan deras yang terjadi sejak Selasa, 21…


Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL