Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Analisis Dugaan Terjadinya Curah Hujan Esktrim Saat Bencana Longsor di Kec. Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, Senin 5 Maret 2018
08 Mar 2018












Gambar 1. Lokasi terjadinya longsor di Kampung Bonjot, Desa Buninagara, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, Senin 5 Maret 2018, sekitar pukul 06.00 WIB

Duka kembali menyelimuti Ibu Pertiwi saat longsor kembali menerjang kawasan lereng di Kabupaten Bandung Barat, tepatnya di lereng gunung Bonjot, Desa Buninagara, Kecamatan Sindangkerta, Senin 5 Maret 2018, sekitar pukul 06.00 WIB. Walaupun longsor kali ini tidak separah kejadian longsor di Desa Pasir Panjang, Kecamatan Salem, Brebes, beberapa waktu lalu, namun tetap harus menjadi perhatian serius bagi instansi pemerintah terkait. Bencana longsor harus selalu diantisipasi terutama ketika musim hujan pada kawasan dataran tinggi dengan topografi miring.

Dugaan sementara longsor kali ini dipicu oleh hujan lebat sejak Minggu 4 Maret 2018 sekitar pukul 20.00 WIB yang berlangsung hingga Senin pagi (Sumber: Kepala Desa Buninagara Acep Hadiansyah dalam acara diskusi dengan “PR”). Nemun demikian, kejadian longsor jangan dipandang dari aspek curah hujan saja, namun harus dipandang dari berbagai macam aspek, baik meteorologi, geologi, lingkungan dan lainnya.

Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) mengkaji lebih jauh benarkah telah terjadi peningkatan intensitas curah hujan di kawasan tersebut sejak Minggu 4 Maret 2018 hingga Senin pagi 5 Maret 2018. Analisis terhadap berbagai data satelit dan juga model disajikan di bawah ini.

Gambar 2. Perbandingan data curah hujan GSMaP dan SADEWA sejak tanggal 2-4 Maret 2018

Dari Gambar 2 di atas, terlihat jelas adanya variasi curah hujan harian diawali sejak tanggal 2 hingga 6 Maret 2018. Intensitas curah hujan harian maksimum umumnya terjadi diantara pukul 16.00 s.d 20.00 WIB (09.00 s.d. 13.00 UTC), terutama dua hari sebelum terjadinya longsor sebagaimana terlihat pada Temperature Black Body (TBB) satelit Himawari pada Gambar 3 di bawah.

Gambar 3. Sebaran data HIMAWARI-8 (TBB) pada tanggal 2 Maret 2018

Gambar 4. Sebaran data HIMAWARI-8 (TBB) pada tanggal 3 Maret 2018

Gambar 5. Sebaran data HIMAWARI-8 (TBB) pada tanggal 4 Maret 2018

Jika dikaji dengan seksama, ternyata sebaran data TBB tersebut menumpuk di bagian selatan Jawa Barat, sementara di bagian utaranya relatif kosong (ditandai dengan warna putih polos). Ini menimbulkan dugaan bahwa kumpulan awan-awan penghasil hujan tadi, diduga berasal dari selatan Pulau Jawa, tepatnya Lautan Hindia. Selanjutnya, dilakukanlah analisis untuk arah dan kecepatan angin pada tanggal 4 Maret 2018, khususnya pengamatan jam 6.00-9.00 UTC (13.00-16.00 WIB) sebagaimana terlihat di Gambar 6.

Gambar 6. Intensitas curah hujan (mm/jam) hasil olahan SADEWA tanggal 4 Maret 2018, pukul 06.00-09.00 UTC (13.00-16.00 WIB)

Selain itu, analisis juga dipertajam dengan hadirnya SANTANU (Sistem Pemantauan Hujan Spasial) yang saat ini dikembangkan PSTA LAPAN Bandung. Hasilnya cukup signifikan ketika digunakan untuk memperkuat analisis kejadian longsor di atas sebagaimana terlihat di Gambar 7.

Gambar 7. Perbandingan antara curah hujan GSMaP dengan SADEWA dan juga kombinasinya dengan hasil pengamatan SANTANU pada tanggal 4 Maret 2018 antara pukul 13.00 hingga 14.00 WIB (lingkaran merah di panel bawah menandakan intensitas curah hujan yang terjadi berdasarkan nilai reflektasi (dBZ) yang diperoleh

Berdasarkan Gambar 7 di atas terlihat jelas adanya konsistensi SANTANU dalam memantau terjadinya kenaikan intensitas curah hujan yang terjadi Sindangkerta. Analisis difokuskan hanya tanggal 4 Maret 2018 saja, yakni satu hari sebelum longsor itu menunjukkan bahwa puncak intensitas curah hujan terjadi antara pukul 13.00 hingga 14.00 WIB. Hujan memang masih terus berlanjut, namun dengan intensitas yang rendah (kecil) hingga sekitar pukul 21.00 WIB. Yang ditampilkan di Gambar 7, hanyalah satu sample (contoh) SANTANU dalam memantau intensitas curah hujan dengan resolusi “tinggi”, sehingga difokuskan hanya antara pukul 13.00 hingga 14.00 WIB.

Berdasarkan analisis di atas dapat disimpulkan bahwa kejadian longsor di lereng gunung Bonjot, Desa Buninagara, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat pada Senin 5 Maret 2018, sekitar pukul 06.00 WIB, bukan disebabkan oleh curah hujan ekstrim. Ini dapat dilihat dari intensitas hujan, dimana untuk 5 dan 3 hari pengamatan sejak tanggal 1-6 Maret 2018 (lihat Gambar 2) tercatat curah hujan “sekitar” 120 dan 65 mm. Selain itu, tidak terlihat adanya penumpukan awan-awan konvektif penghasil hujan, juga tidak ditemukan adanya pusat (vortex) yang menyebabkan terjadinya pertemuan dua massa uap air. Intensitas curah hujan maksimum pun yang tercatat maksimum hanyalah sedikit di atas 10 mm (lihat Gambar 2). Jika kumpulan awan penghasil hujan pada tanggal 2 Maret datang dari arah Utara Pulau Jawa, maka setelah tanggal 3 Maret, kumpulan awan penghasil hujan lebat justru datang dari arah sebaliknya, yakni Selatan Pulau Jawa. 

Disusun oleh: Tim Analisis Bencana Hidrometeorologi Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer - LAPAN

Sumber gambar cover: Pikiran Rakyat




Others


Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL