Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Analisis atmosferik menjelang kejadian banjir di Garut tanggal 12 Oktober 2020
14 Oct 2020

Banjir di Garut pada tanggal 12 Oktober 2020 diduga akibat hujan lebat dan terus menerus. Hujan berturut-turut terjadi di Garut sejak tanggal 07 Oktober 2020 sampai tanggal 12 Oktober 2020 menyebabkan sungai-sungai di Garut terutama sungai-sungai besar Cilauteureun dan Cipalebuh di Kecamatan Pameungpeuk tidak dapat lagi menampung air hujan. Sungai meluap dan terjadilah banjir. Informasi yang dihimpun dari media Kompas menyebutkan daerah-daerah yang terdampak banjir antaralain yaitu Neglasari, Cikelet, Cibalong, Pameungpeuk dan Bungbulang. Dari informasi ini diketahui bahwa wilayah terdampak terbentang dari utara sampai selatan. Hasil analisis tim Reaksi Cepat dan Analisis Kebencanaan (TREAK) berbasis DSS SADEWA diketahui bahwa DSS telah memprediksi rentetan hujan yang terjadi di Garut tersebut. Pada tanggal 07 Oktober terjadi hujan ringan pada siang hari tepatnya di bagian tengah sampai selatan Garut (Gambar 1). Keesokan harinya (08 Oktober 2020) hujan terjadi pada siang sampai sore hari di Garut bagian tengah (Gambar 2 atas). Selanjutnya hujan turun pada tanggal 09 Oktober dengan durasi yang cukup panjang yaitu dari pukul 13:00 sampai 19:00 WIB dengan intensitas tinggi (Gambar 2 tengah). Pada tanggal 10 Oktober hujan turun pada pukul 14:00 sampai 15:00 WIB (Gambar 2 bawah). Pada tanggal 11 Oktober hujan turun siang hari pukul 12:00 sampai 15:00 WIB dengan intensitas rendah dan pada pukul 16:00 sampai 17:00 WIB dengan intensitas tinggi (Gambar 3). Melalui pola angin permukaan SADEWA teramati bahwa hujan di Garut disebabkan adanya konvergensi skala kecil yaitu pertemuan angin timur laut dari laut Jawa dan angin tenggara dari lautan Hindia (Gambar 4), massa udara yang dibawa kedua angin bersifat lembap, ini yang mendukung hujan turun dengan intensitas tinggi. Hujan yang terjadi di Garut bagian utara/tengah dan selatan terakumulasi dalam sungai-sungai di sebelah selatan seperti sungai Cilauteureun dan sungai Cipalebuh.

 

Gambar 1 Distribusi spasial hujan berdasarkan SADEWA pada tanggal 07 Oktober 2020

 

Gambar 2 Distribusi spasial hujan berdasarkan SADEWA pada tanggal 08 Oktober 2020, 09 Oktober 2020 dan 10 Oktober 2020

 

Lanjutan Gambar 2 untuk tanggal 09 dan 10 Oktober 2020

 

Gambar 3 Distribusi spasial hujan berdasarkan SADEWA pada tanggal 11 Oktober 2020

Gambar 4 Sirkulasi permukaan berdasarkan SADEWA yang menciptakan konvergensi di wilayah Garut

Data jenis tanah di Garut (Sumber: jabarprov.go.id) terdiri dari podsolik merah kekuningan, podsolik kuning dan regosol merupakan wilayah paling luas di bagian selatan, sedangkan di bagian utara didominasi oleh andosol sebagai jenis tanah yang baik untuk tanah pertanian. Tanah regosol dan podsolik bersifat gembur, sehingga mudah terjadi pengikisan. Podsolik lebih gembur dibandingkan regosol. Dengan demikian, bukan hanya curah hujan yang tinggi yang perlu diwaspadai di Garut tetapi juga bahaya longsor terutama di Garut bagian selatan, apalagi hujan masih terus turun setelah kejadian banjir.

Sejalan dengan informasi hujan dari SADEWA, data satelit GSMAP menunjukkan bahwa aktivitas konveksi di Neglasari dan Pameungpeuk cukup tinggi pada tanggal 10 Oktober 2020 ditandai dengan turunnya hujan pada tanggal tersebut (Gambar 5). Aktivitas melemah pada tanggal 11 Oktober 2020 dan aktif lagi kemudian pada tanggal 12 Oktober 2020. Di Cikelet terpantau intensitas curah hujan seperti ditunjukkan Gambar 6. Distribusi curah hujan spasial yang teramati dengan satelit GSMAP juga menunjukkan adanya hujan dengan intensitas ringan sampai tinggi di sekitar Pameungpeuk (Gambar 7 kiri). Kondisi yang sama juga ditunjukkan dalam asmc.asean.org (Gambar 7 kanan).

 

Gambar 5 Curah hujan di Neglasari dan Pameungpeuk sejak tanggal 10 Oktober 2020 sampai dengan 12 Oktober 2020

Gambar 6 Curah hujan di Cikelet berdasarkan GSMAP sejak tanggal 06 sampai dengan 12 Oktober 2020

Gambar 7 Distribusi curah hujan di Garut bagian selatan pada tanggal 11 Oktober 2020 berdasarkan GSMAP (kiri), dan berdasarkan asmc.asean.org (kanan)

Data lain melaui pemantauan satelit COSMIC-2 menunjukkan terjadi peningkatan uap air di sekitar Pameungpeuk sejak tanggal 06 Oktober 2020, teridentifikasi melalui gelombang Rossby Gravity yang bergerak dari timur ke barat (Gambar 8).

 

Gambar 8 Pergerakan gelombang Rossby Gravity dari timur ke barat seiring meningkatnya kandungan uap air di atas Garut (2 km) berdasarkan Hovmoller (kiri) dan distribusi spasialnya (kanan)

Penyusun: Tim Reaksi Analisis Kebencanaan (TREAK) PSTA




Others
Analisis Curah Hujan Ekstrim Terkait dengan Bencana Longsor di Desa Pasir Panjang, Kec. Salem, Brebes (Kamis, 22 Februari 2018)
26 Feb 2018
Gambar 1. Lokasi terjadinya longsor di Kec. Salem, Brebes tanggal 22 Februari 2018
Bencana Banjir di Jakarta serta Analisis Kondisi Atmosfernya
21 Feb 2017
Gambar 1. Curah Hujan Indonesia (Jakarta dalam lingkaran merah) dari Data GSMaP pada 21 Februari 2017 (03.00-06.00 WIB) http://sharaku.eorc.jaxa.jp/GSMaP_NOW/ Hujan deras yang terjadi sejak Selasa, 21…
Analisis Bencana Banjir dan Longsor di Kintamani - Bali
20 Feb 2017
Banjir disertai longsor yang terjadi di Desa Songan, Desa Sukawana, dan Desa Awan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali (115.25 – 115.50 BT dan 8.25 – 8.50 LS) pada…
Analisis Kejadian Banjir Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), 21 Desember 2016
23 Dec 2016
Beberapa media menginformasikan bahwa pada tanggal 21 Desember 2016 telah terjadi banjir bandang di Bima (8°22'28,42”LU, 118°44'5,07”BT), khususnya…
Observasi hujan di Bandung tanggal 24 Oktober 2016 dengan Radar LAPAN SANTANU
27 Oct 2016
Gambar cover disadur dari : www. nasional.tempo.coHujan mengguyur kota Bandung dan sekitarnya pada tanggal 24 Oktober 2016. Hujan ini mengakibatkan terjadinya banjir di beberapa titik / ruas jalan di kota…


Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL