Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Analisis Penyebab Bencana Banjir dan Longsor di Bengkulu
15 May 2019
Hingga tanggal 1 Mei 2019 Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kerusakan dan korban jiwa yang diakibatkan kejadian banjir dan longsor di Bengkulu yang terjadi pada 27 – 28 April 2019. Menurut BNPB sedikitnya 30 orang meninggal dunia dan 6 orang lainnya hilang, 554 rumah rusak berat, 60 rumah rusak sedang, dan 511 rumah rusak ringan.
 
Hujan deras yang terjadi pada Sabtu sore hingga Minggu pagi (26-27 April 2019) menyebabkan meningkatnya debit sungai yang berada di Bengkulu, sehingga banjir tidak dapat dihindari. Selain banjir, hujan juga menyebabkan terjadinya longsor di Bengkulu. Hal ini disebabkan kondisi lahan dengan topografi miring jika terkena hujan terus-menerus akan menjadi lebih lembab dan mudah bergeser hingga longsor tak dapat dihindari. Daerah yang terdampak banjir dan longsor terdapat di beberapa titik di Provinsi yang terkenal dengan bunga Raflesia Arnoldi ini. Terdapat ruas jalan yang tidak terhubung dikarenakan jembatan yang menghubungi dua tempat, putus diterjang ganasnya aliran air,seperti ruas jalan Kabupaten Kaur jalan Padang Leban menuju desa Air Kering, Bengkulu Selatan ruas jalan SP3 Kelutum menuju SP3 Pino dan jalan Nasional SP3 Rukis-Kaur terdapat jembatan yang terputus. Di Bengkulu Utara juga terdapat jembatan putus sehingga ruas jalan Tanjung Agung Palik dan Jalur Gunung Selan-Kuro Tidur tidak memiliki akses.
 
Jalan terputus juga tidak saja disebabkan oleh adanya jembatan yang putus, tetapi juga dikarenakan oleh banjir menggenangi ruas jalan dengan ketinggian yang melebihi tinggi kendaraan bermotor, seperti di Kota Bengkulu terdapat ruas jalan Tanjung Jaya, Tanjung Agung, Suka Merindu, Bentiring, Pasar Bengkulu, Nakau, Rawa Makmur, dan Kembang Seri yang terendam banjir. Hal serupa terjadi di Bengkulu tengah yaitu ruas jalan Lubuk Durian-Lubuk Sini. Longsor terjadi di Desa Batu Brian. 
 
Menanggapi informasi di atas, Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) LAPAN melakukan analisis kerjadian bencana berdasarkan kondisi atmosfer yang terjadi pada saat sebelum dan ketika bencana banjir terjadi. Analisis cuaca lokal dari hasil pengamatan institu dan pengamatan satelit, dikolaborasikan dengan kondisi iklim global dan hasil model prediksi cuaca dari DSS SADEWA, dilakukan untuk mengetahui penyebab terjadinya bencana banjir longsor tersebut. Hasil analisis ini diharapkan dapat menjadi kajian umpan balik bagi kinerja SADEWA dan masyarakat maupun stakeholder untuk menghadapi cuaca ekstrem di Indonesia.

Cuaca Disekitar Bengkulu

Pertumbuhan Awan

Berdasarkan SADEWA (Gambar 2) Memperlihatkan adanya sel konveksi yang terbentuk pada hari sabtu sore di atas wilayah Bengkulu bagian barat daya dan berkembang menjadi semakin kuat pada malam hari. Diduga sel konveksi inilah yang menyebabkan hujan terus menerus di atas Bengkulu. Sel konveksi ini selain kuat juga berlangsung selama ± 12 jam sehingga hujan yang turun menjadi berlebih. Sel konveksi ini dibangkitkan oleh adanya konvergensi (yang dilihat dari data awan tumbuh) di lautan sebelah barat daya Bengkulu yang kemudian membentuk awan dan hujan yang menyelimuti Bengkulu bagian barat daya. Selain itu siklon yang sedang terjadi di bagian barat daya Indonesia juga diduga memberikan kontribusi uap air kepada wilayah Bengkulu. Suplai uap air yang terus menerus terbawa dari Samudra Hindia mengakibatkan sel konveksi menjadi semakin kuat.

Prediksi Hujan SADEWA

Berdasarkan hasil prediksi dari SADEWA pada pukul 15.00 tanggal 26 April 2019 menunjukkan adanya hujan ringan disekitar utara Bengkulu, sedangkan pada pukul 20.00 sudah terlihat bahwa hujan akan menghilang, dan pada pukul 5.00 pada hari minggu tanggal 27 April 2019 sudah tidak hujan. Informasi dari SADEWA ini harus menjadi kajian bagi peneliti PSTA untuk mengembangan model prediksi cuaca yang lebih akurat lagi.

Pergerakan Angin (850 hPa)

Gambar 4 menunjukkan adanya pergerakan arah angin dari arah Samudra Hindia selatan P. Sumatra menuju utara P. Sumatra. Hal ini mempengaruhi transport uap air untuk konveksi yang terjadi di wilayah Bengkulu dan sekitarnya. Pergerakan angin di level 850 hPa mempengaruhi kandungan uap air sel-sel konveksi yang terbentuk di wilayah Bengkulu dan sekitarnya. Kemudian pergerakan angin pada tanggal 26 dan 27 April 2019 dipengaruhi oleh siklon yang terjadi di barat daya Indonesia (barat daya P. Sumatra, timur Samudra hindia). Fenomena siklon ini diduga menjadi salah satu sumber meningkatnya kandungan uap air di atmosfer wilayah Bengkulu dan sekitarnya, serta menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya banjir di wilayah Bengkulu dan sekitarnya.

Curah Hujan

Berdasarkan pengamatan curah hujan dari GSMaP yang disajikan pada Gambar 5 dan Gambar 6 dapat dianalisis bahwa terdapat sel siklon di timur laut dan barat daya Indonesia. Kedua siklon ini dapat mempengaruhi curah hujan di wilayah Kota Bengkulu dan sekitarnya sehingga intensitas hujan lebih lebat daripada kondisi normal.
Berdasarkan analisis pertumbuhan awan dan pergerakan angin yang dihasilkan dan ditunjukkan oleh SADEWA dengan analisis curah hujan dari GSMaP terdapat kesesuaian. Hanya curah hujan dari SADEWA dengan dari GSMaP yang belum bersesuaian sehingga memerlukan kerja keras dari peneliti PSTA untuk perbaikan model prediksi untuk SADEWA.
(MN and SA)



Others
Bencana Banjir di Jakarta serta Analisis Kondisi Atmosfernya
21 Feb 2017
Gambar 1. Curah Hujan Indonesia (Jakarta dalam lingkaran merah) dari Data GSMaP pada 21 Februari 2017 (03.00-06.00 WIB) http://sharaku.eorc.jaxa.jp/GSMaP_NOW/ Hujan deras yang terjadi sejak Selasa, 21…
Analisis Bencana Banjir dan Longsor di Kintamani - Bali
20 Feb 2017
Banjir disertai longsor yang terjadi di Desa Songan, Desa Sukawana, dan Desa Awan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali (115.25 – 115.50 BT dan 8.25 – 8.50 LS) pada…
Analisis Kejadian Banjir Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), 21 Desember 2016
23 Dec 2016
Beberapa media menginformasikan bahwa pada tanggal 21 Desember 2016 telah terjadi banjir bandang di Bima (8°22'28,42”LU, 118°44'5,07”BT), khususnya…
Observasi hujan di Bandung tanggal 24 Oktober 2016 dengan Radar LAPAN SANTANU
27 Oct 2016
Gambar cover disadur dari : www. nasional.tempo.coHujan mengguyur kota Bandung dan sekitarnya pada tanggal 24 Oktober 2016. Hujan ini mengakibatkan terjadinya banjir di beberapa titik / ruas jalan di kota…


Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL