Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


LAPAN: Angin Puting Beliung Duduki Peringkat Kedua Cuaca Ekstrem
10 Dec 2018

Angin puting beliung menduduki peringkat kedua bencana alam hidrometeorologis yang sering terjadi di Indonesia. Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) menyatakan, tiap tahunnya angin puting beliung mengalami peningkatan. Hal itu juga dicatat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 2017 sebanyak 30 persen.


Anggota variabilitas iklim 2018 Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) LAPAN, Erma Yulihastin, mengatakan tahun sebelumnya puting beliung sebagai bencana alam peringkat ketiga yang sering mengancam di Indonesia.


Erma mengatakan puting beliung dapat dikategorikan sebagai cuaca ekstrem karena memenuhi beberapa kriteria seperti tidak diharapkan terjadi (unexpected), tidak biasa atau sangat jarang terjadi (unusual), tidak diperkirakan sebelumnya (unpredictable), dan berbahaya (severe) karena menimbulkan dampak kerugian materi dan mengancam jiwa.
"Terdapat beberapa dugaan yang dapat menjelaskan mengapa frekuensi puting beliung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pertama, karena pemanasan atmosfer di permukaan yang semakin tidak merata terjadi terutama di wilayah perkotaan, efek dari alih fungsi lahan yang drastis dari lahan terbuka hijau menjadi lahan permukiman yang padat," kata Erma di Bandung, Senin (10/12/2018).


Erma melanjutkan, pola pemanasan yang tidak merata ini membangkitkan pola dan karakter angin permukaan, yang cenderung mengalami perbedaan pula sehingga membangkitkan tabrakan angin dan membentuk geser angin, sebagai awal pembentukan puting beliung. Dugaan yang kedua, terjadinya peningkatan intensitas dan frekuensi pembentukan awan Cumulonimbus di suatu wilayah.

Terbentuknya awan Cumulonimbus yang sangat cepat dapat memicu cuaca ekstrem, seperti badai guruh maupun puting beliung. Hal ini karena puting beliung pada umumnya terjadi, akibat pertemuan atau tabrakan antara dua angin yang memiliki karakter berbeda atau karena terjadinya geser angin (wind shear).
"Angin ini kemudian terangkat (updraft) dan diperkuat oleh kondisi ketidakstabilan udara di sekitarnya. Angin ini biasanya terbentuk di wilayah yang bertopografi dataran rendah atau daerah pantai, pada bulan-bulan periode transisi (dari musim kemarau ke hujan atau sebaliknya)," ujar Erma.


Aktivitas awan Cumulonimbus atau kumulus kongestus yang intens di suatu tempat juga perlu diwaspadai karena keadaan tersebut karena berpotensi membangkitkan puting beliung. Hingga saat ini, puting beliung masih sangat sulit diprediksi.
Hal itu dikarenakan puting beliung disebut sebagai small tornado, disebabkan kekuatan anginnya yang masih berada di bawah skala Fujita (skala yang biasa digunakan untuk mengukur kekuatan tornado berdasarkan magnitudo angin dan dampak kerusakan yang ditimbulkannya). Berdasarkan skalanya, angin puting beliung memiliki radius putar kurang dari satu kilometer dan masa hidup kurang dari satu jam.
"Sehingga kalau kita ingin memprediksi puting beliung menggunakan model cuaca numerik, diperlukan prediksi dengan skala spasial kurang dari satu kilometer dan skala waktu kurang dari satu jam. Untuk diketahui, model prediksi Sadewa-LAPAN yang selama ini dikembangkan memiliki skala spasial lima kilometer dan skala waktu per satu jam sehingga tidak mungkin dapat mendeteksi fenomena puting beliung," tutur Erma.
Namun Erma menjelaskan, tidak cukup hanya dengan meningkatkan reolusi skala ruang dan waktu model prediksi cuaca numerik. Potensi terjadinya cuaca ekstrem seperti puting beliung juga membutuhkan dukungan berbagai peralatan seperti radiosonde, balonsonde, radar cuaca, dan lainnya untuk menghitung indeks cuaca ekstrem yang diturunkan dari parameter-parameter cuaca seperti kecepatan angin, pola angin serta temperatur.

Selain itu, juga perlu menghitung berbagai indeks seperti CAPE (Convective Availabel Potential Energy), VGP (Vorticity Generation Potential), BRN (Bulk Richardson Number), EHI (Energy Helicity Index) dan SREH (Surface Relative Enviromental Helicity). Dari beberapa parameter tersebut tambah Erma, yang terpenting untuk mengidentifikasi awan badai penghasil puting beliung adalah CAPE, EHI dan SREH.


"Meskipun demikian, masyarakat tetap dapat melakukan pengamatan secara visual untuk mengetahui potensi terjadinya cuaca ekstrem," jelas Erma.
Salah satunya yaitu dengan melihat dari tanda seperti pagi hingga siang hari suhu panas terik, kemudian memasuki sore berubah cepat menjadi mendung kelabu dan merata, terdapat sirkulasi tertutup ditunjukkan oleh mendung kelabu yang dikelilingi oleh warna langit cerah atau terang di sekelilingnya. Perbedaan kontras antara mendung dan terang yang saling berdekatan, terdapat awan kelabu yang tampak tersusun berlapis secara vertikal menyerupai pohon.

Sumber: Kumparan. Sumber Gambar: News Okezone




Others
Membanggakan, Pelajar Indonesia Raih Best Paper di Seoul
20 Apr 2017
Wendi Harjupa tidak menyangka risetnya bisa juara dalam International Symposium of Weather Radar and Hydrology yang diadakan di Universitas Korea, Seoul, Korea Selatan, pekan lalu. …
Indonesia Perlukan Pakar Teknologi Mengukur Curah Hujan
18 Apr 2017
Tingginya curah hujan sering kali menjadi penyebab datangnya air bah yang mengakibatkan banjir secara tiba-tiba. Indonesia merupakan negara yang rawan bencana. Sehingga diperlukan, hadirnya seorang pakar teknologi pengukur curah hujan…
Musim Penghujan Agustus-November
18 Oct 2016
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, La Nina pada 2016 akan terjadi dalam skala moderat. Hal ini mempengaruhi intensitas hujan di seluruh wilayah Indonesia. Sekitar 92,7 persen wilayah Indonesia…
September-November Wilayah Jawa Barat Akan Diguyur Hujan Lebat
18 Oct 2016
Hujan lebat masih akan melanda sebagian wilayah Jawa Barat di musim kemarau basah ini. Pemerintah daerah diminta mengantisipasi kemungkinan terjadinya hujan yang ekstrem. “Jawa Barat kalau menurut prediksi kami belum…
Topan Nepartak Terjadi di Taiwan, Indonesia Kena Dampaknya
09 Jul 2016
TEMPO.CO, Bandung - Topan Super Nepartak yang menerjang Taitung, selatan Taiwan, Jumat, 8 Juli 2016, berdampak terhadap cuaca di Indonesia. Peneliti Klimatologi dari Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer Lembaga Penerbangan…


Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL